18 November 2021

Dito Ganinduto Harap RUU HKPD Mampu Tingkatkan Kemandirian Daerah

Berita Golkar - Ketua Komisi XI DPR RI Dito Ganinduto mengatakan, Rancangan Undang-Undang Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (RUU HKPD) mengatur secara komprehensif mengenai beberapa hal.

Antara lain yaitu peningkatan local taxing power, penyesuaian objek pajak daerah, pemberian opsi retribusi tambahan, pemberian insentif bagi pelaku usaha ultra mikro, reformulasi transfer ke daerah yang lebih berkeadilan, sekaligus akan memuat pengaturan yang menjembatani sinergi kebijakan fiskal pusat dengan kebijakan fiskal daerah.

Baca Juga: Miliki Beberapa Kelemahan, Misbakhun: Siklus Belanja Daerah Perlu Perbaikan

"Hal ini semakin dibutuhkan untuk menjaga kesinambungan fiskal dan perekonomian nasional di tengah perekonomian dunia yang penuh ketidakpastian. RUU HKPD ini diharapkan dapat semakin mengurangi ketimpangan baik secara vertikal maupun horizontal, mampu meningkatkan kemandirian daerah,

serta yang utama adalah dapat memberikan perbaikan yang signifikan terhadap pemerataan pelayanan publik yang memadai dan kesejahteraan masyarakat," ucap Dito disela-sela agenda kunjungan kerja Komisi XI DPR RI ke Kabupaten Badung, Provinsi Bali, Kamis (18/11/2021).

Ia menyatakan, Komisi XI DPR RI memandang perlu untuk melakukan penjaringan masukan dari seluruh pemangku kepentingan khususnya dari pemerintah daerah dan akademisi untuk lebih menyempurnakan pengaturan dalam RUU HKPD.

 

Baca Juga: Fraksi Golkar Dukung Rencana Gubernur Sutarmidji Berkantor di Daerah Terdampak Banjir di Kalbar

"Kita sudah melakukan sosialisasi dan pembahasan RUU HKPD ini dibeberapa daerah. Dan kita akan berkoordinasi lagi untuk menyelesaikan semua aspirasi dan masukan - masukan daerah terkait dengan Undang-Undang HKPD," ujarnya.

Dikatakannya, kebijakan desentralisasi fiskal menjadi alat pendanaan dalam penyelenggaraan fungsi dan kewenangan yang sudah diserahkan kepada pemerintah daerah, dengan tetap menjaga keselarasan dan kesinambungan fiskal nasional melalui implementasi UU 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, dan UU 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

"Dalam rentang pelaksanaan kedua UU tersebut selama lebih dari satu dasawarsa, telah terjadi dinamika perkembangan keadaan yang cukup signifikan dan sekaligus munculnya berbagai tantangan dalam pelaksanaan desentralisasi fiskal," ungkapnya.

Baca Juga: Soroti Diskriminasi Pengawasan, Nurul Arifin: Televisi Disensor KPI, Platform Sama Sekali Tanpa Sensor

Menjawab berbagai tantangan tersebut, sambung Dito, perlu disusun kebijakan baru yang berorientasi pada peningkatan kualitas belanja daerah, optimalisasi pencapaian kinerja daerah dalam meningkatkan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat melalui sinergi dan kolaborasi mendukung target pembangunan nasional.

"Serta peningkatan kapasitas perpajakan daerah melalui penyusunan RUU HKPD yang merupakan bentuk pengintegrasian dan penyempurnaan atas UU 33 tahun 2004 dan UU 28 tahun 2009," papar Dito. {dpr}

fokus berita : #Dito Ganinduto