21 November 2021

Jelang Pilpres 2024, Nurdin Halid: Di Golkar Tak Ada Karpet Merah, Hanya Karpet Kuning Airlangga

Berita Golkar - Golkar menetapkan akan mengusung Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartato sebagai calon presiden (Capres) 2024. Hal tersebut disebut oleh Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Nurdin Halid.

Keputusan tersebut diperjelas setelah sebelumnya Nurdin menyebut bahwa Golkar siap menerima Gubernur Jawa Tengah sekaligus politisi PDIP Ganjar Pranowo apabila tidak ditampung PDIP dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

“Enggak ada karpet merah di Golkar, adanya karpet kuning dan karpet kuning itu hanya untuk Airlangga, dan dari karpet lain itu nomor dua,” kata Nurdin dalam diskusi acara Satu Meja dikutip dari Kompas, Minggu, 21 November 2021.

Baca Juga: Ungkap Fakta Kelebihan Beban, Hamka Baco Kady Minta Poros Pantura Dibangun Dengan Beton

Melansir Kompas, Nurdin mengatakan, keputusan Golkar untuk mendukung Airlangga maju dalam Pilpres 2024 sudah diambil dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) 2021, Maret lalu.

Menyoal pernyataannya tentang Golkar siap menerima Ganjar, Nurdin kemudian meminta semua pihak memahami perpolitikan bangsa Indonesia yang menganut multipartai.

“Kalau di era multipartai, poros demokrasi kita tidak ada istilah bajak membajak. Karena partai itu perlu ada komunikasi politik, perlu ada kerja sama politik, perlu ada koalisi,” kata dia.

Era multipartai, kata dia, juga membuat calon-calon presiden yang diusung dalam pilpres tidak berasal hanya dari satu partai. Hal ini terjadi sejak era reformasi pada 1998. “Seingat saya, belum ada capres yang sejak era reformasi itu dari satu partai,” ujar dia.

Baca Juga: Jika Kader Golkar Jadi Capres, Beringin Bakal Menang Dan Kembali Kuningkan Jawa Barat

Nurdin kembali menegaskan bahwa tidak ada istilah bajak membajak tokoh dari partai politik lain untuk diusung dalam pilpres. Nurdin mencontohkan bagaimana dalam sejumlah pilpres sebelumnya, partai-partai politik berkoalisi untuk mengusung satu atau dua tokoh partai maupun non-partai sebagai capres-cawapres.

“Misalnya pada 2009, Ibu Mega berpasangan dengan Pak Prabowo. Kemudian 2014, Pak Jokowi berpasangan dengan Pak Jusuf Kalla. Pak Jusuf Kalla itu adalah kader Golkar, mantan Ketua Umum Golkar. Apa kita membajak? Bukan membajak, itu namanya koalisi bersama politik,” ujar dia.

Sebelumnya, sejumlah partai terlihat memperebutkan Ganjar Pranowo dalam Pilpres 2024, meski kontestasi masih tiga tahun mendatang.

Baca Juga: John Kenedy Azis Bantu Renovasi 20 Rumah Di Kota Pariaman Senilai Rp.400 Juta

Hal ini diawali dari pernyataan Nurdin Halid yang menyebut, partainya membuka peluang untuk mencalonkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pada Pemilihan Presiden 2024 jika Ganjar tidak dicalonkan oleh PDI Perjuangan.

Namun, ia tidak mengungkapkan apakah Ganjar akan dicalonkan sebagai presiden atau menjadi wakil presiden mendampingi Ketua Umum Partai Golkar yang akan diusung sebagai presiden.

“Nanti kalau misalnya Ganjar tidak mendapat tempat di partainya, ada Golkar terbuka. Apakah nomor satu atau nomor dua, itu soal nanti, kan Pak Airlangga tidak mungkin maju sendiri, pasti ada wakil,” kata Nurdin di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis, 11 November 2021.

Mantan ketua PSSI itu menuturkan, Golkar pun siap menyambut Ganjar sebagai rumah baru bagi kader PDIP tersebut. {terkini}

fokus berita : #Nurdin Halid