06 Januari 2022

Lembaga Riset, Pendidikan, dan Industri

Berita Golkar - Sudah biasa di kalangan masyarakat akademis Indonesia untuk siap bekerja di bidang apapun, Ketika menamatkan studi mereka di perguruan tinggi. Tak heran, kalau banyak lulusan program eksakta (teknik, matematika, ilmu pengetahuan alam) yang terjun menjadi eksekutif muda di perusahaan pemasaran.

Faisal H Basri, ekonom Universitas Indonesia, pernah mengatakan bahwa mahasiswa yang belajar di program Magister Manajemen lebih “dikuasai” oleh lulusan S1 eksakta, ketimbang S1 ekonomi. Bahkan, dari lima lulusan terbaik, empat orang berasal dari esakta.

Kita juga bisa membaca iklan-iklan di harian Kompas tentang betapa banyaknya lowongan pekerjaan di bidang pemasaran dan manajemen yang dikhususkan untuk lulusan teknik. Hanya human resources division yang membutuhkan sarjana psikologi dan hukum.

Baca Juga: Nurul Arifin: Fraksi Golkar Dukung Penuh Pengesahan RUU TPKS Jadi UU

Jarang fresh graduate ini yang langsung terjun ke bidang riset. Padahal, merekalah yang paling beramhisi untuk menyumbangkan sebuah produk dengan melakukan sejumlah inovasi, sebelum “terjarah” oleh bidang produksi, pemasaran, dan manajemen.

Justru yang paling banyak ditemukan dalam kolom-kolom opini yang tertulis di mass media adalah jabatan-jabatan “Ketua atau anggota lembaga penelitian anu dan anu” di bidang ilmu-ilmu sosial.

Kecuali sebagian kecil lembaga penelitian mapan seperti LPSEU Indonesia atau LP3ES, serta lembaga resmi seperti LIPI dan LPEM UI atau lembaga riset yang bersifat prototipe seperti CPDS dan CSIS, sebagian besar lembaga-lembaga penelitian yang ada hanyalah organisasi papan nama…

Oleh Indra J Piliang

Politisi Partai Golkar

fokus berita : #Indra J Piliang