13 Maret 2022

Dave Laksono: AS Harus Bantu Kepentingan Rakyat Afghanistan

Berita Golkar - Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Golkar, Dave Laksono berharap ada komunikasi yang baik di PBB dan Pemerintahan Amerika Serikat mengenai pencairan dana Pemerintahan Afghanistan yang dibekukan sebesar USD 7 miliar, yang tidak digunakan untuk kepentingan masyarakat Amerika Serikat, tetapi kepentingan para pengungsi Afghanistan dan masyarakat Afghanistan secara luas.

Hal ini dikatakan berkaitan dengan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden yang ingin merampas dana pemerintah Afganistan yang selama ini dibekukan separuh dari USD 7 miliar atau USD 3,5 milar aset bank sentral Afghanistan yang dibekukan dalam sistem perbankan AS.

“Bukannya kita ada pengakuan adanya pemerintahan Taliban, tetapi kita mendorong adanya bantuan kemanusiaan pada jutaan masyarakat Afghanistan yang sekarang hidup dalam kesulitan karena diblokade,” ujar Dave Laksono melalui keterangan, Minggu (13/3/2022).

Baca Juga: Airlangga Hartarto Tantang Mahasiswa Unhas Jadi Kiblat Pengetahuan di IKN Nusantara

Di Indonesia sendiri, ada lebih dari 7.000 orang pengungsi asal Afghanistan atau sebesar lebih dari 50% dari total pengungsi warga asing di Indonesia. Nasibnya pun tidak jelas hingga saat ini, karena Lembaga PBB, UNHCR terkesan kurang memberikan perhatian.

Dave meminta agar pemerintah tak tergesa-gesa untuk mengakui Taliban. Sebab pemerintahan Afghanistan sebelumnya masih ada. "Sebaiknya menunggu dulu, jangan tergesa-gesa mengakui, dikarenakan pemerintah sebelumnya masih ada. Walaupun de facto sudah tidak berkuasa," kata Dave.

Seperti diketahui, dilansir Associated Press, separuh dari USD 7 miliar (lebih dari Rp 100 triliun) atau USD 3,5 milar akan digunakan untuk kompensasi atau santunan bagi para korban tragedi bom 11 September 2001 di New York, bukan untuk membantu jutaan pengungsi Afganistan.

 

Baca Juga: Ahmad Doli Kurnia Beli Lukisan Armin Toputiri "Suara Mahasiswa" Seharga Rp.100 Juta

Sebuah sumber menyebutkan, hal ini dikarenakan Taliban dianggap bertanggung jawab terhadap serangan bom tersebut.

Afghanistan memiliki lebih dari USD 9 miliar cadangan, termasuk lebih dari USD 7 miliar cadangan yang disimpan di Amerika Serikat. Sisanya sebagian besar di Jerman, Uni Emirat Arab dan Swiss.

Jika Joe Biden benar-benar melakukan pengambilan dana tersebut, maka akan terjadi krisis ekonomi bagi rakyat di Afghanistan. Belum lagi persoalan 2,6 juta pengungsi Afghanistan yang tersebar di berbagai negara. Mereka terkatung-katung di negara yang ditumpanginya. {beritasatu}

fokus berita : #Dave Laksono