23 Maret 2022

Apresiasi Kinerja BI di Tengah Pandemi, Misbakhun Usulkan Penerbitan Whitepaper Untuk Referensi

Berita Golkar - Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Mukhamad Misbakhun mengapresiasi kinerja Bank Indonesia (BI) di tengah pandemi Covid-19.

Pasalnya, BI mengumumkan realisasi penerimaan Anggaran Tahunan BI (ATBI) sebesar Rp95,80 triliun sepanjang 2021. Adapun surplus anggaran BI mencapai Rp 26,12 triliun. Sedangkan realisasi total pengeluaran BI mencapai Rp69,68 triliun.

Surplus anggaran ini dapat dicapai BI ditengah upaya bank sentral membeli Surat Berharga Negara (SBN) dalam skema pembagian beban atau burden sharing sebagai program pemulihan ekonomi nasional ditengah gejolak akibat pandemi Covid-19. Padahal, BI juga sempat ragu akan keputusan burden sharing ini.

Baca Juga: Origenes Nauw: Partai Golkar Belum Tentukan Calon Gubernur di Pilkada Papua Barat 2024

“Bapak ini (Gubernur BI Perry Warjiyo) lebih canggih karena kinerja anggaran melebihi tahun-tahun sebelumnya, dari penerimaan operasional sampai dengan penerimaan kebijakan,” kata Mukhamad Misbakhun saat rapat kerja Komisi XI DPR RI bersama Bank Indonesia, Selasa (22/3/2022).

“Padahal pada saat proposal yang dulu mengenai BI akan mengalami shock, pemerintah harus melakukan top up penyertaan modalnya, tapi ini tidak terjadi kan,” ujarnya menambahkan.

Lebih jauh Politisi Fraksi Golkar ini mengusulkan agar jajaran dewan Gubernur BI diberikan penghargaan karena dinilai berhasil mengelola risiko mengenai burden sharing dengan pemerintah.

“Dewan Gubernur ini harus dikasih penghargaan, karena pemerintah sudah dapatkan uang, tidak jadi nyetor, ekonominya bagus,” ujar Misbakhun.

Baca Juga: Rakorda MPO Golkar se-Jateng, Ketua Harian Wihaji Tegaskan Pemanfaatan Medsos Untuk Marketing Politik

Ia pun berharap agar BI menerbiatkan sebuah whitepaper sebagai catatan sejarah untuk dijadikan referensi atau pembelajaran bagi generasi penerus di bank sentral.

Mengingat pandemi Covid-19 merupakan kejadian yang luar biasa dan belum pernah terbayangkan dampak keseluruhannya terhadap segala sektor, khususnya bagi perekonomian nasional.

“Sehingga generasi-generasi BI berikutnya mempunyai literatur bagaimana menghadapi situasi yang sangat berat,” tutur Misbakhun.

Untuk diketahui, BI juga melaporkan bahwa realisasi penerimaan kebijakan mencapai Rp67,56 triliun, terutama berasal dari pendapatan bunga SBN sebesar Rp38,04 triliun atau naik dari Rp19,2 triliun pada 2020.

Baca Juga: Dyah Roro Esti Ajak Generasi Muda Berpartisipasi Aktif di Dunia Politik

Selain itu realisasi pengeluaran operasional BI tercatat Rp11,18 triliun. Paling banyak untuk pos gaji dan penghasilan lainnya. Kemudian, realisasi pengeluaran kebijakan BI pada 2021 adalah sebesar Rp58,5 triliun.

Sebelumnya, Bank Indonesia menegaskan kerja sama BI dan pemerintah dalam skema pembagian beban atau burden sharing akan berakhir pada tahun 2022 ini.

“Untuk burden sharing, penegasan kembali, itu hanya berlaku sampai dengan akhir tahun ini sesuai dengan UU Nomor 2/2020,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Selasa (22/3/2022).

Dengan demikian, Perry menambahkan bahwa tidak akan ada lagi pembelian Surat Berharga Negara (SBN) oleh BI di pasar perdana pada 2023. {nkriku}

fokus berita : #Misbakhun