09 April 2022

Puji Ki Bagong Darmono Padukan Wayang Kulit Dengan Inovasi dan Teknologi, Anton Lami Suhandi: Tarik Minat Kaum Milenial

Berita Golkar - DPRD Jawa Tengah kembali menggelar dialog budaya dengan tema “Nguri-uri Budaya Bersama DPRD Jateng” di Padepokan Seni Bagonk Group Klaten, Kamis (31/3/2022). Dalam acara dialog itu menghadirkan Komisi E DPRD Jateng dari Fraksi Partai Golkar Anton Lami Suhadi, Wakil Bupati Klaten Yoga Hardaya dan dalang Ki Bagong Darmono.

Tak hanya dialog, dalang Ki Bagong Darmono juga menampilkan perform mendalang. Usai mendalang, anggota Komisi E DPRD Jateng Anton Lami Suhadi mengatakan bahwa sebenarnya dalang Ki Bagong Darmono berhasil mengkolaborasikan kesenian wayang dengan teknologi dengan menayangkan secara langsung setiap pementasan wayang di media sosial.

“Saya memilih kesenian tradisional wayang kulit karena mengandung filosofi dan banyak pitutur-pitutur yang baik. Dan memilih dalangnya Ki Bagong karena bisa menyajikan budaya tradisional bisa diterima semua kalangan,” ungkap Anton Lami Suhadi anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Jateng tersebut.

Baca Juga: Baru Bergabung, Sahrul Gunawan Langsung Didaulat Jadi Wakil Ketua Golkar Jawa Barat

Anton Lami Suhadi berkeinginan inovasi-inovasi dalam pementasan seni seperti yang dilakukan dalang Ki Bagong Darmono ini mampu menyedot minat kaum milenial agar terus dekat dengan budaya leluhur.

Dialog budaya dengan tema “Nguri-uri Budaya Bersama DPRD Jateng” di Padepokan Seni Bagonk Group Klaten, Kamis (31/3/2022) diselenggarakan oleh DPRD Jawa Tengah menghadirkan Komisi E DPRD Jateng dari Fraksi Partai Golkar Anton Lami Suhadi, Wakil Bupati Klaten Yoga Hardaya dan dalang Ki Bagong Darmono. ( foto hamas dprd jateng)

Dia menambahkan, kegiatan nguri-uri budaya yang diselenggarakannya melalui Humas DPRD Jateng tersebut bertujuan untuk melestarikan budaya Jawa. Dengan menghadirkan Ki Bagong, supaya anak muda tahu dan mengerti tentang wayang.

 

Baca Juga: Cyber Crime Marak, Christina Aryani Ingatkan Masyarakat Hindari Kejahatan Transaksi Digital

Dengan kreasi dan inovasinya mengemas kedalam bentuk modern sehingga dapat dengan mudah diterima oleh generasi muda. Namun tetap menjaga pesan yang disampaikan tidak keluar dari pakem cerita.

Lasmi juga mengapresiasi cara dalang Ki Bagong dalam mengkritik kebijakan pemerintah dengan guyonan segar (Guyon Waton) yang membuat pendengar tertawa. “Bisa nggasaki kebijakan pemerintah tapi dengan guyon waton. Tidak monoton sehingga tidak ngantuk. Dengan inovasi ini, agar tidak tergerus jaman,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Klaten Yoga Hardaya menyampaikan bahwa masyarakat di daerah yang dipimpinnya telah bertahun-tahun berkomitmen melestarikan budaya dengan rutin melakukan pementasan wayang kulit.

Baca Juga: Kunjungi Ponpes Baytul Mukarromah Bone, Andi Rio Idris Padjalangi Buka Puasa Bersama Yatim Piatu, Duafa dan Para Santri

“Dalam rangka nguri-uri wayang kulit sudah bertahun-tahun kami menyelenggarakan pergelaran wayang rutin setiap Selasa Kliwon di Gedung Pandanaran. Banyak dalang dari generasi muda diberikan kesempatan untuk tampil di sana,” ungkap Yoga Hardaya.

Namun Yoga mengatakan memang semenjak pandemic Covid-19 mewabah, kegiatan semacam itu belum terlaksana Kembali hingga saat ini. “Namun, karena adanya pandemi maka sementara dihentikan dahulu. Setelah pandemi akan kita mulai lagi,” sambungnya.

Yoga mengatakan telah banyak seniman kondang lahir di Klaten. Di antaranya Dalang Ki Narto Sabdo, Ki Anom Suroto, Ki Warseno Slank, dan banyak lainnya. Hal tersebut dikarenakan Klaten diapit oleh dua Kota Budaya yaitu Yogyakarta dan Solo.

Baca Juga: Airlangga Hartarto: Ekonomi RI Pulih, Neraca Perdagangan Surplus, Minat Investor Kian Tinggi

“Kami mendukung ada dewan kesenian juga, dalam rangka melestarikan budaya Jawa khususnya karawitan dan wayang kulit,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dalang Ki Bagong Darmono menyampaikan saat masa pandemi, pentas di luar masih terbatas. Hanya bisa mengadakan pentas virtual dengan dihadiri beberapa orang dan ditayangkan di kanal YouTube Bagonk Group Chanel.

Dia menyampaikan, alasan menggaet milenial karena ingin menciptakan generasi penerus. Dengan menampilkan di sosial media menciptakan penonton di kalangan generasi muda. Sehingga wayang tidak kondang kalangan tua saja. Sehingga bisa mengedukasi penonton untuk belajar menonton wayang yang sebenarnya.

Baca Juga: Dirikan Dapur Umum, PPK Kosgoro 1957 Bagikan Ratusan Nasi Kotak Untuk Warga Jabodetabek Selama Bulan Puasa

“Lakon ‘Kresna Tandang‘ kami ambil tema tentang kebijaksanaan. Karena masyarakat seniman saat ini sangat membutuhkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan dari semua lini baik pemerhati maupun pemerintah,” ungkapnya

Dia menambahkan, Klaten itu adalah kotanya Dalang. Terakhir tercatat ada sekitar 300 dalang. Dalang senior diwadahi di Dewan Kesenian dan dalang muda diwadahi Kopadi. {sigijateng}

fokus berita : #Anton Lami Suhadi