12 April 2022

Profil Ketua Umum Partai Golkar dari Masa ke Masa: Dari Djuhartono, Harmoko Hingga Airlangga Hartarto

Berita Golkar - Partai Golongan Karya (Golkar) merupakan sebuah partai politik di Indonesia. Organisasi itu mulanya bernama Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) yang didirikan pada 20 Oktober 1964. Meski mulanya tidak menggunakan kata partai, Sekber Golkar pertama kali mengikuti pemilihan umum (Pemilu) pada 1971 sebagai Golkar.

Mereka menjadi kekuatan politik yang berkuasa di pemerintahan pada 1971 sampai 1999. Golkar menambahkan kata partai sebagai syarat untuk bisa mengikuti Pemilu mulai 1999 sampai saat ini.

Sampai saat ini tercatat ada 11 orang yang yang menjadi ketua umum Partai Golkar. Berikut ini adalah profil singkat para ketua umum Partai Golkar:

Baca Juga: Paguyuban Warga Kejawen Bojonegoro Dukung Airlangga Hartarto di Pilpres 2024

1. Djuhartono

Djuhartono menjadi Ketua Umum Golkar pada 20 Oktober 1964 sampai 7 November 1967. Dia adalah purnawirawan TNI Angkatan Darat dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal. Djuhartono, Ketua Umum pertama Partai GolkarWikipedia Djuhartono, Ketua Umum pertama Partai Golkar

Dia merupakan salah satu penggagas pendirian Front Nasional yang mulanya didirikan untuk menggalang dukungan dalam operasi militer di Irian Barat. Saat itu mereka menampung puluhan organisasi di bawah payung Front Nasional. Setelah operasi militer selesai, Front Nasional lantas berubah menjadi Sekber yang menjadi cikal-bakal Golkar dalam dunia politik Tanah Air.

Setelah tidak aktif di Golkar, pada 1968 Djuhartono didapuk menjadi Anggota Kelompok Politik, Team Politik, Ekonomi, dan Sosial Panglima Angkatan Darat. Beliau wafat di Jakarta pada 10 Mei 1987.

Baca Juga: Andi Rio Idris Padjalangi Apresiasi TNI-Polri Amankan Aksi Demonstrasi Dengan Humanis dan Profesional

2. Suprapto Sukowati

Suprapto Sukowati adalah ketua umum kedua Golkar, menggantikan Djuhartono. Dia menjabat mulai 7 November 1967 sampai 9 Agustus 1972. Sama seperti Djuhartono, Suprapto merupakan seorang perwira tinggi TNI Angkatan Darat dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal.

Di masa kepemimpinannya, Suprapto membawa Golkar pertama kali mengikuti Pemilu pada 1972 dan menang dengan 34.348.673 suara atau 62.82 persen. Dia wafat di Jakarta pada 9 Agustus 1972.

3. Amir Murtono

Amir Murtono terpilih menjadi ketua umum Golkar pada 1973 sampai 1983. Saat itu dia menggantikan Suprapto yang wafat pada 9 Agustus 1972. Dia juga berlatar belakang militer dari kesatuan Angkatan Darat, dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal.

Baca Juga: Tampung Aspirasi Warga DKI Jakarta, Ahmed Zaki Iskandar Gelar Safari Ramadhan

4. Sudharmono

Sudharmono terpilih menjadi ketua keempat Golkar dalam Musyawarah Nasional (Munas) III pada 25 Oktober 1983. Dia memimpin Golkar sampai 1988.

Saat menjadi ketua, Sudharmono kerap berkeliling ke sejumlah pengurus cabang Golkar di daerah. Di masa kepemimpinannya perolehan suara Golkar meningkat dari 64 persen menjadi 72 persen pada Pemilu 1987.

Sudharmono juga berlatar belakang militer dari Angkatan Darat dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal. Dia menjabat sebagai Wakil Presiden kelima Republik Indonesia pada periode 11 Maret 1988 sampai 11 Maret 1993. Beliau wafat di Jakarta pada 25 Januari 2006.

Baca Juga: Meutya Hafid: Sesuai Konstitusi, Golkar Dukung Pernyataan Jokowi Tak Ada Penundaan Pemilu 2024

5. Wahono

Wahono menjadi ketua Golkar pada periode 1988 sampai 1993. Dia juga pernah menjabat sebagai Ketua DPR/MPR antara 1992 sampai 1997.

Dia juga berlatar belakang militer dari Angkatan darat dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal. Beliau wafat di Jakarta pada 8 November 2004.

6. Harmoko

Harmoko adalah kalangan sipil pertama yang menjadi Ketua Golkar. Dia menyandang jabatan itu mulai 24 Oktober 1993 sampai 11 Juli 1998.

Baca Juga: Nurdin Halid: Golkar Anak Kandung Reformasi, Tak Mungkin Setujui Penundaan Pemilu

Dia mengawali karier sebagai wartawan sampai terpilih menjadi Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat pada 1972. Pada Pemilu 1977, Harmoko ikut serta menjadi calon anggota legislatif dan terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Harmoko kemudian diangkat sebagai Menteri Penerangan pada 1983. Satu dasawarsa kemudian dia terpilih menjadi ketua Golkar. Harmoko wafat pada 4 Juli 2021 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta.

7. Akbar Tanjung

Akbar Tanjung menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar pada 11 Juli 1998 sampai 19 Desember 2004 menggantikan Harmoko.

Baca Juga: Kader Muda Golkar: Aparat Jangan Represif Hadapi Aksi Mahasiswa 11 April 2022

Di masa kepemimpinannya kata partai mulai ditambahkan di depan Golkar sebagai syarat mengikuti Pemilu 1999. Akbar Tanjung juga terpilih sebagai Ketua DPR RI periode 1999-2004.

8. Jusuf Kalla

Muhammad Jusuf Kalla adalah politikus yang berlatar belakang pengusaha yang menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar pada periode 19 Desember 2004 sampai 9 Oktober 2009, menggantikan Akbar Tanjung.

Dia juga menjabat Wakil Presiden ke-10 dan k-12 dalam dua periode, yaitu 20 Oktober 2004 sampai 20 Oktober 2009 dan 20 Oktober 2014 sampai 20 Oktober 2019.

Baca Juga: Jelang Buka Puasa, HR Khotibi Achyar Bersama Haji Beceng Center Gelar Baksos dan Bagikan Takjil di Duri Kosambi

9. Aburizal Bakrie

Aburizal Bakrie menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar periode 9 Oktober 2009 sampai 31 Desember 2014.

Ical, sapaan Aburizal, pernah bersaing dengan Wiranto, Prabowo Subianto, Akbar Tandjung, dan Surya Paloh dalam konvensi calon presiden Partai Golkar pada 2004. Namun, konvensi tersebut dimenangkan oleh Wiranto yang mendapatkan 315 suara.

Bakrie kemudian menjabat sebagai anggota Dewan Penasehat DPP Partai Golkar periode 2004-2009. Antara 2014 sampai 2016 sempat terjadi konflik internal dan dualisme kepemimpinan antara kubu Ical dengan kubu Agung Laksono.

Baca Juga: Bantah 3 Kota di Sumbar Intoleran, Sekretaris Golkar Sumbar Desra Ediwan: Kami Terbuka dan Toleran Terhadap Siapapun

10. Agung Laksono

Agung Laksono sempat terlibat konflik internal dan dualisme kepemimpinan dalam Partai Golkar dengan kubu Aburizal Bakrie pada 2014 sampai 17 Mei 2016.

Pangkal persoalannya adalah pada akhir 2014 terjadi dua Musyawarah Nasional berbeda, yakni yang digelar kubu Aburizal di Bali dan yang dilaksanakan oleh kubu Agung di Jakarta.

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia pada awal Maret 2015 menetapkan kepengurusan Partai Golkar yang dipimpin Agung yang sah. Namun, pada Oktober 2015, Mahkamah Agung menyatakan kepengurusan Partai Golkar hasil Munas di Bali yang dipimpin Aburizal adalah yang sah.

Konflik internal itu kemudian berakhir setelah Jusuf Kalla yang merupakan mantan Ketua Umum Partai Golkar dan saat itu menjabat Wakil Presiden turun tangan melakukan rekonsiliasi pada awal 2016.

Baca Juga: Adde Rosi Apresiasi Polresta Serang Kota Antisipasi dan Ungkap Tawuran Pemuda

Dualisme kepemimpinan itu selesai dengan menyelenggarakan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) pada 17 Mei 2016 dimana Setya Novanto terpilih sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar.

11. Setya Novanto

Setya Novanto menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar periode 17 Mei 2016 sampai 13 Desember 2017. Sebelum menjadi ketua umum, dia merupakan anggota DPR fraksi Golkar yang terpilih dan menjabat mulai 1 Oktober 1999 sampai 11 Desember 2017.

Pada 17 Juli 2017, Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Setya Novanto sebagai tersangka dalam kasus e-KTP. Pada 29 Maret 2018, Setya Novanto dituntut 15 tahun penjara oleh jaksa dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan.

Baca Juga: Kutuk Keras Pengeroyokan Ade Armando, Nurul Arifin: Usut Tuntas dan Adili Pelakunya

12. Airlangga Hartarto

Airlangga Hartarto menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar selama dua periode. Pertama antara 13 Desember 2017 sampai 4 Desember 2019 menggantikan Setya Novanto. Setelah itu, Airlangga terpilih kembali menjadi Ketua Umum DPP Partai Golkar dan menjabat sejak 4 Desember 2019 sampai saat ini.

Dia merupakan anak mantan Menteri Perindustrian Ir. Hartarto di masa Orde Baru. Kiprah Airlangga di partai berlambang pohon beringin itu bermula dari Ketua Barisan Muda KOSGORO 1957m yang merupakan organisasi sayap Golkar. Saat ini dia menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Kabinet Indonesia Maju (2019-2024). {nasional.kompas}

fokus berita : #Djuhartono #Harmoko #Airlangga Hartarto