29 April 2022

Partai Golkar, Islam Indonesia dan Menemukan Ketentraman Sosial

Berita Golkar - Dalam dua dekade terakhir ini, sejak pergantian rezim dibarengi dengan perubahan kondisi sosial masyarakat yang mulai masuk pada era transformasi digital, masyarakat tampak mengalami kegamangan kolektif.

Media sosial saban hari diisi oleh konflik, propaganda yang melibatkan hal sensitif semisal persoalan agama, suku, ras dan keributan antar golongan. Siapa yang harus disalahkan atas ekskalasi interaksi sosial masyarakat yang seperti ini? Buzzer? Rezim kekuasaan? Atau masyarakat?

Menunjuk hidung untuk menyatakan kesalahan memanglah hal paling mudah. Namun itu bukan hal solutif untuk mengembalikan kondisi sosial masyarakat seperti dahulu kala, tentram, tenang tanpa permisuhan yang menghabiskan akal sehat.

Berbicara penyebab, ada kecenderungan masyarakat Indonesia menjadikan media sosial dan interaksi mereka di dunia maya sebagai pelampiasan kehidupan nyata yang kurang beruntung.

Baca Juga: Kasus Mafia Minyak Goreng, Misbakhun: Jatuhnya Sabotase dan Terorisme Ekonomi Oleh Korporasi

Itu bukan penyebab tunggal, masih ada penyebab turunan lain seperti penegakan hukum yang berpihak, pengorganisasian pelaku media sosial untuk membahas isu tertentu dan banyak hal lain. Maka penting bagi kita bersama untuk membangun kesadaran kolektif tentang perlunya menjaga ketentraman sosial terutama di media sosial.

Ada juga faktor pemangku kekuasaan yang dianggap sebagai pembela minoritas lantas melakukan hal tidak adil kepada mayoritas. Ada kecacatan logika yang terjadi di sini, bagaimana mungkin mayoritas mendapat perlakuan tidak adil terhadap mayoritas? Logika ini tidak terjadi dalam dunia politik yang segalanya bergerak dinamis. Toh kehidupan sosial dan media sosial sangat berkaitan erat.

Meski begitu kami masih percaya, Islam Indonesia adalah Islam yang memegang prinsip Rahmatan Lil Alamin. Hingga saat ini, Islam Indonesia masih patut dijadikan contoh sebagai negara yang menjunjung tinggi demokrasi serta kebebasan berpendapat. Islam Indonesia juga menjadi contoh bagaimana penerapan agama dalam praktik kehidupan sosial.

Baca Juga: Fraksi Golkar NTT Desak Polisi Usut Tuntas Aksi Premanisme Terhadap Wartawan Fabi Latuan

Keberadaan Islam di Indonesia telah menjadikan negara ini hangat, berpayung kedamaian, beralas ketentraman. Puluhan tahun sejak merdeka, Islam Indonesia berusaha benar merangkul serta melakukan berbagai upaya konsolidatif dari gejolak sosial masyarakat.

Jikapun ada konflik dan itu mengatasnamakan Islam, maka patut pula dipertanyakan seberapa paham mereka tentang Islam sebagai ideologi, islam sebagai nilai, serta islam sebagai kelembagaan? Jangan-jangan mereka hanya berpegang pada Islam berdasar katanya, tanpa mau merujuk kata-kata lain yang membuat Islam mendapat julukan sebagai agama damai dan rahmatan lil alamin.

Lalu kembali ke pertanyaan mendasar, apa sebab iklim di media sosial begitu panas, terutama bila bicara tentang persoalan agama? Kita tidak bisa meminggirkan peran rezim kekuasaan yang selama ini dikenal sebagai tempat berlindungnya minoritas. Meskipun tidak tahu, apa kontribusi partai penguasa pada keberpihakan terhadap minoritas?

Baca Juga: Airlangga Hartarto Bangga Garut Jadi Produsen Kulit Unggulan Tanah Air

Dengan atau tanpa menjual minoritas sebagai komoditas politik pun negeri ini tetap seperti ini. Pendirian gereja susah di tempat mayoritas agama lain, pendirian masjid pun butuh izin yang rumit jika didirikan di tempat yang diisi oleh mayoritas agama lain.

Justru di sinilah indahnya Indonesia, walaupun kita beragama, untuk persoalan sosial kita tetap mengacu pada peraturan negara yang dibuat atas nama Tuhan dan orang yang beragama pula. Hingga sebenarnya hukum positif di Indonesia tidak bertentangan dengan agama apapun. Lalu apa yang diperdebatkan?

Rasa gerah tentu menyelimuti keadaan sosial kita dalam dua dekade terakhir ini. Alih-alih membicarakan mengenai pemberdayaan ekonomi masyarakat, kadang kita malah terdisrupsi dengan persoalan agama. Hal ini kami yakin sudah didesain, siapa yang mendesain? Jawabannya tak perlu dijabarkan, hanya perlu diperhatikan bahwa kondisi ini memuakkan.

Baca Juga: Survei WRC: Salip PDIP, Elektabilitas Partai Golkar Tertinggi Dengan 16,7 Persen

Partai Golkar sebagai partai poros tengah kami rasa memiliki solusi atas persoalan ini. Jika merunut pada hiruk pikuk gejolak sosial dan masalah SARA yang menjumputi Indonesia Partai Golkar relatif tenang menghadapinya. Kader-kader Partai Golkar bukan tidak bersikap, tetapi lebih mementingkan ketentraman sosial. Tidak pula membiarkan, jika dirasa sudah keterlaluan, pasti ada kader Partai Golkar yang berdiri di garda terdepan untuk berteriak lantang membela yang benar.

Maka dapat dipastikan, Partai Golkar merupakan gerakan politik yang berada di tengah, cocok dengan keberadaan Islam Indonesia yang relatif moderat. Di legislatif dan eksekutif, keberadaan kader-kader Partai Golkar pun menjadi pembeda dari jalannya pemerintahan. Di kala banyak orang ribut mengenai sentimen agama, Airlangga Hartarto tetap konsisten berbicara masalah ekonomi.

Beliau bukannya tidak pernah berbicara, hanya tema pembicaraan yang strategis tertutup oleh pembicaraan populis hasil jualan isu SARA dan sentimen sosial yang rendah. Maka ini seharusnya sudah menjadi jaminan bagi minoritas dan mayoritas yang rindu ketentraman sosial, Partai Golkar adalah tempat yang tepat.

Baca Juga: Buka Puasa Bersama 1.800 Anak Yatim Piatu di Kepri, Airlangga Hartarto Dianugerahi Bapak Angkat Yatim Piatu

Pun bagi masyarakat Indonesia yang menginginkan kemajuan negara tanpa harus berdebat Pancasilais atau tidak, Airlangga juga merupakan figur yang tepat untuk membawa amanat ini. Konsentrasi publik dan masyarakat sepenuhnya akan tercurah pada kemajuan ekonomi bangsa, tidak semata menjual isu SARA yang laku diobral tetapi membuat kita semua merasa saling berjarak. Beginilah minoritas harusnya dilindungi, tanpa jarak, membuat mereka merasa memiliki negara, yakni negara Indonesia. 

Oleh Rezha Nata Suhandi

Pemimpin Redaksi

fokus berita : #Rezha Nata Suhandi #Airlangga Hartarto