22 Mei 2022

Innalillaahi! Anggota Dewan Pembina Partai Golkar Fahmi Idris Meninggal Dunia

Berita Golkar - Innalillahi Wa Inailihi Rajiun, tokoh senior Partai Golkar, Fahmi Idris telah berpulang ke rahmatullah. Seluruh kader Partai Golkar berduka atas berpulangnya tokoh tiga zaman ini. Beliau, Fahmi Idris, wafat jam 10.00 wib di ICU RS Medistra Jakarta. Dan akan disemayamkan terlebih dahulu di Rumah Duka, Mampang Prapatan IV Nomor 20, Jakarta Selatan.

Nama besar Fahmi Idris sudah tidak perlu diragukan lagi, beliau adalah pengusaha, politisi, aktivis sekaligus negarawan. Banyak jejak beliau, Fahmi Idris,yang masih bisa dirasakan oleh masyarakat Indonesia, baik berupa karya ilmiah berupa buku ataupun kebijakan sejak ia menjabat sebagai menteri kabinet di beberapa periode pemerintahan.

Fahmi Idris lahir di Jakarta pada 20 September 1943 atau pada masa pendudukan Jepang. Fahmi Idris merupakan putra dari pasangan perantau Minangkabau yang memilih Jakarta sebagai tempat mengadu nasib dalam kehidupan.

Ayahnya Haji Idris Marah Bagindo, merupakan seorang pedagang yang mendidik anak-anaknya untuk taat beragama dan disiplin selayaknya orang minang pada umumnya. Satu hal yang membedakan adalah, Fahmi Idris tertempa oleh kerasnya lingkungan hidup di Jakarta, beliau menghabiskan masa kecilnya di daerah Kenari, Jakarta Pusat, daerah padat penduduk yang sangat heterogen dalam interaksi sosial. Jadilah Fahmi Idris kecil hingga remaja terkenal bengal dan suka berkelahi.

Namun segala kenakalan yang dilakukannya tidak pernah merepotkan keluarga dan orang tua. Kenakalan adalah hal biasa yang dilakukan oleh remaja dan anak seusianya. Lagipula, setelah beranjak dewasa Fahmi Idris menjadi pribadi yang tangguh, tidak kenal takut dan keras memegang prinsip akibat dari tempaan hidup masa kecil dan remajanya.

Fahmi Idris pun diterima di Universitas Indonesia, salah satu civitas akademika terbaik di Indonesia hingga kini. Ia menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada 1962 hingga 1969. Selama masa perkuliahan, Fahmi Idris tidak hanya menghabiskan waktu untuk belajar.

Kesehariannya yang dikenal suka berinteraksi sosial dengan siapapun membuatnya menggeluti dunia organisasi. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi pilihannya kemudian untuk berorganisasi. Selain HMI, Fahmi Idris juga sempat didapuk beberapa jabatan penting semasa kuliah, diantaranya adalah Ketua Senat Fakultas Ekonomi UI (1965-1966), dan Ketua Laskar Ampera Arief Rachman Hakim (1966-1968).

Pada tahun 1969 ia berhasil menamatkan pendidikannya di Universitas Indonesia. Banyak yang tidak tahu, semasa kuliah, di luar keaktifannya berorganisasi, Fahmi Idris tidak bisa menanggalkan jati diri pedagang yang diwariskan dari sang ayah yang kental darah minangnya.

Fahmi Idris memulai kariernya sebagai pengusaha pada tahun 1967. Dua tahun kemudian bersama para eksponen 1966, ia mendirikan PT Kwarta Daya Pratama. Jiwa pengusaha Fahmi Idris terus terasah seiring berjalannya waktu. Dunia organisasi tidak ia tinggalkan, persoalan bisnis terus ia majukan.

Pada tahun 1979, ia duduk sebagai direktur utama Kongsi Delapan (Kodel Group), sebuah perusahaan konglemerasi yang didirikannya bersama Aburizal Bakrie, Soegeng Sarjadi, Abdul Latief dan Pontjo Sutowo.

Pada era 1980-an, perusahaan tersebut merupakan konglomerasi yang cukup besar. Kodel mengelola usaha agrobisnis, perdagangan, perbankan, perminyakan, hingga hotel. Pada tahun 1988, Kodel membangun Hotel The Regent (kini Four Seasons Jakarta) di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan.

Pada tahun 1984, Fahmi Idris memutuskan untuk terjun ke politik praktis, ia melabuhkan hati ke Partai Golkar. Pertama kali bergabung dengan Partai Golkar, Fahmi Idris langsung ikut berkampanye bersama Ali Moertopo dan Abdul Latief di Sumatra Barat. Pada tahun 1998-2004, ia menjabat sebagai Ketua DPP Golkar di Jakarta.

Berbagai prestasi, kinerja mentereng, ulet dan disiplin yang masih dipegangnya sampai akhir hayat membuat Fahmi Idris dipercaya menduduki jabatan sebagai menteri tenaga kerja dan transmigrasi di tahun 1984 atau tahun yang sama ketika ia masuk ke lingkungan politik Partai Golkar. Presiden Soeharto kala itu melihat bahwa sosok Fahmi Idris adalah orang yang bisa diandalkan untuk memenuhi ekspektasinya akan pencapaian program pemerintah.

Pada tahun 2004, beliau sempat dipecat dari keanggotaan Golkar, karena menentang hasil Rapat Pimpinan Partai yang mendukung Megawati-Hasyim Muzadi sebagai calon presiden dan wakil presiden. Ketika itu, Fahmi malah mendukung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla.

Setelah pasangan ini terpilih, Fahmi kembali ditunjuk sebagai Menteri Tenaga Kerja, sebelum akhirnya di kocok ulang menjadi Menteri Perindustrian. Namanya direhabilitasi, dan ketua umum Jusuf Kalla menariknya kembali masuk partai. Selain duduk di berbagai macam jabatan profesi dan bisnis, kini ia juga menjabat sebagai Anggota Dewan Pembina DPP Partai Golkar di bawah Ketua Dewan Pembina DPP Partai Golkar, Aburizal Bakrie.

Mengenai karya ilmiah dan penulisan buku, Fahmi Idris terbilang rajin menulis. Beberapa karya bukunya pun digandrungi oleh kaum intelektual bangsa, sebut saja buku berjudul 'Selamatkan Uang Negara! dengan Tata Kelola Keuangan Negara yang Benar' (2012), Konflik Interpretasi Konstitusi: di Balik Berbagai Peristiwa Politik di Era Awal Reformasi (2015), Saudagar dalam Lintasan Sejarah Politik Indonesia (2015), buku semi biografi Aktivis Tiga Zaman (2015) yang dimotori Anies Baswedan dan banyak lagi karya ilmiah lainnya. 

Untuk urusan keluarga, Fahmi Idris juga terbilang pribadi yang layak diteladani. Fahmi Idris menikah dengan Kartini, putri seorang ulama terkenal asal Banjar, Hasan Basri. Dari pernikahannya ia dikaruniai dua orang putri Fahira Fahmi Idris dan Fahrina Fahmi Idris yang mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang pengusaha.

Fahira menjabat sebagai Ketua Himpunan Saudagar Muda Minangkabau, aktivis gerakan anti miras, sekaligus legislator DPD RI periode 2014-2019. Sedangkan Rina terpilih sebagai Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia.

Kartini Fahmi Idris binti Hasan Basri wafat pada bulan Februari 2014. Sepeninggal istri tercinta pada bulan Februari 2014 pada tahun 2015 Fahmi Idris meminang wanita karier Yeni Fatmawati.

Yeni merupakan perempuan profesional di bidangnya, ia berpengalaman sebagai direksi di beberapa perusahaan multinasional dan kini selain Founder & Managing Partner dari Konsultan Hukum Indonesia Consultant at Law (ICLaw) Diarsipkan 2018-10-21 di Wayback Machine.

Kini pada tanggal 22 Mei 2022, Fahmi Idris berpulang ke haribaan yang maha kuasa dengan meninggalkan banyak karya dan kiprah yang bisa menjadi teladan bagi generasi muda bangsa. Menurut penuturan keluarga, jenazah akan disemayamkan di TPU Tanah Kusir jam 13.00 wib. Selamat berpulang Bang Fahmi Idris, selamat beristirahat dalam damai.

fokus berita : #Fahmi Idris