22 Mei 2022

Bung Fahmi, Aktivis Sepanjang Masa

Berita Golkar - Bung Fahmi, aktivis mahasiswa. Ketua Senat Mahasiswa FEUI (1965-1966) dan Ketua Laskah Ampera Arif Rachman Hakim (1966-1968). Sebagai Ketua Laskar ARH, ia adalah pejuang menumbangkan Orla yg menghasilkan Orba, Orde Baru yg juga pada tahun 1974 ditentangnya pd peristiwa Malari.

Akibatnya, dia mendekam dalam penjara Orde Baru bersama Hariman Siregar, Rachman Toleng Sjahrir, Judil Herry, Theo Sambuaga dan sejumlah aktivis lainnya.

Meskipun ia bergabung dg Golkar pada tahun 1984, tetapi sikap kritisnya sebagai aktivis tak pernah padam. Sepanjang hidupnya Bung Fahmi adalah aktivis, yg selalu bersikap kritis terhadap pemerintah — pada era mana pun.

Baca Juga: Sekretaris Golkar Jateng, Juliyatmono: Kami Siap Kolaborasi Dengan PAN dan PPP di Jateng

Sikap yg tak pernah surut sebagai pendekar Ampera. Amanat penderitaan rakyat. Bang Fahmi atau di lingkungan aktivis biasa dipanggil Bung Fahmi.

Sebagaimana kita menyebut Bung Karno. Dan juga Bung Hatta yg makamnya bersebelahan dg Komplek Pemakaman Bung Hatta.

Sebagai mantan aktivis, Bung Fahmi selalu dekat dg aktivis mahasiswa. Pada awal berdirinya Koran UI SALEMBA, saya menemui Bung Fahmi di kantornya. Daerah Jatibaru Tanah Abang. Untuk memperoleh masukan utk pengembangan koran Kampus UI yg sudah hilang dari peredaran. Yaitu koran yg bernama Mahasiswa, dipimpin Emil Salim th 1955. Koran ini hanya terbit sekali, setelah itu tidak pernah terbit lagi.

Belajar dari pengalaman masa lalu itu, saya banyak menemui mantan tokoh2 mahasiswa dan tokoh pers alumni UI. Selain Bung Fahmi, saya menemui tokoh senior Emil Salim, Nugroho Notosutanto, Daoef Josoef, (sebelum jadi menteri P & K), PK Ojoeng dll.

Baca Juga: PDIP Mulai Khawatir Kehadiran Koalisi Indonesia Bersatu Yang Digagas Golkar Bersama PAN dan PPP

Bertemu dg Bung Fahmi memang agak beda. Meskipun tutur katanya halus, namun tegas dan kritis. Ia tetap aktivis, meskipun sudah menjadi pengusaha tergolong sukses.

Waktu pulang, Bung Fahmi memberikan sejumlah uang kepada saya. Saya menolaknya. Tampaknya dia tersinggung. “Kenapa? Ini ikhlas utk membantu kegiatan Anda yg pasti perlu dana”, katanya.

Saya bilang, jika nanti ada kegiatan saya akan hubungi Bang Fahmi. Ketika saya menjabat Ketua Umum IPMI (IPMI), ketika ada kegiatan ke luar kota yg memerlukan dana, saya selalu mendatangi rumah Bung Fahmi di Tebet. Tak jarang pada larut malam karena besok pagi harus berangkat.

Baca Juga: HUT Ke-70, Bamsoet Apresiasi Kiprah dan Kesuksesan Fadel Muhammad

Dengan senyumannya yg khas, tokoh Angkatan 66 selalu membantu kegiatan IPMI. Sesama pengurus DPP Golkar (98-2004) ada 2 peristiwa penting yg selalu mengingatkan dgn Bung Fahmi. Pertama, pada pagi hari 20 Oktober 1999, menjelang pemilihan Presiden RI oleh MPR.

Pada saat itu, DPP Golkar telah menetapkan Akbar Tandjung menjadi calon presiden. Namun beberapa pihak internal dan eksternal mencoba merintangi.

Sejak pagi, senior Golkar bergiliran datang ke Ruangan Ketua DPR-RI yg saat itu dijabat Ketua DPP Golkar itu. Antara lain, Baramuli, Ginanjar serta Fahmi Idris. Satu datang menyatakan dikungannya dan memberi semangat. Bung Fahmi, agak istimewa. Maklum mantan Komandan Laskar Ampera ARH.

Bersambung, setelah usai acara pemakaman tulisan ini dilanjutkan.

Oleh Antony Z Abidin

fokus berita : #Antony Z Abidin #Fahmi Idris