28 Mei 2022

IAS Hijrah Ke Golkar, Pengamat: Demokrat Sulsel Kehilangan Pendulang Suara

Berita Golkar - Pengamat politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar Sukri Tamma menilai bergabungnya Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dari Demokrat ke Golkar akan merugikan Demokrat Sulsel. IAS disebutnya merupakan vote getter atau figur pendulang suara.

"Tentunya apa yang dipunyai IAS, tidak lagi dipunyai Demokrat. Dari segi ketokohan, popularitas, sumber daya, jaringan. Kehilangan tokoh seperti IAS sebagai vote getter, tentunya akan menjadi kerugian bagi partai yang ditinggalkan," ujar Sukri kepada detikSulsel, Jumat (27/5/2022).

Terlebih lagi kata dia, di tengah banyaknya parpol yang saat ini sudah bersiap-siap menyambut Pemilu dan Pilkada 2024 mendatang, Demokrat Sulsel justru kehilangan tokoh sentralnya.

Baca Juga: Puji Manuver KIB Cerdas, Ketum Projo, Budi Arie Setiadi: Bikin Partai Lain Sulit Cari Koalisi

"Sebaliknya akan menjadi keuntungan bagi Parpol yang didatangi. Apalagi kalau IAS punya rencana maju di Pilgub, ini akan menjadi keuntungan bagi Golkar, karena mendapatkan figur yang bisa mendatangkan banyak dukungan masyarakat," tambahnya.

Disinggung mengenai alasan hengkang dari partai berlogo mercy itu, Sukri menganggap bahwa Partai Demokrat memang sudah tidak sejalan lagi dengan visi-misi dan juga kepentingan politik IAS kedepan.

"Kita harus melihat bahwa, seorang aktor politik ingin berada di partai yang sejalan dengan kepentingan dan target-target politiknya. Karena dia tidak mungkin meninggalkan parpol yang dia sukai dan masih sejalan dengannya," jelas Sukri.

Baca Juga: Airlangga Hartarto: Buya Syafii Maarif Negawaran dan Bapak Bagi Rakyat Indonesia

Dia juga mengungkap alasan IAS lebih memilih kembali ke Partai Golkar dibanding menerima pinangan partai politik lainnya dengan kajian matang. Salah satu sebabnya, karena Partai Golkar dianggap memiliki jaringan yang masih sangat dominan di Sulsel.

"Kedua, IAS yang punya niat maju di Pilgub, tentu butuh kendaraan Parpol yang kira-kira punya potensi untuk mendorongnya maju. Paling utama juga, karena banyak kader Golkar yang punya jabatan penting di Sulsel, misalnya kepala daerah," jelasnya.

Terakhir, Sukri menyebut keluarnya IAS dari Demokrat, cepat atau lambat bakal diikuti oleh loyalisnya di Partai Demokrat. "Kalau patronnya orang atau aktor, maka di mana aktornya itu pergi, maka dia juga akan ikut. Makanya tinggal menunggu waktu, kalau patronnya IAS, maka akan ada kader atau pengurus partai Demokrat yang eksodus atau juga keluar dari Demokrat," tutup Sukri. {detik}

fokus berita : #Sukri Tamma