07 Juni 2022

Airlangga Hartarto Sambut Baik Proyek Hidrogen Hijau Indonesia-Australia

Berita Golkar - Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan bahwa kerjasama bilateral antara Indonesia dengan Australia bisa mempercepat transisi energi sekaligus memperkuat mitigasi dan pengurangan emisi.

Hal ini, kata dia, seiring dengan keseriusan pemerintah untuk mewujudkan komitmen Net Zero Emission (NZE) pada 2060. “Kita sekarang perlu mengambil tindakan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan bersama dengan membuka miliaran investasi energi bersih,” jelas Menko Airlangga, dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Selasa (7/6).

Airlangga menjelaskan, roadmap NZE pertama di Indonesia akan segera diluncurkan, didukung oleh International Energy Agency (IEA) Clean Energy Transition Program yang didanai Australia.

Baca Juga: Ini Alasan Warga Tambak Wedi Juluki Blegur Prijanggono Malaikat Tanpa Sayap

Berdasarkan analisa IEA, perpindahan Indonesia ke jalur NZE dapat menarik tambahan investasi bersih sebesar 2 miliar dollar AS per tahun hingga 2030, dan menciptakan lebih dari 900 ribu lapangan kerja.

“Proyek dengan dampak global dan regional harus menjadi inti dari jalur Indonesia menuju NZE. Kami menyambut baik proyek hidrogen hijau Australia di Indonesia untuk siap tahun ini. Solusi cerdas yang dipimpin oleh industri juga harus mendorong upaya bersama menuju rantai pasok yang lebih tangguh,” ujar Menko Airlangga.

Sementara itu, Australia juga dapat mempertimbangkan untuk berkontribusi pada Mekanisme Transisi Energi Asian Development Bank (ADB) yang baru antara lain mempercepat pilot project Carbon Capture, Utilizaton and Storage (CCUS), dan pemanfaatan amonia di pembangkit listrik tenaga batu bara.

Baca Juga: Ketua Golkar Garut, Euis Ida Wartiah Optimis Pemilu Tahun 2024 Sesuai Target

Menurut Menko Airlangga, kedua negara dapat bermitra dalam mengembangkan rencana pekerjaan ramah lingkungan untuk memberdayakan masyarakat, sehingga dapat mengambil peluang dalam ekonomi energi baru. Namun demikian, tahap mengurangi penggunaan bahan bakar fosil tidak dapat dicapai tanpa mengamankan solusi alternatif dan memberdayakan masyarakat.

“Dalam hal ini, Australia dapat bermitra dalam pengembangan keterampilan, semisal dalam beasiswa, pelatihan, pertukaran, akses visa, dan pengakuan keterampilan bersama. Kami mengapresiasi berdirinya Monash University di Indonesia dan mengharapkan lebih banyak lagi Kemitraan Universitas Australia di Indonesia,” papar Airlangga.

Selain itu, sektor manufaktur yang maju adalah salah satu kunci dalam kerja sama ekonomi kedua negara di bawah Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). Ke depannya, kedua negara juga menyambut baik kerja sama dalam ekspor otomotif.

Baca Juga: Projo Hadiri Silatnas KIB, Ace Hasan: Tidak Ada Kaitan Dengan Ganjar Sama Sekali!

“PM Anthony, kami mengharapkan dukungan Anda untuk membantu memobilisasi dan membuka lebih banyak investasi lagi dalam energi bersih baru, yang akan mampu mendorong transformasi produktivitas, inovasi, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi,” pungkas Airlangga. {ekbis.rmol}

fokus berita : #Airlangga Hartarto