10 Juni 2022

Meutya Hafid: Politisi Harus Mampu Berkomunikasi Efektif di Ruang Digital

Berita Golkar - Tantangan politik dan keberlangsungan Demokrasi pada Pemilu 2024 dipastikan berbeda dibanding sebelumnya, lantaran perkembangan era digital yang semakin pesat. Fenomena komunikasi politik yang tak terbatas pada ruang fisik ini menjadi tantangan tersendiri bagi setiap aktor politik untuk bisa melakukan inovasi dalam dunia politik di Indonesia.

Demikian mengemuka dalam webinar Pendidikan Politik Beradaptasi dengan Teknologi Digital bertajuk, Jelang Pemilu 2024: Pola Komunikasi Politik di Era Digital, yang diselenggarakan di Jakarta, Kamis (9/6/2022).

Webinar via zoom yang diselenggarakan Sekolah Politik dan Komunikasi Indonesia bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) yang diikuti 100 pemuda dan mahasiswa dari seluruh Indonesia.

Baca Juga: Minta Publik Jangan Berlebihan Soal Kenaikan Tarif Candi Borobudur, Luhut: Jangan Jadi Bangsa Nyinyir

Ketua Komisi 1 DPR, Meutya Hafid hadir sebagai keynote speaker, serta pembicara Guru Besar Ilmu Komunikasi, Prof Widodo Muktiyo dan Founder Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio.

Menurut Meutya Hafid, era digital yang ditandai dengan berkembang pesatnya internet telah melahirkan "ruang publik baru" yang dikenal dengan sebutan ruang digital. "Dalam arti politik, ruang publik merupakan salah satu bentuk representasi politik," ujarnya.

Politisi perempuan Partai Golkar itu mengungkapkan perkembangan dunia digital yang terus mengalami perkembangan saat ini, politisi harus mampu berkomunikasi politik yang efektif namun tetap mempertahankan nilai serta kebenaran yang pada akhirnya dapat mencerdaskan bangsa.

Baca Juga: Ridwan Bae Bakal Perjuangkan Penambahan Anggaran PUPR Prioritas Nasional dan Berbasis Masyarakat

Di tempat yang sama, Guru Besar Ilmu Komunikasi, Prof Widodo Muktiyo mengatakan meski media bagian pendidikan politik dari sebuah proses transfer of values untuk mempengaruhi menggerakkan keterlibatan audiens terhadap kepentingan dan kekuasaan politik, publik kata Widodo juga dituntut untuk terlibat atau berpartisipasi aktif dalam menerima segala informasi dari media.

“Komunikasi publik yang baik serta menciptakan opini publik yang positif diharapkan dapat mengedukasi masyarakat untuk jauh lebih bijak dalam mengkonsumsi informasi publik khususnya terkait isu-isu pemerintah yang disajikan oleh media,” tambah Widodo.

Sementara itu, Hendri Satrio, menilai media sosial adalah media yang memiliki kemampuan untuk menentukan apa yang kaum muda suka. "Banyak hal yang bisa dieksplorasi dari platform jejaring tersebut dan terdapat momentum yang bisa dimanfaatkan oleh kaum muda untuk melesatkan karir mereka," kata Hendri Satrio.

Baca Juga: Waketum DPP Golkar, Ahmad Doli Kurnia: Capres Kami Pak Airlangga Hartarto

Berkaitan antara momentum dengan karir seseorang, menurut Hendri, hal tersebut tidak hanya berfungsi pada seorang politisi, namun bisa juga hadir bagi kalangan profesional. “Jangan sampai menjadikan media sosial hanya sebagai media pencitraan. Media sosial kalau sampai salah digunakan dapat menjadi boomerang yang menyebabkan kerugian di masa mendatang,” ujarnya. {jurnas}

fokus berita : #Meutya Hafid