15 Juni 2022

Mengenal Sosok Lodewijk Friedrich Paulus, Legislator Partai Golkar Asal Lampung

Berita Golkar - Bernama Lodewijk Friedrich Paulus atau Lodewijk Paulus dan lahir di Manado pada 27 Juli 1957, banyak yang langsung menyimpulkan jika pemilik nama tersebut merupakan non muslim. Nyatanya Friedrich Paulus, merupakan figur muslim yang taat. Lodewijk Paulus memang merupakan seorang mualaf, ia lahir dari keluarga non Islam, hingga dinamai Lodewijk Friedrich Paulus.

Lodewijk, dikutip dari tribunnews.com menjelaskan bagaimana perjalanannya hingga kemudian melabuhkan keyakinannya pada agama Islam. "Saya menjadi mualaf (berpindah agama menjadi Muslim) ketika (berpangkat) mayor," jawab Lodewijk, mengawali kisah menjadi mualaf dari agamanya terdahulu.

Menurut Lodewijk, dorongan untuk memeluk agama Islam berawal kedekatannya dengan seorang gadis Muslim yang kala itu ditaksirnya dan kini telah menjadi pendamping hidup setia di sisi Lodewij Paulus, Meria Agustina.

Baca Juga: Airlangga Hartarto Sebut Teknologi, Market Hingga Green Financing Jadi Komponen Penting Transisi Energi

Hubungannya yang semakin dekat dan menjejaki tahap keseriusan, Lodewijk Paulus mencoba berbicara dengan orangtuanya untuk meminta pertimbangan. Terlebih lagi ia menjalani hubungan dengan perempuan yang berbeda agama. Atas dasar dorongan cinta dan keinginan kuat dari dalam dirinya Lodewijk Paulus kemudian memberanikan diri untuk menceritakan masalah sekaligus keinginannya kepada sang ibu.

Masalah yang dimaksud adalah hubungan berbeda agama, sementara keinginan yang dimaksud adalah berpindah agama. Keinginan tersebut muncul bukan sekadar sarana agar bisa menikahi perempuan yang menjadi pujaan hatinya, tapi tekad untuk berpindah agama sebenarnya sudah terpatri sejak lama karena keseriusannya untuk mencari kesejatian hidup dengan cara mempelajari agama Islam.

Ketika hal itu disampaikan kepada seorang ibu yang merupakan kerabat dekatnya, perempuan yang dihormatinya itu terang-terangan menolak, dan mengatakan kalau Lodewijk Paulus tidak memiliki pendirian. "Saya selalu dikatakan tidak memiliki pendirian, tidak tegas, dan seterusnya," katanya tanpa bersedia mengungkap siapa yang dimaksudkan dengan ibu itu.

Baca Juga: Ahmad Doli Kurnia: Anggaran Pemilu Rp.76,6 Triliun Lebih Baik Diefisiensikan

Perlahan, semakin banyak mendapat pertentangan, semakin intens Lodewijk Paulus belajar dan bersentuhan dengan agama Islam. Tidak hanya kerabat, keluarga pun menolak dan menentang pilihan yang hendak diambil Lodewijk Paulus untuk masuk agama Islam. "Saya (kalau memeluk Islam) dikatakan akan masuk neraka," katanya.

Selain itu, dia menambahkan, jika berpindah agama menjadi Islam, bisa menghambat kariernya di militer. Apalagi, ketika itu, atasannya juga nonmuslim.

Banyak alibi dan isu yang disebarkan untuk membuatnya berpikir seribu kali, namun Lodewijk Paulus tak kehilangan asa. Hidayah sudah berada di ujung rambutnya, hanya tinggal selangkah lagi masuk ke hatinya. Beragam ancaman dan tentangan itu tak menyurutkan langkah Lodewijk untuk menjadi seorang Muslim, yang dipeluknya sekitar dua tahun sebelum dia menikah.

Baca Juga: Survei Terbaru Charta Politica, Elektabilitas Golkar Alami Lonjakan Kenaikan

Dalam perjalannya setelah memeluk agama Islam, Lodewijk Paulus mengaku bersyukur karena banyak nikmat dan kemudahan yang diperoleh, termasuk perjalanan kariernya di militer. Sekaligus menunjukkan apa yang dikhawatirkan orang lain ketika dia akan berpindah agama, tidak terbukti.

Perjalanan Karir Militer

Lodewijk Paulus merupakan seorang purnawirawan, ia tumbuh dalam lingkungan militer sebagai prajurit TNI Angkatan Darat. Setelah menamatkan pendidikan sekolah menengah atas pada tahun 1976 di SMAN Palu, Lodewijk Paulus langsung mendaftarkan diri ke akademi militer (Akmil). Ia diterima dan lulus dari akademi militer serta dilantik sebagai TNI Angkatan Darat pada tahun 1981.

Setelah resmi menjadi TNI-AD Lodewijk Paulus menjalani kursus singkat dalam bidang infanteri selama beberapa bulan. Pasca selesai kursus infanteri, Lodewijk Paulus ditempatkan dengan kesatuan Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha, sekarang Kopassus), di sana Lodewijk Paulus diberikan jabatan sebagai komandan pleton.

Baca Juga: Minimalisir Kelelahan Penyelenggara Pemilu, Agung Widyantoro: KPU Persiapkan Matang Pemilu 2024

Sejak saat itu, kariernya di Kopassus menanjak, mulai dari komandan sub tim, tim, batalyon, dan grup, hingga ia diangkat sebagai Komandan Detasemen Khusus 81 pada tahun 2001. Sempat pula menjadi Asisten Operasi Kepala Staf Daerah Militer (Asops Kasdam) dari tahun 2003 hingga 2005 dan Komandan Resimen Induk Daerah Militer (Danrindam) dari tahun 2005 hingga 2006 di Kodam Bukit Barisan, Sumatera Utara.

Pada tanggal 23 Oktober 2009, Panglima TNI mengeluarkan surat keputusan yang mengangkat Paulus sebagai Komandan Jenderal Kopassus, menggantikan Pramono Edhie Wibowo. Ini merupakan puncak karir bagi seorang Lodewijk Paulus.

Berbagai catatan kiprah dan prestasi ditorehkannya, seperti berhasil melakukan lobi kepada Amerika Serikat untuk mencabut Hukum Leahy yang membuat Amerika Serikat tidak memberikan bantuan kepada satuan militer yang terlibat pelanggaran HAM termasuk KOPASSUS TNI.

Baca Juga: Gonjang-Ganjing Golkar Solo, Ini Arahan Ketua Golkar Jateng Panggah Susanto

Karir Politik

Setelah pensiun dari dunia militer pada tahun 2015, dengan jabatan terakhirnya sebagai Komandan Kodiklat TNI Angkatan Darat, Lodewijk Paulus langsung melirik duni a politik sebagai sarana pengabdian berikutnya.

Ia memilih afiliasi politiknya pada Partai Golkar di tahun 2016. Atas pengalaman dan kapasitasnya, Lodewijk Paulus langsung mendapatkan jabatan strategis di DPP Partai Golkar, yakni sebagai Ketua Koordinator Bidang Kajian Strategis enam bulan setelah bergabung.

Karir politiknya juga berjalan mulus, kurang lebih satu setengah tahun dari masa ia menjabat sebagai Ketua DPP Partai Golkar, Lodewijk Paulus ditunjuk oleh Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar pada tanggal 22 Januari 2018, menggantikan Idrus Marham yang menjadi Menteri Sosial.

Baca Juga: Riswan Tony dan Ravindra Airlangga Dilantik Jadi Anggota DPR RI Gantikan Azis Syamsudin dan Ichsan Firdaus

Lodewijk Paulus kembali ditunjuk sebagai sekretaris jenderal setahun kemudian dalam Musyawarah Nasional Partai Golkar yang diadakan pada awal bulan Desember 2019 mendampingi Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum.

Melalui Partai Golkar pula pada Pemilu 2019 ia mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI. dari daerah pemilihan (Dapil) Lampung 1. Lodewijk Paulus mendapatkan 35.199 suara di Pemilu 2019. Oleh Fraksi Partai Golkar DPR, Lodewijk Paulus berdasarkan kapasitas serta latar belakangnya kemudian ditempatkan di Komisi 1 DPR dengan ruang lingkup tugas di bidang pertahanan, luar negeri, komunikasi dan informatika, dan intelijen.

Meski jabatannya Sekjen DPP Partai Golkar, tetapi di DPR ia hanya menjadi anggota Komisi 1 DPR, sampai ketika rekan sejawatnya yang kala itu duduk di pimpinan DPR RI sebagai Wakil Ketua DPR tersandung masalah hukum. Nama Lodewijk Paulus kemudian mencuat bersama Adies Kadir sebagai pengganti untuk duduk sebagai Wakil Ketua DPR.

Baca Juga: Henry Indraguna Gelar Program Tebus Minyak Goreng Rp.15 Ribu per Liter di Solo Raya

Lodewijk Paulus saat itu bahkan menyarankan politisi senior Partai Golkar yang duduk di DPR RI, Kahar Muzakir untuk duduk sebagai Wakil Ketua DPR. Nyatanya, dirinyalha yang dipilih oleh Fraksi Partai Golkar untuk duduk di kursi pimpinan DPR. Lodewijk Paulus secara resmi diumumkan sebagai pengganti Wakil Ketua DPR oleh Ketua DPR Puan Maharani dalam konferensi pers pada tanggal 29 September 2021. Sehari setelahnya, ia kemudian dilantik sebagai Wakil Ketua DPR.

Segalanya berjalan mulus dan seperti sangat dimudahkan. Pertama kali ia maju ke DPR RI, pertama kali terpilih, pertama kali duduk di kursi anggota DPR RI, langsung mendapat jabatan sebagai Wakil Ketua DPR RI. Tentu semua itu didapatkan oleh Lodewijk Paulus dengan kerja keras. Ia membuktikan bahwa dirinya pantas berada di posisi sekarang ini.

Selain kapasitas serta kemampuan dirinya, Lodewijk Paulus sepertinya cukup lihai dalam berpolitik. Setidaknya ada satu hal penting dalam politik yang ia sangat kuasai, yakni penguasaan data informasi dan pengambilan keputusan yang sudah sering dilakukannya sewaktu di militer dahulu.

Baca Juga: Seniman Asal Porong Sidoarjo Lukis Wajah Airlangga Hartarto dengan Ampas Kopi

Selama duduk di Komisi 1 DPR, berbagai kegiatan legislasi diikuti secara aktif oleh Lodewijk Paulus. Tercatat, ia berkontribusi dalam pembahasan dan perumusan RUU Penyiaran, Lodewijk Paulus juga terlibat aktif dalam pembahasan materi RUU Perlindungan Data Pribadi.

Selain itu, Lodewijk Paulus selama di Komisi 1 DPR RI juga tidak pernah absen dalam pembahasan rapat dengar pendapat (RDP) dengan berbagai mitra kerja, seperti BAKAMLA RI guna menjalankan fungsi pengawasan. Lalu dengan Lembaga Ketahanan Nasional untuk membahas rencana kerja serta anggaran.

Turut aktif dalam rapat kerja dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam pembahasan progress revisi Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS), pantauan terhadap penyiaran berbasis digital di daerah perbatasan, pengawasan media baru dan isi siaran. Rapat kerja bersama mitra seperti Kemenkominfo RI, Kemenhan serta LPP RI.

Baca Juga: Kahar Muzakir: Komisi XI Setujui Tambahan Anggaran Bappenas Rp.400 Miliar Tahun 2023

Lodewijk Paulus dewasa ini telah menjelma menjadi politisi tulen. Tanpa harus menanggalkan nasionalisme yang lekat di hatinya sejak ia menjadi prajuritTNI. Bagi Lodewijk Paulus, tidak ada yang lebih penting untuknya dibanding dengan keutuhan NKRI. Melalui Partai Golkar, Lodewijk Paulus berkiprah, membela kepentingan bangsa, negara dan agama yang telah menjadi pilihan dalam kehidupannya.

fokus berita : #Lodewijk Friedrich Paulus