28 Juni 2022

Harga TBS Makin Anjlok, Mukhtarudin Minta Pemerintah Kaji Ulang Aneka Kebijakan Pungutan

Berita Golkar - Kalangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendesak pemerintah untuk meninjau ulang terkait berbagai kebijakan pungutan yang memberatkan eksportir Crude Palm Oil (CPO).

Anggota DPR RI Mukhtarudin menyampaikan, bahwa dampak dari kebijakan pungutan ekspor yang tinggi membuat eksportir tidak mendapat margin yang menarik, serta membuat anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sawit di petani.

"Jadi perlu dikalkulasi ulang kebijakan tersebut, agar ekspor CPO kembali bergairah, sehingga menguntungkan buat rakyat dan negara," kata Mukhtarudin, Selasa (28/6).

Baca Juga: Dampingi Petani Hingga Ekspor Tanaman Hias ke Belanda, Nusron Wahid Apresiasi Kerja BNI-Jamkrindo

Perlu diingat, penurunan ekspor CPO di Indonesia sangat tajam. Dalam bulan Mei, ekspor komoditas unggulan (sawit) hanya 284,6 USD, dan stok CPO kita 6 juta metrik ton, jadi sangat melimpah sekali.

Maka inilah yang memicu harga TBS turun tajam sudah di bawah Rp 1000 rupiah, bahkan ada yang Rp 500 rupiah, dan cenderung turun terus. Bahkan banyak sudah Perusahaan Kelapa Sawit (PKS) yang tutup tidak lagi menerima TBS dari kebun rakyat, akibatnya petani sawit bangkrut massal.

"Informasi yang saya terima dari Gapki saat ini sudah ada sekitar 70-an Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang sudah tidak terima TBS rakyat, jadi ini perlu perhatian pemerintah secepatnya," kata Mukhtarudin yang juga sebagai Anggota Badan Anggaran DPR RI ini.

Baca Juga: Golkar Kabupaten Bogor Solid, Jaro Ade Ingatkan Kader Fokus Menangkan Airlangga di Pilpres 2024

Lebih lanjut, Politisi Golkar ini menjelaskan tidak menariknya ekspor CPO, karena tingginya pungutan-pungutan.

Legislator asal Kalimantan Tengah ini menjelaskan, bahwa harga CPO global sekitar US$ 1,38 (Rp 20.000)/kg. Namun untuk menjual ke luar negeri kena pungutan ekspor (BPDPKS) sebesar US$ 200/Kg, lalu kena lagi pajak ekspor US$ 288/Kg dan ditambah lagi flush out US$ 200/kg. Total pajak pungutan US$ 688/kg (Rp 11.000/kg). Setara 55% dari harga CPO global.

"Dampak tingginya pungutan ini, ekspor CPO kita tidak seimbang dan akibatnya ekspor CPO kita turun tajam," ungkapnya.

Baca Juga: Di Depan Menko Airlangga, Ronaldinho Puji Talenta Muda Sepakbola Indonesia

Kemudian, pada Mei 2022, komoditas utama ekspor Indonesia Minyak Kelapa Sawit mengalami Penurunan terdalam, sebesar-87,72 persen atau setara dengan US$ 2,03 miliar. Oleh karena itu, Mukhtarudin meminta pemerintah agar mengajak stakeholder untuk duduk bersama mencari win-win solution.

Ia menambahkan, dan menyarankan agar pungutan-pungutan dan pajak ekspor ini harus dihitung ulang, dengan besaran yang pantas dan tidak berdampak merugikan rakyat.

"Kami harap ekspor kembali bergairah dan bangkit, harga CPO kembali terdongkrak menjadi Rp 16.000/Kg. Dampaknya maka harga TBS bisa menjadi Rp 3.000/kg dan petani sejahtera," pungkasnya. {sumber}

fokus berita : #Mukhtarudin