17 Juli 2022

Misbakhun Kritik Menkeu Sri Mulyani Soal Cukai Rokok: Orientasi Penerimaan Atau Kendalikan Konsumsi?

Berita Golkar - Anggota Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun meminta pemerintah lebih adil dan objektif soal kebijakan maupun aturan untuk industri hasil tembakau (IHT).

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sendiri memutuskan untuk menaikan cukai hasil tembakau (CHT) jadi 12 persen pada 2022. Seiringan dengan simplifikasi tarif cukai rokok dari sebelumnya 10 layer menjadi 8 lapis, dan terbaru hingga 5 lapis.

Baca Juga: Gubernur Rohidin Mersyah Promosikan Komoditi Sawit, Karet dan Kopi Bengkulu ke Malaysia

Misbakhun mewanti-wanti pemerintah sebelum mengeluarkan regulasi tentang IHT harus melihat terlebih dahulu manfaat dan dampak terhadap sektor yang menjadi penyangga hidup banyak orang tersebut.

"Tidak semua aturan itu kemudian memberikan keuntungan bagi industrinya," kata Misbakhun dalam keterangan tertulis, Minggu (17/7/2022).

Legislator dari Partai Golkar ini juga mengomentari kebijakan cukai rokok untuk 2023 yang sedang dibahas pemerintah. Ia mengaku banyak menerima unek-unek para pelaku usaha IHT.

Hal yang menjadi kekhawatiran dan perhatian pelaku usaha IHT yakni soal simplifikasi tarif cukai. Sebab, simplifikasi itu dibarengi kenaikan tarif cukai untuk IHT.

Menurut dia, IHT memiliki peran penting terhadap perekonomian Indonesia. Dia menegaskan, industri hasil tembakau mampu menciptakan efek pengganda.

"Industri ini memiliki kemampuan dalam menyerap tenaga kerja yang besar, mulai dari sektor hulu hingga hilir, dan berkontribusi besar dalam menggerakan perekonomian nasional dan daerah," ungkapnya.

Mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan itu pun menyodorkan angka untuk menguatkan argumennya. Misbakhun mengatakan kontribusi IHT terhadap cukai hasil tembakau (CHT) mencapai 95 persen.

Baca Juga: Tingkatkan Mutu Pendidikan, Hetifah Serahkan Bantuan Rp.332 Milliar Untuk Pemkab Kendal

"Besarnya potensi kontribusi CHT menyebabkan kebijakan cukai makin eksesif. CHT terlihat justru lebih berorientasi pencapaian target penerimaan daripada pengendalian atau pembatasan konsumsi rokok," paparnya.

Selain itu, Misbakhun juga menegaskan komitmennya untuk membela para petani tembakau. Dia mengaku akan terus menentang Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau yang dicetuskan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Bagi saya, menolak FCTC ini ibadah. Jihad saya melawan agenda asing di Indonesia. Kalau orang berjihad melawan rokok, saya akan berjihad melawan FCTC," tegasnya. (sumber)

 

fokus berita : #Misbakhun