20 Juli 2022

Kunci Pergerakan Parpol Lain, Wajar Ada Yang Ganggu Soliditas KIB

Berita Golkar - Soliditas Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) belakangan menjadi sorotan. Bahkan, koalisi bentukan Partai Golkar, PPP, dan PAN ini dianggap mengunci pergerakan partai politik (parpol) lain.

Menurut Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia, Ali Rif'an, bicara koalisi sampai saat ini masih cair, kendati sudah ada KIB maupun koalisi lain.

Baca Juga: Survei ARSC: Elektabilitas Airlangga Hartarto Tembus 5 Besar, Anies dan Ganjar Masih Teratas

"Bagi saya sebelum ada ikatan capres yang diusung, ikatan koalisi masih sangat cair. Lebih spesifik lagi koalisi akan terbentuk ketika sudah mendaftar di KPU, tapi tentu finalnya sudah mengusung capres-cawapres," ungkap Ali saat dihubungi wartawan di Jakarta, Selasa (19/7).

KIB, kata Ali, memang sudah menjaring koalisi, tapi sampai sekarang belum ada nama capres yang diusung secara resmi. Ali menekankan, hal itu juga yang membuat posisinya bisa saja digoyang partai lain.

"Satu sisi KIB memang bisa mengunci partai-partai lain, posisi PDIP misalnya, relatif terkunci dengan adanya KIB. Begitu juga dengan poros Gondangdia, Nasdem relatif terkunci. Makanya banyak partai, termasuk analis politik mengomentari KIB," jelas dia.

Apalagi, sambung Ali, nama-nama ketua umum partai yang tergabung dalam KIB kerap mencuat sebagai kandidat cawapres dalam setiap hasil lembaga survei. Meski ada Airlangga di beberapa hasil survei potensial sebagai capres.

Ali menambahkan, wajar jika belakangan soliditas KIB diganggu parpol lain. Sebab koalisi mereka memang semua masih cair. Kemudian, lem perekat KIB ini apa sebenarnya?

Baca Juga: Kopi Bengkulu Rambah Malaysia, Gubernur Rohidin Mersyah Siap Kembangkan Komoditas Lewat Pendekatan Pasar

"Apakah sudah ada deal tertentu dari salah satu figur capres, atau upaya mengunci partai lain. Atau yang agak programatik koalisi dini yang dibentuk KIB memberikan satu pendidikan politik kepada publik sekaligus brand value tiga partai di KIB itu," pungkas Ali. (sumber)

fokus berita :