22 Juli 2022

Terus Berulang, Bobby Rizaldi Desak TNI AU Investigasi Mendalam Jatuhnya Pesawat Tempur T-50i

Berita Golkar - Insiden kecelakaan pesawat jet T-50i Golden Eagle milik TNI Angkatan Udara (TNI AU) yang sudah beberapa kali terjadi menjadi perhatian Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Peristiwa kecelakaan paling baru melibatkan jet tempur latih dan serang ringan buatan Korea Aerospace Industry (KAI) yang bekerja sama dengan Lokheed Martin asal Amerika Serikat terjadi pada Senin (19/7/2022) lalu.

Pesawat nahas yang saat itu diterbangkan oleh pilot Lettu Pnb Allan Safitra Indra Wahyudi jatuh di hutan Desa Nginggil, Kradenan, Blora, Jawa Tengah. Saat peristiwa terjadi, Lettu Pnb Allan tengah menjalani misi terbang malam atau tactical night intercept.

Baca Juga: Akbar Tandjung Ingatkan Kader Golkar Perolehan Kursi DPR RI Terus Turun 2 Pemilu Terakhir

Pesawat dengan nomor ekor TT-5009 itu lepas landas dari Pangkalan TNI AU Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur, dan hilang kontak pada Pukul 19.25 WIB. Puing-puing pesawat berserta jasad pilot ditemukan di hutan.

Allan meninggalkan seorang istri yang dinikahi pada 2021 lalu. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Bahagia TNI AI, Jatisari, Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat. Beberapa insiden lain yang yang melibatkan pesawat T-50i hingga menyebabkan gugurnya penerbang TNI AU juga pernah terjadi sebelumnya.

Pada 10 Agustus 2020 lalu, pesawat T-50i yang dikemudikan Letkol Pnb Anumerta Luluk "Wiggler" Teguh Prabowo sebagai instruktur dan Letda Pnb Muhammad Zacky sebagai siswa tergelincir di Lanud Iswahjudi saat melaksanakan latihan rutin.

Baca Juga: Tegang! AMPG Dan Pengurus DPD I Golkar Sulsel Bentrok, Polisi: Salah Paham

Menurut laporan, pesawat jet itu mengalami gagal "take-off". Letkol Luluk sempat dirawat di Yogyakarta, tetapi kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta. Namun, dia mengembuskan napas terakhir di RSPAD 2 September 2020.

Insiden lainnya yang turut melibatkan pesawat T-50i dan menewaskan pilot TNI AU terjadi pada 2015 silam. Saat itu pesawat T-50i yang dikemudikan Letkol Pnb Marda Sarjono dan Kapten Pnb Dwi Cahyadi jatuh saat melakukan atraksi dalam Gebyar Dirgantara di Bandar Udara Adisutjipto, Minggu, 20 Desember 2015.

Kecelakaan itu mengakibatkan kedua pilot meninggal dunia. Akibat kejadian itu, kegiatan Gebyar Dirgantara langsung dihentikan. Insiden itu juga menuai pertanyaan sebab usia pesawat masih sangat muda karena baru dibeli dari Korea Selatan pada 2013.

Baca Juga: Maman Abdurrahman: Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Erick Thohir Harusnya Masuk Parpol

Investigasi

TNI Angkatan Udara hingga kini masih menyelidiki penyebab jatuhnya pesawat tempur latih T-50i Golden Eagle. Kepala Penerangan Pangkalan Angkatan Udara (Lanud) Iswahjudi Mayor Sus Yudha Pramono menyebut penyelidikan masih dalam proses.

“Untuk saat ini masih dalam proses. Apabila sudah ada progres nanti kita infokan lebih lanjut,” kata Yudha kepada Kompas.com, Kamis (21/7/2022).

TNI AU telah membentuk Tim Panitia Penyelidikan Kecelakaan Pesawat Udara (PPKPU) untuk menyelidiki sebab-sebab jatuhnya pesawat terbang. Dalam penyelidikannya, tim ini juga mempelajari voice and data recorder (VADR) atau kotak hitam Golden Eagle yang sudah ditemukan petugas.

Baca Juga: Airlangga Hartarto: Kartu Prakerja Dukung Visi Indonesia Emas 2045

Hal ini dibenarkan Yudha bahwa tim tersebut juga mempelajari VADR Golden Eagle. “Iya betul sekali,” singkat Yudha.

Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Golkar Bobby Rizaldi meminta TNI AU melakukan investigasi mendalam terkait jatuhnya pesawat tempur T-50i Golden Eagle di Blora, Jawa Tengah. Sebab insiden yang melibatkan pesawat itu sudah beberapa kali terjadi.

“Karena sudah ada beberapa kejadian seperti jatuhnya pesawat tipe ini tahun 2015 dan off skid runway beberapa saat lalu,” tutur Bobby pada wartawan, Kamis (21/7/2022).

Ia menilai, investigasi dan evaluasi perlu dilakukan segera untuk mencari penyebab utama kecelakaan tersebut. “Apakah karena teknis atau human error? Perlu didalami karena solusinya berbeda, atau karena keterbatasan anggaran?,” sebutnya.

Baca Juga: Survei ARSC: Simulasi 3 Paslon, Duet Airlangga Hartarto-Ganjar Pranowo Menang Pilpres

Dalam pandangan Bobby, proses tersebut mesti segera dilakukan. Sebab, ia menilai matra TNI AU memiliki tingkat kesiapsiagaan yang berbeda dengan matra lainnya. “Ini sudah mendesak, karena tingkat kesiapsiagaan matra udara ini sangat rendah dibanding matra lainnya,” ucap dia.

Bobby berharap proses envestigasi dan evaluasi berdampak pada pembenahan di internal TNI AU sehingga kejadian serupa tidak terulang. “Kecelakaan ini tidak boleh membuat turun semangat TNI AU, sebaliknya menjadi evaluasi agar persiapan latihan menjadi lebih hati-hati,” imbuhnya.

Kolega Bobby di Komisi I DPR, Dave Akbarshah Fikarno atau Dave Laksono, meminta TNI AU terbuka dalam melakukan penyelidikan jatuhnya pesawat itu.

Baca Juga: Bobby Rizaldi Minta TNI Jamin Keluarga Kapten Allan Syafitra, Pilot Yang Jatuh dan Tewas di Blora

Ia menilai penyelidikan terbuka penting dilakukan agar pengawasan dilakukan oleh semua pihak. Selain itu, bisa berdampak pada perbaikan di internal TNI AU supaya kejadian serupa tak terulang.

“Untuk diperiksa seutuhnya apa kendala itu. Di kesalahan mana, apakah kesalahan penerbang, pesawat, pihak fabrikasi atau kesalahan maintanance pesawat tersebut?,” sebut Dave pada Kompas.com, Kamis (21/7/2022).

Ia berharap berbagai hasil penyelidikan tak hanya berguna untuk TNI AU tapi TNI secara menyeluruh. Selain itu, lanjut Dave, mesti ada perbaikan dari pihak TNI mengingat tantangan di sektor pertahanan masih terjadi.

Baca Juga: Maman Abdurrahman Ingatkan Agar Parpol Hati-Hati Pilih Capres Yang Sekedar Populer

“Juga harus diperhatikan apa yang menjadi kendala untuk terus memperbaharui dan menyiapkan peralatan tempur kita ke depan. Mengingat ancaman-ancaman kedaulatan negara itu masih ada,” kata anggota Fraksi Partai Golkar itu.

Akibat kecelakaan itu, Dave meminta TNI AU benar-benar memastikan keamanan alutsista dan kesiapan prajurit. “Sehingga kemampuan tempur terus ditingkatkan dan kesiagaan prajurit harus terus dalam kondisi yang prima,” tandasnya. {kompas}

fokus berita : # Bobby Rizaldi