19 Agustus 2022

Luhut Pandjaitan Bantah Tuduhan Indonesia Dikontrol Oleh China

Berita Golkar - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan tak ambil pusing dituduh beberapa pihak pro dan mendewakan investor China. Namun tuduhan tersebut berhasil ia tepis karena dari data membuktikan bahwa Indonesia tidak dikontrol oleh satu negara.

“Saya dulu dibully China, China, China. Its’ oke sekarang Anda bisa lihat. Tidak ada itu China-China,” kata Luhut Binsar Pandjaitan saat mengisi Kuliah Umum di Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (19/8/2022).

Tak hanya dituduh pro investor China, dia juga kerap mendengar selentingan yang menyebut Indonesia dikontrol China. Padahal, kata Luhut perdagangan Indonesia dilakukan atas kendali sendiri, bukan atas kehendak pihak lain.

Baca Juga: Wujudkan Indonesia Cakap Digital, Meutya Hafid: Butuh Percepatan Konektivitas Seluruh Wilayah

“Orang bilang kita dikontrol China. Para mahasiswa yang kita banggakan, kalau kita dikontrol orang, perdagangan kita juga dikontrol,” kata dia.

Luhut menjelaskan, defisit neraca perdagangan Indonesia dengan China pada tahun 2015 tercatat USD 27 miliar. Namun di 2021, defisit ini turun drastis, tinggal USD 2,5 miliar. Bahkan Luhut memprediksi tahun ini, Indonesia akan mengalami surplus sekitar USD 500 juta hingga USD 1 miliar. “Dan kita ini dikenakan dumping sama China 20 persen karena lebih efisien,” kata Luhut.

Efisiensi yang dimaksud tercermin dari harga listrik di Indonesia yang lebih murah, yakni Rp 5 per kwh. Sedangkan di China harga listrik bisa mencapai Rp 10 – Rp 12 per kwh.

Baca Juga: Masda Putri Amelia, Pengusaha Bawang Yang Kini Jadi Anggota DPRD Kota Probolinggo

Begitu juga dari sisi pengeluaran transportasi. Transportasi Indonesia-China bisa menghabiskan anggaran USD 15 sampai USD 20. Sementara biaya transportasi antar pulau di Indonesia hanya sekitar USD 1 sampai USD 2. “Jadi siapa yang bisa lawan kita?,” ungkap Luhut.

Maka dia menegaskan, Indonesia sejak awal telah menjadi menjadi tuan rumah di negaranya sendiri. Pemerintah mengatur bisnis tanpa campur tangan orang lain. Kalau pun masih banyak investor China di Indonesia, hal itu hanya sekedar kepentingan bisnis semata. “Kalau dia taruh duit ya pasti ada Cinanya,” kata dia.

“Seperti Freeport 55 tahun di Indonesia, apa nilai tambah yang didapat? Sekarang enggak bisa, harus bikin semua di sini,” kata dia mengakhiri. {politiknesia}

fokus berita : #Luhut Binsar Pandjaitan