21 Agustus 2022

Sosok Jafar Sidik, Sosok Legenda Hidup Persib Yang Kini Jadi Ketua Golkar Kabupaten Sumedang

Berita Golkar - Namanya Sidik Jafar, tapi sering dipanggil Jafar Sidik. Sosoknya di Kabupaten Sumedang kini dikenal sebagai politisi. Ia adalah Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Sumedang. Namun, di balik keaktifannya sebagai politisi, Jafar punya cerita yang menarik. Ia adalah salah seorang legenda hidup Persib Bandung.

Pria 62 tahun asal Desa Sukaratu, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang itu adalah mantan pemain Persib di era 1980-an. Detikjabar belum lama ini berkesempatan berbincang seputar masa lalu Jafar dan lika-liku kehidupannya dengan dunia sepak bola.

Jafar terlahir dari kedua orang tua yang jauh dari dunia sepak bola. Ayahnya seorang guru sekaligus petani, sedangkan ibunya petani. Jafar terlahir menjadi pesepakbola karena bakat alami yang turut ditopang faktor lingkungan. "Rumah saya itu dekat lapang sepak bola, jadi saya sedari kecil sudah bermain bola dan suka sepak bola," ungkap Jafar.

Baca Juga: Meutya Hafid: Penciptaan Brand Image di Marketplace Kunci Tingkatkan Daya Saing UMKM

Ia lalu jauh menerawang mengenang masa-masa kecilnya saat bermain sepak bola di kampungnya itu. Saat itu, bermain sepak bola jauh dari kata mewah, peralatan yang dipakai pun alakadarnya.

"Dulu itu, kalau main bola, bolanya itu benjol dan kulit bolanya itu kalau terkena air jadi berat, pokoknya main bola itu seadanya," kenang Jafar sambil tertawa.

Meski alakdarnya, Jafar sangat menikmati masa kecilnya dengan dunia sepak bola. Apalagi, bakat Jafar dalam sepak bola sudah membara sejak kecil.

Saat duduk di bangku kelas 6 SD misalnya, Jafar telah mengantarkan timnya menjadi juara pada ajang kompetisi sepak bola tingkat SD se-Kabupaten Sumedang. "Ya itu karena saya sering main bola di lapangan dekat rumah, jadi skill saya itu terbentuk di sana," terangnya.

Baca Juga: Taufan Pawe Resmi Lantik 1.016 Pengurus Golkar Kota Makasar Hingga Tingkat Kelurahan

Jafar pun terus tumbuh seperti anak-anak lainnya. Di saat bersamaan, dunia sepak bola sulit dilepaskan dari kesehariannya hingga berujung menjadi pesepak bola.

Menariknya, sebelum beprestasi di dunia sepak bola, Jafar memiliki presfasi pada bidang lain, yakni cabang olahraga (cabor) atletik. Ia berhasil menyabet emas dalam cabor lari 100 meter pada Pekan Olahraga Daerah (Porda) untuk mewakili Jawa Barat. "Saya saat itu mencatatkan waktu 11,03 detik untuk lari 100 meter dan saya juara waktu itu," terangnya.

Kendati demikian, kariernya dalam bidang atletik tidak ia lanjutkan. Ketertarikannya pada dunia sepak bola lebih menarik minatnya ketimbang karier apapun. Dalam dunia sepak bola, Jafar merangkak dari nol. Dunia sepak bola mulai serius ditekuni dari mulai kompetisi antardesa.

Baca Juga: Suami Wakil Ketua DPRD NTT Inche Sayuna Meninggal Dunia

"Dulu setiap setiap mau memperingati 17 Agustus kan suka ada kompetisi sepak bola antar desa, nah saya selalu ikut mewakili desa saya dan desa saya itu selalu jadi juaranya. Kalau desa saya juara, saya itu sampai dibopong menggunakan sisingaan," sambungnya.

Namun hasrat menjadi pesepak bola tak sejalan dengan keinginan orang tuanya. Ia ditentang orang tuanya. Mereka lebih menginginkan Jafar jadi guru. Jafar pun manut dan akhirnya masuk ke sekolah guru, yakni Sekolah Guru Olahraga (SGO) dalam kurun 1978-1979.

Entah mengapa, dunia sepak bola selalu menghinggapi Jafar. Saat di SGO itu, Jafar kembali diminta turut serta dalam kompetisi antar KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) seluruh Indonesia. "Saya mewakili KNPI tingkat Kabupaten, kemudian mewakili KNPI tingkat Jawa Barat, hingga menjadi juara di tingkat nasional pada ajang itu," paparnya.

Baca Juga: Ketika Aburizal Bakrie dan Sri Mulyani Reuni di Kantor Airlangga Hartarto

Dilirik Persib Bandung

Singkat cerita, setelah lulus dari SGO, Jafar sempat menjadi guru SMP di kawasan Cadas Ngampar, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang. Namun lagi-lagi ia tidak bisa lepas dari dunia sepak bola. Sepak bola seolah selalu menghampirinya.

Jafar yang dikenal jago bermain sepak bola, saat itu didaulat ikut serta dalam kompetisi sepak bola yang digelar Polres Sumedang. Saat itu, ia mewakili Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

"Jadi pada waktu itu, setiap bulan Juli Polres Sumedang suka mengadakan kompetisi sepak bola bertajuk Polres Cup," ujarnya.

Baca Juga: Peneliti BRIN, Wasisto Raharjo Jati: Airlangga Hartarto Terdepan di Bursa Capres 2024

Dalam kompetisi itu, tim yang dibela Jafar, yakni Tim PGRI bertemu di final dengan tim dari Polres Sumedang. Saat itu tim Jafar jadi juara berkat kemenangan dengan skor telak 9-0. "Dari skor itu, 7 gol diantaranya lewat kaki saya dan tim saya juara pada saat itu," ungkapnya.

Tanpa sepengetahuannya, di antara riuh penonton kala itu, terselip tiga orang dari staf pelatih Persib Bandung, yakni Marek Jonata asal Polandia, DRS. Swardaya dan Nandang yang mengamati serta menyukai gaya permainannya.

Selepas kompetisi tersebut, utusan Ketua Umum Persib Bandung yang kala itu dipegang Solihin GP memintanya bergabung dengan Persib Bandung.

"Saat itu datang utusan dari Pak Solihin GP yang meminta saya untuk bergabung dengan Persib. Awalnya orang tua saya tidak mengizinkan atau bisa (diperbolehkan) jadi pesepak bola asalkan (sambil) kuliah," paparnya.

Baca Juga: Soal KKB Papua, Bamsoet: Kalau Mereka Tak Mau Dirangkul Tumpas Saja, Urusan HAM Belakangan

Dengan persyaratan seperti itu, Jafar akhirnya ke Fakultas Pendidikan Olahraga (FPOK) di Bandung sekaligus bergabung dengan klub sepak bola anggota Persib Bandung, yakni Wisuda Parama. Setelah itu ia pindah ke Setia FC. Ini jadi langkah awal Jafar untuk menembus skuad Persib.

Klub anggota dari Persib Bandung tersebut berjumlah 36 klub. Semua klub itu nantinya akan berkompetisi untuk menjaring bagi para pemain Persib selanjutnya. Setelah meniti karier dari tim anggota Persib, Jafar akhirnya bisa jadi bagian tim senior Persib. "Saya diterima di Persib pada sekitar tahun 1984," ujarnya.

Laga demi laga ia lalui bersama Persib. Tapi, ada salah satu momen yang paling membekas dalam ingatannya. Momen itu adalah saat Persib mengalahkan Persija Jakarta pada ajang Siliwangi Cup dan jadi juara. "Saat itu Persib menang lawan Persija dengan skor 2-1 untuk kemenangan Persib," ucapnya. {sumber}

fokus berita : #Sidik Jafar