23 Agustus 2022

SMRC: Keterkenalan Airlangga Perlu Didongkrak Lewat Medsos dan Strategi Komunikasi Masif

Berita Golkar - Direktur Riset Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Deni Irvani menilai elektabilitas Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar Airlangga Hartarto masih perlu didongkrak jelang Pemilihan Presiden Tahun 2024 mendatang.

Golkar diketahui berada dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) bersama dengan PPP dan PAN. Partai Golkar sendiri sudah menegaskan akan memajukan Airlangga sebagai Capres pada 2024. Meski elektabilitas Airlangga belum maksimal sehingga perlu ditingkatkan lagi.

"Jika kita bicara Airlangga, sebagai Ketua Umum tentu punya basis pemilih partai yang cukup besar. Dari pemilu sebelumnya kan sekitar 12%, namun demikian, hal itu belum cukup untuk menjamin elektabilitas Pak Airlangga menjadi kompetitif," kata Deni Irvani, Senin (22/8/2022).

Baca Juga: Fraksi Golkar: Krisis Global Masih Akan Menghantui Ekonomi Dunia, Tantangan Berat Bagi APBN 2023

Dalam survei yang digelar oleh SMRC, elektabilitas Airlangga disebut masih belum bersaing dengan kandidat lain. Padahal posisi Airlangga sangat strategis sebagai Ketua Umum Partai Golkar dan juga Menko Perekonomian RI.

Tren positif Airlangga yakni pada aspek kedikenalan yang mengalami peningkatan, dari 26% (Maret 2021) menjadi 38% (Agustus 2022). Dari yang tahu, hanya 61% yang suka. Kedisukaan Airlangga ini meningkat dari 48 persen pada Maret 2022.

Dengan aspek keterkenalan tokoh, Airlangga dalam hal ini, disebutkan masih dibawah 50% mesti didongkrak dengan komunikasi politik yang lebih intensif.

"Soal komunikasi politik, sosialisasi, disimpulkan belum efektif untuk menaikan elektabilitas. Awareness masih dibawah 50%. Nah apa yang harus dilakukan, sangat bervariasi, mulai dari penggunaan medsos harus dievaluasi dan strategi komunikasi," terang Deni.

Baca Juga: Sering Timbulkan Gejolak, Darul Siska Minta Pemerintah Siapkan Formulasi Penghitungan UMR

Masa pemilih ‘jaman now’ begitu bervariasi, dapat dijangkau dari berbagai outlet mulai dari media massa populer maupun media sosial. Para elit politik bersaing dalam memperebutkan perhatian masyarakat. Tidak ketinggalan mereka-mereka yang mengincar kursi Presiden pada Pemilu 2024.

Sejauh ini, KIB disampaikan belum menyatakan secara resmi tentang Capres dan Cawapres yang akan diusung dalam Pilpres 2024. Banyak yang menyarankan, ditengah rendahnya elektabilitas sejumlah elit parpol, mereka bisa menggandeng sosok yang lebih tinggi elektabilitasnya namun tidak memiliki jabatan di partai.

Persepsi Negatif Parpol

Pengamat politik dari Universitas Airlangga Suko Widodo menilai rendahnya elektabilitas dan popularitas ketua parpol lebih disebabkan oleh faktor kekurang-dekatan ketua parpol dengan rakyat. Hal itu berdampak pada kesan elitis dari masyarakat pada para ketua parpol. "Sejauh ini, ketua parpol berlaku elitis dan kurang merakyat," tambahnya.

Baca Juga: Dave Laksono Resmi Lantik Chairul Azhar Purba Jadi Ketua PDK Kosgoro 1957 DKI Jakarta

Parpol juga dinilai belum berhasil mengubah persepsi negatif publik pada politik menjadi persepsi positif. Dalam pandangan Suko, pimpinan partai politik juga belum mampu membangun komunikasi politik yang apik dengan masyarakat. "Selama ini komunikasi politik ketua parpol dengan rakyat kurang intensif," tambahnya.

Menurut Suko, popularitas dan elektabilitas personal dari ketua partai politik tidak begitu penting ketika yang bersangkutan tidak hendak maju dalam kontestasi Pilpres 2024. Yang penting justru popularitas dan elektabilitas parpol.

Terakhir, rendahnya elektabilitas dan popularitas ketua parpol banyak disebabkan oleh persepsi negatif publik terkait politik, termasuk Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto. "Rendahnya popularitas dan elektabilitas ketua parpol disebabkan persepsi negatif terhadap politik," tutupnya. {sumber}

fokus berita : #Deni Irvani #Airlangga Hartarto