22 September 2022

Airlangga Hartarto: Pemerintah Optimis Target Inflasi Pangan Di Bawah 5 Persen Dapat Dicapai

Berita Golkar - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah terus berupaya untuk menjaga inflasi, yang disebabkan oleh kenaikan harga BBM dan juga inflasi pangan. Meski harga BBM baru saja naik, ia optimistis target inflasi pangan di bawah 5% masih dapat dicapai.

Airlangga mengakui pascakenaikan harga Pertalite dan Solar inflasi diperkirakan akan naik di bulan September. "Dan berbagai pengalaman dalam kenaikan bbm, inflasi akan cenderung turun dalam 3-4 bulan ke depan. Dengan berbagai program dan pemberian subsidi bantuan untuk sektor transportasi, dengan dana BTT dan 2% DTU pemerintah optimis inflasi pangan dapat ditekan di bawah 5%,“ kata Airlangga di Jakarta, Kamis (22/9/2022).

Menko Airlangga yang juga Ketua Umum Partai Golkar menambahkan, pemerintah terus melakukan upaya ekstra untuk menekan volatile food atau inflasi pangan di kisaran 3-5%.

“Jika dilihat secara regional, dari 90 kota IHK ada 66 kota IHK yang realisasi inflasinya diatas nasional. Dan kerjasama antar daerah guna menekan inflasi akan terus didorong semakin efektif akan menjaga stabilitas harga di masyarakat,“ tandasnya.

Baca Juga: Ferry Wawan Cahyono: Anggota Dewan Harus Turun Ke Masyarakat, Serap Aspirasi Beri Solusi

Pakar pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB University) Dwi Andreas Santosa mengungkapkan upaya pemerintah untuk menekan angka inflasi pangan di bawah 5% masih masuk akal dan bisa dilakukan.

"Saya kira iyalah," katanya saat dihubungi, kemarin. Menurutnya, kenaikan harga beras inflasi memang akan menjadi faktor utama kenaikan inflasi. Namun seiring kenaikan harga beras, harga komoditas pangan lain justru cenderung menunjukkan tren penurunan.

"Karena memang sekarang ini yang nanti akan sangat berperan dalam inflasi sudah tentu harga beras. Ini akan meningkat, tapi harga-harga pangan yang lainnya sudah ada tren mengalami penurunan. Jadi saya kira kenaikan harga beras akan diikuti tren penurunan beberapa harga yang lain," ujarnya.

Menurut Dwi Andreas kenaikan harga BBM memang menjadi faktor penting yang mengerek inflasi. Namun di sektor pertanian, kenaikan harga BBM bersubsidi beberapa saat lalu tidak berdampak signifikan.

Baca Juga: Misbakhun: Transformasi Struktural Harus Dipacu Demi Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

"Katakanlah untuk dunia pertanian, BBM ini digunakan untuk apa saja dan itu berapa kira-kira kontribusinya? Sehingga kalau dihitung sedetail itu, mungkin kontribusinya tidak begitu besar juga," pungkasnya. (sumber)

 

 

fokus berita : #Airlangga Hartarto