05 Oktober 2022

Kakek Airlangga Hartarto, Pahlawan Nasional

Berita Golkar - Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto lahir pada tanggal 1 Oktober 1962 di Kota Pahlawan, Surabaya. Selain menjadi tempat kelahiran, ternyata istilah pahlawan juga sangat lekat dalam kehidupan seorang Airlangga Hartarto. Tidak heran jika Ketua Umum DPP Partai Golkar ini memiliki karakter bak seorang pahlawan yang egaliter dan nasionalis.

Ia juga memiliki tekah kuat hingga perjalan hidupnya melahirkan segudang pengalaman dari bidang akademis, pengusaha hingga karir politik. Airlangga Hartarto di masa remaja menjalankan studi SMA-nya di Kolese Kanisius atau yang sering disebut CC. Saat sekolah dahulu sosok Airlangga Hartarto sangat aktif dalam berkegiatan dan sempat menjabat pula sebagai ketua OSIS.

Airlangga Hartarto kemudian melanjutkan studinya ke Jurusan Teknik Mesin Fakultas Mesin UGM. Di sana, ia sempat menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Selanjutnya beliau melanjutkan ke Wharton, Monash dan Melbourne Business School untuk mendapatkan gelar magister.

Baca Juga: Hetifah Merasa Prihatin, Tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang Sebabkan Ratusan Jiwa Melayang

Tidak hanya cemerlang di bidang akademis, Airlangga Hartarto juga merupakan seorang pengusaha yang sukses, ia memiliki berbagai lini bisnis seperti PT. Graha Curah Niaga, PT. Bisma Narendra dan PT. Jakarta Prime Crane.

Karir politik Airlangga Hartarto dimulai ketika menjadi Wakil Bendahara DPP Golkar dari tahun 2004-2009. Pada tahun 2009-2014, Airlangga Hartarto mendapatkan kursi DPR RI dan kembali terpilih pada tahun 2014-2019 dari Dapil Jawa Barat V yang meliputi Kabupaten Bogor.

Selanjutnya, Airlangga Hartarto menggantikan Saleh Husin untuk menjadi Menteri Perindustrian ketika terjadi reshuffle pada kabinet Presiden Joko Widodo pada tahun 2016 untuk membaktikan diri kepada negara.

Ternyata, Airlangga Hartarto tidak hanya seorang diri membaktikan diri kepada negara, kakek dan ayahnya pun melakukan hal yang sama, artinya darah yang mengalir di tubuh Airlangga adalah darah seorang pengabdi negara. Bahkan sang kakek tercatat merupakan salah seorang pahlawan perjuangan kemerdekaan dari Sukabumi, Didi Sukardi.

Baca Juga: Tragedi Sepakbola di Stadion Kanjuruhan, Sarmuji: Olahraga Harusnya Tempat Tumbuh Keakraban dan Persaudaraan

Didi Sukardi, Kakek Airlangga Hartarto

Airlangga Hartarto memiliki kakek bernama Didi Sukardi yang merupakan tokoh berpengaruh di Sukabumi berdasarkan artikel yang berjudul “R.H Didi Sukardi and The Negara Pasundan: A Nationalist In The Federal State During The Indonesia Revolution 1945-1949” yang ditulis oleh Dr. Yuda Benhary Tangkilisan.

Nama Didi Sukardi kemudian diabadikan sebagai nama salah satu jalan di Sukabumi. Airlangga Hartarto adalah anak dari pasangan Hartarto Sastrosoenarto dan Hartini yang merupakan putri dari Didi Sukardi. Masyarakat di Sukabumi menganggap bahwa Didi Sukardi adalah tokoh yang harus dihargai karena jasanya sangat besar untuk meningkatkan taraf hidup orang Sukabumi pada masanya.

Didi Sukardi selalu berusaha untuk mendorong agar Sukabumi bisa lebih maju dengan memberikan yang terbaik dan yakin bahwa untuk mencapai hal yang besar harus dimulai dari hal yang kecil. Beliau sangat berperan ketika masa revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan, sehingga beliau dianggap sebagai tokoh masyarakat Sukabumi.

Baca Juga: Gelar Jalan Sehat Berhadiah Umroh dan Motor, Golkar Kalsel Targetkan 4.000 Peserta

Awalnya, Didi Sukardi adalah pengusaha perkebunan dan pada tahun 1920, beliau menjadi Dewan Kabupaten Sukabumi. Selanjutnya, Didi Sukardi menjadi ketua cabang Paguyuban Pasundan. Partai Indonesia Raya dan Gabungan Partai Politik Indonesia sempat dipimpin oleh beliau sebelum Jepang datang. Saat Jepang menjajah Indonesia, beliau memiliki tugas sebagai penghubung Pembela Tanah Air atau yang lebih dikenal dengan PETA.

Saat Indonesia sudah merdeka, Didi Sukardi menjadi anggota dari Komite Nasional Indonesia di daerah Sukabumi yang memiliki ide untuk mengirim perwakilan ke Bogor untuk bertemu dengan pemerintahan militer Jepang.

Setelah perang berakhir, Didi Sukardi sempat menjabat sebagai menteri pada Negara Federal Pasundan. Saat Indonesia kembali menjadi NKRI, beliau menjabat sebagai Dewan Konstituante.

Baca Juga: Gelar Jalan Sehat Dalam Rangka HUT Ke-58, Golkar Sumsel Targetkan 5.000 Peserta

Hartarto Sastrosoenarto, Ayah dari Airlangga Hartarto

Ayah dari Airlangga Hartarto yang bernama Hartarto Sastrosoenarto berkuliah di Fakultas Teknik UI di Bandung atau sekarang lebih dikenal dengan nama ITB. Lalu beliau melanjutkan kuliahnya di New South Wales dengan gelar BSc of Honours di bidang TekKim.

Hartarto sempat menolak tawaran sebagai Direktur Perusahaan Minyak dan Gas Negara dikarenakan beliau merasa tidak mendapat sambutan yang diharapkan oleh dewan direksi.

Lalu beliau berfokus untuk melakukan perluasan pabrik Leces. Pada tahun 1960 an, beliau menjadi Koordinator Teknik Proyek Perluasan Pabrik Leces, pada tahun 1965 beliau menjadi Direktur Pimpinan Umum Pulp dan Kertas.

Baca Juga: Bupati Andi Fahsar Padjalangi Usulkan Renovasi Stadion La Patau Watampone Bone ke Menpora Zainudin Amali

Selanjutnya beliau melanjutkan karir sebagai Asisten I Kopel PN Industri Kimia dan terakhir sebagai Direktur Pembinaan pada Dirjen Pembinaan Industri Kimia sebelum menjadi menteri.

Hartarto Sastrosoenarto merupakan Menteri Perindustrian di zaman Presiden Soeharto pada Kabinet Pembangunan IV dan V, menjadi Menko Prodis pada Kabinet Pembangunan VI dan Menko Wesbangpan pada Kabinet Pembangunan VII. Beliau juga pernah menjadi Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan dan Perindustrian pada era presiden Habibie dari tahun 1998 sampai tahun 1999. {redaksi}

fokus berita : #Airlangga Hartarto