05 Oktober 2022

Di Tengah Ancaman Resesi Global, Airlangga Tetap Optimis Ekonomi RI Tahun Depan

Berita Golkar - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mengatakan saat ini dunia sedang dilanda krisis multidimensi, di mana tantangan ekonomi semakin nyata dibalik percepatan pemulihan ekonomi dampak pandemi covid-19.

"Kami menyebutnya sebagai tantangan Badai Sempurna yang merupakan krisis multidimensi dan tanpa ragu-ragu, tantangan ekonomi, menunda upaya kami untuk mempercepat bagian pemulihan covid-19," kata Airlangga dalam Parliamentary Forum in the Context of the G20 Parliamentary Speaker's Summit (P20), Rabu (5/10/2022).

Seluruh dunia saat ini tengah berjuang menghadapi berbagai krisis, salah satunya energi yang membuat bisnis turun, dan produktivitas usaha melambat. Ditambah, adanya lonjakan harga pangan yang menyebabkan kelangkaan pangan, padahal pangan sangat penting untuk menghidupi jutaan orang yang mengalami kelaparan.

"Tantangan itu hanya bisa kita atasi jika kita bersatu. Rasa kemanusiaan dan solidaritas yang kuat saat Kami Berkumpul di sini hari ini dunia melihat kami dengan harapan untuk membawa pejuang bagi rakyat," ujarnya.

Baca Juga: Resmi Dilantik, Ketua Golkar Luwu Patahuddin Serukan Kader Gencar Sosialisasi Menjelang Pemilu 2024

Kendati demikian, kinerja ekonomi Indonesia sampai saat ini relatif memuaskan, Indonesia mampu tumbuh di atas 5 persen pada semester lalu. Bahkan pada kuartal II-2022 perekonomian Indonesia mampu tumbuh 5,44 persen.

"Bapak Presiden Joko Widodo telah mengingatkan, bahwa akan menghadapi tantangan resesi global tahun depan. Tapi Pemerintah terus optimis bahwa kita dapat mencapai pertumbuhan 5,2 atau 5,3 persen pada akhir tahun, serta kita memiliki pandangan optimis untuk tahun depan," ujarnya.

Optimisme itu muncul dilihat dari kinerja perdagangan Indonesia yang terus mempertahankan rekor tinggi selama 28 bulan berturut-turut. Capaian ini diperoleh lantaran angka ekspor per Agustus 2022 yang sebesar USD 27,91 miliar masih lebih tinggi dibanding nilai impor pada bulan yang sama, sebesar USD 22,15 miliar.

"Indonesia terus mendorong pemulihan ekonomi untuk mendukung tiga bidang, Kesehatan, perlindungan sosial dan penguatan pemulihan ekonomi melalui dukungan untuk ekonomi kreatif pariwisata Usaha mikro dan kecil menengah dan juga memberikan banyak insentif pajak," ujarnya.

Baca Juga: PMI Manufaktur RI Menguat, Mukhtarudin: Tanda Industri Semakin Kondusif

Tak hanya berhenti disitu saja, Pemerintah juga memberlakukan undang-undang untuk menyelaraskan peraturan perpajakan yang bertujuan untuk memperbesar basis pajak, meningkatkan efektivitas pajak, insentif dan meningkatkan cakupan program pengampunan pajak.

Sejalan dengan inisiatif tersebut, Indonesia memahami pentingnya menjaga pertumbuhan ekonomi, dan keseimbangan lingkungan. Sesuai arahan Presiden, ditargetkan untuk mencapai emisi Net Zero pada tahun 2060 atau lebih cepat.

"Oleh karena itu, semua peserta P20, Hal-hal yang harus kita garis bawahi bahwa G20 menjadi platform ekonomi utama untuk menyelesaikan krisis. Maka, diharapkan P20 dapat menyelesaikan solusi untuk geopolitik juga," tandasnya. (sumber)

 

fokus berita : #Airlangga Hartarto