15 Oktober 2022

HUT Ke-58 Partai Golkar, Sebuah Kontemplasi Di Atas Kejayaan Diri

Berita Golkar - 20 Oktober 2022 akan menjadi hari besar bagi Partai Golkar. Partai berlambang pohon beringin ini akan genap berusia 58 tahun di tanggal tersebut. Sebuah usia yang sangat matang, cenderung tua sebagai sebuah partai politik. Tidak ada yang menyaingi Partai Golkar dalam faktor kematangan usia. Tapi sayangnya, Partai Golkar justru tersaingi dalam peroleh suara di Pemilu.

Sudah 3 periode Pemilu digulirkan, Partai Golkar masih belum menemukan ritme untuk kembali meraih kejayaan seperti dahulu kala. Tercatat terakhir kali Partai Golkar memenangi kontestasi Pemilu pada tahun 2004, selepas itu di Pemilu 2009 harus akui kemenangan Partai Demokrat, Pemilu 2014 giliran PDIP yang juara, sampai pada Pemilu 2019, PDIP masih bertahan sebagai pemenang.

Meski kalah pada tiga periode Pemilu terakhir, yakni di Pemilu 2009, 2014 dan 2019 Partai Golkar selalu memiliki cara untuk bergandengan tangan bersama pemenang. Bahkan saat PDIP, partai yang dikatakan menjadi rival utama bagi Partai Golkar, memegang tampuk kekuasaan, Golkar masih setia menguntit kekuasaannya.

Baca Juga: Nurul Arifin Ajak Generasi Muda Resapi dan Amalkan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Keseharian

Satu sisi tindakan ini bisa dikatakan sebuah oportunisme berpolitik, tapi di sisi lain, alibi disampaikan bahwa prinsip yang dianut Partai Golkar adalah mengelola kekuasaan bukan berlawanan secara konfrontatif pada kekuasaan. Singkatnya Partai Golkar tidak memiliki bakat untuk beroposisi. Benarkah demikian? Lalu adakah pengaruh dari sikap yang seperti itu dengan terpinggirkannya Partai Golkar dalam tiga Pemilu terakhir?

Sedikit banyak ada. Pertama harus dipahami, Golkar bukan merupakan partai figur, partai ini adalah partai kader. Figur-figur terbentuk secara alami dalam proses dinamika politik dan pengkaderan di internal partai. Berbeda dengan partai seperti PDIP dan Partai Demokrat yang memiliki figur dan besar karena figur.

Partai Demokrat misalnya tidak bisa kesampingkan figur SBY, pun dengan PDIP tidak pula bisa kesampingkan figur Megawati Soekarnoputri. Keduanya memegang pusat komando dan keputusan partai secara mutlak. Proses demokrasi apapun yang dikatakan terjadi di dalam partai-partai itu hanyalah pemanis, toh klan dari figur utama yang akan memegang hak waris dari kedua partai.

Baca Juga: Selain Fungsi Legislasi, Puteri Komarudin Jelaskan Bahwa DPR RI Juga Miliki Program Bantuan Nyata Untuk Rakyat

Golkar berbeda, ada ratusan, bahkan ribuan kepala yang ikut bertarung dalam setiap pengambilan keputusan. Keputusan DPP dipengaruhi suara DPD I, keputusan DPD I dipengaruhi suara DPD II, keputusan tingkat DPD II dipengaruhi suara PK (Pengurus Kecamatan), putusan PK dipengaruhi oleh PD (Pengurus Desa), sampai keputusan pada level paling bawah pun ada kepala-kepala individu yang berkontribusi.

Demokrasi ala Golkar ini membuat tongkat komando bisa tersebar ke banyak arah. Karena itu, jika ada riak-riak kecil dalam tubuh Partai Golkar, mulailah bergaung jargon ‘Golkar Solid’ guna meyakinkan stakeholder bahwa kondisi sedang baik, padahal itu adalah alarm bahwa soliditas adalah kunci dari keberhasilan partai.

Sebab kubu-kubu di Partai Golkar sudah cair, sulit dibekukan dengan hanya satu tongkat komando, hingga jargon harus digaungkan sejauh dan sebanyak mungkin kader untuk memupuskan konflik depan mata.

Baca Juga: Golkar Targetkan Raih 115 Kursi DPR RI di Pemilu 2024

Kini kondisi di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto, Partai Golkar mulai menemukan ritmenya. Kubu-kubu yang cair mulai membeku, tongkat komando dan soliditas terlihat jelas misalnya dalam perayaan HUT Ke-58, seluruh pihak bahu membahu mensosialisasikan hari besar partai sembari memasang figur Airlangga Hartarto di setiap baliho, poster ataupun leaflet sebagai Capres dan Ketua Umum Partai Golkar.

Airlangga Hartarto menjadi figur yang terbentuk dan dibentuk oleh demokratisasi di Partai Golkar, seharusnya proses bisa dihargai sebagai sebuah pencapaian. Karenanya internal Partai Golkar pun setengah mati perjuangkan hasil demokratisasi di internal partai bisa diwujudkan sebagai kemenangan di Pilpres 2024.

Pencalonan seorang figur sentral seperti Airlangga Hartarto diharapkan bisa mengatrol suara Partai Golkar di Pemilu Legislatif. Golkar sedang ingin membentuk trendnya sendiri.

Kekurangan dari gagasan pencalonan Airlangga Hartarto hanya satu, Partai Golkar tidak bisa keluar dari kungkungan kekuasaan dan Jokowi. Hingga isu yang terbentuk sangat minim, tidak ada sikap pembeda dari yang sudah ada. Meski isu keberlanjutan pembangunan cukup seksi, tapi itu tidak memunculkan pembaruan gagasan.

Baca Juga: Hasil Survei LSI, Pasangan Airlangga Hartarto-Khofifah Jadi Duet Paling Diinginkan di Pilpres 2024

Jika tetap mengusung gagasan keberlanjutan pembangunan, dan berharap simpati publik yang sebelumnya terarah pada Jokowi bisa berpindah ke Partai Golkar, logikanya justru terbalik. Pemilih Jokowi cenderung akan mendukung calon dari PDIP, karena secara ideologis partai ini lah yang melahirkan Jokowi. Tidak heran Ganjar Pranowo punya hasil survei yang bagus terlepas dari bagaimana kinerjanya, ia dapat coattail effect dari Jokowi.

Maka PDIP lah yang dianggap publik berhak mengklaim keberlanjutan pembangunan, terlepas dari bagaimana berprestasinya Airlangga Hartarto sebagai menteri Jokowi. Namanya akan tertutup oleh Jokowi, dan mungkin Ganjar Pranowo.

Akan berbeda cerita jika Airlangga Hartarto tanpa bermaksud berlawanan berani mengusung hal yang baru, entah itu gagasan, caranya berkomunikasi, gimmick politik, atau dasar ideologi.

Modal besar setidaknya sudah dimiliki Airlangga, yakni soliditas internal Golkar di bawah kepemimpinannya. Tinggal sekarang yang perlu diuji adalah keberanian Airlangga Hartarto keluar dari bayang-bayang Jokowi dalam hal gagasan dan ideologi pembangunan.

Baca Juga: Partai Golkar Mantap Usung John Tabo Sebagai Cagub Provinsi Papua Pegunungan

Golkar pun harus berusaha orisinil, tidak masalah jika tak tahan untuk beroposisi, tapi perlu dipahami bahwa pemilih modern, milenial, generasi z dan sebagainya di era ini menginginkan sebuah orisinalitas politik. Orisinalitas itu yang sekarang sedang coba dijejalkan kepada Puan Maharani dengan formula bercakap-cakap secara lepas dengan masyarakat, mirip dengan apa yang dilakukan Jokowi dan Ganjar Pranowo.

Saya yakin, Airlangga bisa memainkan perannya, mengambil ceruk pasar pemilih yang memilih Capres elegan dan punya gagasan cemerlang dibanding yang mengedepankan caranya berkomunikasi dengan publik. Karena itulah titik orisinalitas Airlangga Hartarto, buah pemikiran yang progresif, meskipun akan lebih cakap jika Airlangga Hartarto bisa pula menunjukkan caranya berkomunikasi dengan publik secara spontan dan orisinil. Maka ia bisa menjadi figur yang lengkap sebagai seorang pemimpin.

HUT Partai Golkar Ke-58 kini bukan lagi menjadi sebuah perayaan, tetapi menjadi penanda waktu. Bahwa waktu semakin sempit menjelang hajat besar Pilpres 2024. Sementara publik masih gamang, belum menemukan Capres yang ideal. Golkar dan Airlangga Hartarto terlepas dari posisinya yang berada di belakang kekuasaan harus bisa menangkap aspirasi publik, kemana arah angin yang sedang berhembus agar beringin tidak tercerabut dari akarnya. 

Oleh Rezha Nata Suhandi

Pimpinan Redaksi Golkarpedia.com

fokus berita : #Partai Golkar #Airlangga Hartarto #Rezha Nata Suhandi