19 Oktober 2022

Meutya Hafid: Konsep Digital Citizenship Harus Diterapkan Agar Masyarakat Bijak Dalam Gunakan Media Sosial

Berita Golkar - Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid mengtakan, berkembangnya teknologi dan informasi memberikan peluang bagi masyarakat untuk aktif mengkritik segala macam hal, termasuk politik, melalui ruang digital. Namun, dengan berkembangnya teknologi ini masyarakat harus lebih bijak dalam penggunaan media sosial.

"Digital netizenship menganut beberapa prinsip ideal, diantaranya bahwa setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban dalam tata cara berkomunikasi. Serta bertanggung jawab atas segala perilakunya terutama di dunia digital," kata Meutya dalam talkshow yang diselengarakan Sekolah Politik dan Komunikasi Indonesia yang bekerjasama dengan Kominfo di Bandung, Selasa (18/10/2022).

Meutya menambahkan, bahwa masyarakat Indonesia harus menyikapi kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi. Sebagai sebuah bentuk partisipasi aktif dan transpransi akuntabel yang dapat dilakukan oleh masyarakat digital.

Baca Juga: Didatangi PB PMII, Bamsoet Bicarakan Pentingnya Pembangunan IKN Nusantara

Sementara, dalam kesempatan yang sama Dekan FISIP UNIPAD Widya Setiabudi Sumadinata mengatakan, bahwa digital netizenship relevan dalam konteks kekinian untuk mewujudkan iklim demokrasi yang sesungguhnya di Indonesia. “Kemunculan konsep digital Citizenship ini tentu sangat baik bagi proses demokratisasi di Indonesia yang masih terus berjalan sampai saat ini," katanya.

Sementara itu, Ketua Departemen Ilmu Politik FISIP UNPAD, Caroline Paskarina mengungkapkan, bahwa telah terjadi perubahan kultur interkasi, terutama interaksi di bidang pendidikan yang dirasakan oleh Genereasi Z saat ini. Sehingga muncul berbagai fenomena death of expertise yang harus diwaspadai.

"Death of expertise", dimana kepakaran tidak hanya berasal dari satu sumber, sekarang sudah terjadi karena setiap orang memiliki hak untuk berbicara, itulah fungsi dari netizen untuk mengecek. Problemnya adalah pakarnya sendiri yang tidak mau berbicara, dimana terdapat tantangan untuk mengkomunikasikan bahasa-bahasa ilmiah melalui media," katanya.

Baca Juga: Demi Pemerataan Sambungan Internet di Indonesia, Menko Airlangga Hartarto Dukung Pengembangan Satelit Leo

Selain itu, CEO Pusat Penerangan Politik Iqbal Muhammad mengatakan, bahwa isu-isu yang lebih cepat direaksi oleh masyarakat adalah memang isu-isu yang dekat dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, Puspenpol selalu mengangkat tema yang dikritisi mahasiswa.

“Kalau Puspenpol selalu membahas yang dekat dengan mahasiswa. Seperti mengkritisi pemerintah, isu kekerasan seksual, dan masyarakat yang termarjinalkan," ujarnya. (sumber)

 

fokus berita : #Meutya Hafid