19 Oktober 2022

Melki Laka Lena Ajak Masyarakat Secara Kolektif Perangi Kasus Stunting di NTT

Berita Golkar - Emanuel Melkiades Laka Lena, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI mengajak semua masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk terus aktif membantu menanggulangi stunting atau gizi buruk.

Ajakan itu, disampaikan Melki Laka Lena pada acara kampanye Percepatan Penurunan Stunting di Aula Koperasi Solidaritas, Kayu Putih, Minggu (16/10) kemarin, di Kota Kupang.

Menurut Melki, ada enam daerah di NTT yang persentase angka stuntingnya masih tinggi, diantaranya daerah kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), Alor, Sumba Barat Daya (SBD), Manggari Timur, dan Kabupaten Kupang.

“Angka stunting paling tinggi adalah Kabupaten TTS (Timur Tengah Selatan) yang mencapai 50 persen,” kata Melki. Oleh karenanya, Ketua DPD Partai Golkar NTT itu menilai bahwa, perlu ada penanganan yang serius dalam menanggulangi stunting di provinsi NTT.

Baca Juga: Susunan Pengurus DPD Partai Golkar Jabar Periode 2022-2025 Didominasi Generasi Muda, Ini Daftar Lengkapnya!

Upaya tersebut, kata Melki, salah satunya adalah kalangan muda, untuk tidak mengkonsumsi alkohol, rokok, narkoba, dan seks bebas. Oleh karenanya, Alumni Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Jurusan Farmasi itu mengingatkan kepada kaum muda untuk menjauhi berpacaran.

Disisi lain, Melki juga menambahkan bahwa, Presiden Jokowi memberi pesan bahwa harus ada kerja sama lintas kementerian, semua kelompok di pusat, di Provinisi dan Kabupaten/Kota.

Perintah tersebut, lanjut Melki, tertuang dalam Perpes Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Artinya, Presiden Jokowi meminta kita semua agar melawan stunting.

Senada, Koordinator Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Perwakilan BKKBN Prov NTT, Mikhael Yance Galmin mengatakan, BKKBN memiliki program GENRE (Generasi Berencana) yang memiliki tagline untuk menghindarkan remaja.

Baca Juga: Ravindra Airlangga Dukung Penuh Transformasi Pertemuan AIPA Menjadi Panitia Sidang Umum AIPA

Program itu bergerak dari tiga resiko yakni mengajak semua remaja Indonesia untuk jangan dulu nikah dini, mengajak semua remaja untuk tidak tejebak dalam seks pranikah dan mengajak semua remaja untuk tidak terlibat dalam NAPZA.

Dari aspek program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana), Yance berpendapat bahwa, mahasiswa dan orang muda ada dalam dua posisi yaitu sebagai agen perubahan dan kelompok sasaran.

“Yang pertama sebagai agen perubahan yang bisa membantu kami, bisa menjadi mediator kami untuk mengkampanyekan dan melayani masyarakat tetapi juga sebagai sasaran.” kata Yance

“Karena program bangga kencana pendekatan siklus hidup mulai dari remaja, calon pengantin, ibu hamil, anak balita, remaja sampai dengn lansia,” pungkas Yance. (sumber)

 

fokus berita : # Emanuel Melkiades Laka Lena