03 November 2022

Dewi Asmara Usulkan Pembentukan Panitia Kerja Usut Kasus Gagal Ginjal Akut Pada Anak

Berita Golkar - Komisi IX DPR RI mengusulkan pembentukan Panitia Kerja (Panja) untuk memperdalam penyebab gagal ginjal akut yang telah menyebabkan 178 anak meninggal dunia dan 325 kasus gagal ginjal akut per 1 November 2022.

Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Dewi Asmara menjadi salah satu anggota Komisi IX DPR RI yang mengusulkan pembentukan Panja saat mengikuti Rapat Kerja Komisi IX DPR RI bersama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Rapat Dengar Pendapat dengan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny K Lukito, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah,Sekjen Gabungan Perusahaan Farmasi Andreas Bayu Aji, hingga Direktur Eksekutif IPMG Inge Kusuma.

Rapat dipimpin oleh Ketua Komisi IX DPR Felly Estelita di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Rabu (2/11/2022). Politisi Fraksi Partai Golkar itu melihat adanya ketidaksepahaman antara Menkes Budi Gunadi dengan Kepala BPOM Penny Lukito mengenai penyebab gagal ginjal akut.

Baca Juga: Termasuk Sukseskan Pencapresan Airlangga, Ini Syarat Golkar Untuk Dukung Ridwan Kamil di Pilgub Jabar 2024

"Kalau saya melihat sejak awal, statement-nya Pak Menteri ini seolah-olah sudah menyatakan bahwa EG, DEG lah yang menjadi penyebab. Sementara BPOM bilang belum ada bukti yang sahih, bukti yang akurat bisa diukur bahwa ini penyebabnya,” tandas Dewi Asmara

Menurut Waketum Depinas SOKSI, perbedaan pandangan yang sudah disampaikan Menkes dan Kepala BPOM tersebut justru akan membuat gaduh masyarakat. Karena itu, sebaiknya pemerintah segera menemukan apa penyebab pasti penyakit gagal ginjal akut tersebut.

“Kalau memang belum ditemukan, temukan. Temukan, jangan praduga, yang namanya obat-obatan itu enggak boleh diduga-duga, harus yakin,” tegas Legislator Dapil Jawa Barat IV tersebut.

Baca Juga: Skema Penyelamatan AJB Bumiputera 1912, Puteri Komarudin: Utamakan Pemenuhan Kewajiban!

Dewi Asmara pertanyakan terkait pernyataan BPOM bahwa perusahaan perusahaan tersebut sudah berada di daftar merah BPOM, maka seharusnya perusahaan yang diawasi dengan ketat tidak melakukan pelanggaran.

"Apakah kurang pengawasan dari BPOM? Untuk obat obat yang sudah ada hanya di keluarkan sekali, contoh ada satu merk tertentu untuk obat anak yang dari dulu sudah kita gunakan mendadak sekarang jadi tidak aman dan menimbulkan keresahan bagi masyarakat, apakah yang sudah punya izin edar di lakukan pengawasan berkala, supaya kita sebagai masyarakat benar benar aman?" Dewi Asmara minta penjelasan.

Menkes Budi Gunadi mengklaim kasus gagal ginjal akut sudah mengalami penurunan drastis. Penurunan itu disebabkan beberapa fakor, mulai dari pelarangan obat sirup mengandung cairan etilen glikol (EG), dietilen glikol (DEG) dan etilen glikol butil ether (EGBE) hingga mendatangkan antidotum atau obat penawar berupa Fomipizole yang diimpor dari luar negeri.

Baca Juga: Elektabilitas Moncer Partai Golkar Jadi Modal Penting Pencapresan Airlangga Hartarto di Pemilu 2024

"Terjadi penurunan kematian yang sangat drastis setelah adanya obat dari Tomipizole ini," kata Budi dalam paparannya di rapat kerja di Komisi IX DPR RI Jakarta, Rabu (2/11/2022).

Hasil pertemuan ini, Komisi IX DPR RI sepakat untuk membentuk panitia kerja (panja) untuk mengusut Kasus Gagal Ginjal Akut Pada Anak (GGAPA). {redaksi}

fokus berita : #Dewi Asmara