07 November 2022

Paling Siap Menang, Pengamat Ini Sebut Golkar Punya Modal Struktural dan Mesin Politik Terlengkap

Berita Golkar - Menuju Pilpres 2024, Partai Golkar dinilai punya semua sumber daya yang dimiliki, termasuk struktural partai lengkap hingga ke pelosok daerah. Pandangan ini disampaikan oleh Pengamat Politik dan Akademisi dari Universitas Sahid, Natalis Situmorang.

"Ormas yang dibentuknya dan berbagai organisasi lainnya yang secara ideologis maupun kesejarahan keluarga besar Golkar , yang kalau ini dikonsolidir dengan baik dan bergerak serentak, maka suatu keniscayaan kandidat presidennya menang," kata Natalis dalam keterangannya, Senin (7/11/2022).

Natalis menjelaskan, ketika Munas Golkar memutuskan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menjadi capres dari Partai Golkar, ia meyakini bahwa pertimbangan secara komprehensif sudah pasti diperhatikan.

Baca Juga: Saiful Anam: Dari Segala Aspek, KIB Paling Pas Usung Airlangga Jadi Capres 2024

"Yang bermunas itu kan sudah pelatih politik semua. Mulai dari kinerja Pak Airlangga Hartarto di kabinetnya Presiden Jokowi, pengalaman dan jam terbangnya di politik maupun bisnis, sekolahnya, bibit, bobot bebetnya," jelasnya.

Namun dalam perjalanannya, Partai Golkar menyadari tidak bisa mengusung kandidatnya sendiri karena perolehan kursi parlemen maupun suara pemilih nasional tidak mumpuni, maka harus berkoalisi dengan partai lain.

"Dalam perjalanan menuju koalisi inilah saya kira Partai Golkar pasti banyak pertimbangan, dan pertimbangan ini tentu tidak melulu soal kandidat saja tetapi berbagai kepentingan yang harus diakomodir," ucap Natalis.

"Karena kalau ada saja kepentingan pihak yang diajak koalisi tidak terakomidir dan batal berkoalisi maka sebanyak apapun pelatih, strategi dan mesin, semua tidak akan bisa digerakkan wong enggak ikut bertanding. Jadi bagi saya, jadi tidaknya Airlangga terletak pada partai lain mau tidak berkoalisi?" sambungnya.

Baca Juga: Pecahkan Rekor Musda Tercepat, Anita Noeringhati Sah Pimpin Kosgoro 1957 Sumsel

Di sisi lain, Natalis setuju kalau elektabilitas dan suara partai tidak bisa langsung dikonversi menjadi elektabilitas atau suara kandidat presiden. Namun berbeda dengan konteks Airlangga sebagai ketua umum sebuah partai besar yang kuat dan berpengalaman.

"Karena sejak pemilihan langsung dilaksanakan, sudah terbukti perolehan kandidat melampaui perolehan suara partai, namun sebaliknya juga terjadi, perolehan suara partai melebihi suara kandidat," ujar Natalis.

"Tetapi dalam konteks pencapresan Pak Airlangga Hartarto, saya melihatnya berbeda. Ada perbedaan yang signifikan antara Partai Golkar dengan partai lain dalam kontestasi pilpres. Perbedaan itu dalam hal mesin partai, dan ini saya kira modal utama Partai Golkar," tutupnya. (sumber)

fokus berita : #Partai Golkar