12 Desember 2022

Survei LKPI: Elektabilitas Airlangga Hartarto Ungguli Ganjar Pranowo Hingga Anies Baswedan

Berita Golkar - Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) kembali merilis hasil survei terbaru mereka tentang dinamika politik menuju Pilpres 2024 pasca tiga tahun pemerintahan Presiden Jokowi.

Direktur Eksekutif LKPI menyampaikan Heru Suyatno mengatakan, survei dilakukan karena dinamika politik jelang Pilpres 2024 yang terus meningkat. Apalagi, tak ada kontestan petahana karena Presiden Jokowi sudah dua kali menjabat. Sehingga akan ada banyak pihak yang mencoba memanfaatkan momentum di Pilpres mendatang.

“Dinamika politik tidak hanya disebabkan aktivitas dari kalangan politisi. Tapi kepala daerah dan kalangan eksekutif juga akan berlomba meningkatkan popularitasnya demi Pilpres 2024,” kata Heru Suyatno.

Calon pemimpin Indonesia ke depan, sebut Heru Suyatno, harus memiliki kemampuan melakukan transformasi di bidang pembangunan sumber daya manusia. Hal itu akan menjadi tantangan terbesar Indonesia di tengah gempuran teknologi sosial dan globalisme.

Baca Juga: Ini Tanggapan Bobby Rizaldi Atas Pemberian Pangkat Letkol Tituler TNI Untuk Deddy Corbuzier

“Untuk kriteria yang harus dipenuhi calon pemimpin di masa depan adalah mampu meningkatkan kualitas ekonomi dan sumber daya manusia Indonesia. Pasalnya, persaingan ekonomi ke depan akan semakin ketat,” tambah Heru Suyatno.

Heru Suyatno menjelaskan, metodologi teknik penetapan sampel dari survei dilakukan adalah probability sampling dengan cara multi stage random sampling dengan jumlah responden sebanyak 2.380 orang.

Teknik pengumpulan data survei dilakukan dengan wawancara melalui tatap muka dan sambungan telepon seluler dan whatsapp video call secara langsung di 34 ibu kota provinsi di Indonesia.

Dimana saat ini ada sekitar 188,6 juta masyarakat–dari total keseluruhan 269,6 juta penduduk Indonesia– yang sudah menggunakan ponsel pintar. Ini artinya, sekitar 70,1 persen penduduk Indonesia menjadikan ponsel sebagai sebuah perangkat primer.

Baca Juga: Rahmaddian Shah Optimis Golkar Kota Medan Mampu Rebut 8 Kursi DPRD di Pemilu 2024

Heru mengatakan, survei LKPI dilakukan lewat telpon dengan mempertimbangkan aspek  metodologis secara seksama adalah cara yang paling mungkin dilakukan di tengah-tengah upaya warga melakukan social distancing untuk pencegahan pandemi Covid-19.

“Untuk mendapatkan sampel yang proporsional dari responden yang memiliki telepon tersebut terhadap karakteristik populasi nasional dilakukan pembobotan terhadap sampel terpilih,” kata Heru kepada wartawan dalam keterangannya, Senin (12/12/2022).

Sampel hasil survei divalidasi untuk memastikan posisi responden yang dijadikan sampel sebagai pemilik telepon seluler digunakan aplikasi HLR Lookup dan Lacak dengan melihat kode area operator.

Sampel hasil survei divalidasi dengan membandingkan komposisi  demografi sampel dan populasi hasil sensus BPS 2020. Demografi tersebut meliputi, provinsi, gender, desa-kota, umur, etnis, dan agama.

Baca Juga: Tak Ada Penolakan, Misbakhun Optimis RUU PPSK Segera Disahkan

Bila ada perbedaan signifikan antara demografi sampel dan populasi, maka dilakukan pembobotan data sedemikian rupa sehingga komposisi demografi sampel menjadi proporsional terhadap populasi.

Heru menyebutkan, margin of error dalam survei ini sebesar +/- 2.01% dengan tingkat kepercayaan sebesar 95%. Survei dilakukan pada 22 November – 6 Desember 2022.

Hasil Survei LKPI: Kinerja Pemerintah

Dari hasil survei ditemukan fakta bahwa masyarakat cenderung berpandangan negatif terhadap institusi parpol dan para politisi. Karena para politisilah yang mengisi lembaga DPR RI, persepsi terhadap DPR RI pun secara konsisten cenderung negatif.

Menurut pendapat masyarakat dari temuan survei tingkat kepercayaan masyarakat kepada parpol dan DPR hanya berada di kisaran 41,7 persen. Ini angka terendah dibandingkan dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap presiden sebesar 86,2 persen, KPK 61,2 persen, Polri 80,2 persen, Kejaksaaan Agung 82,1 persen, dan TNI 83,2 persen.

Baca Juga: Golkar Purworejo Buka Pendaftaran Bacaleg, Masyarakat Umum Bisa Daftar, Begini Caranya!

Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan sebanyak 79,1 persen responen merasa sangat puas dengan kinerja pemerintahan Jokowi-Maruf Amin; dan sebanyak 9,3 persen tidak puas dan kecewa; dan sebanyak 11,6 persen tidak memberikan penilaian.

Tingkat kepuasan publik terhadap program strategis pemerintah saat pandemi Covid-19 selama dua tahun didapati bahwa masyarakat puas dengan pemulihan ekonomi nasional sebanyak 87,8 persen. Kemudian puas dengan penanganan dan pencegahan Covid- 19 sebanyak 67,8 persen, serta puas pemberian bansos sebesar 76,8 persen.

Preferensi Publik Terhadap Dinamika Politik Nasional Jelang Pemilu 2024: Terkait Partai Politik

Hasil penelitian  hasil  survei  menyatakan  kepercayaan masyarakat terhadap partai politik saat ini sangat rendah, karena hanya 15,7 persen  responden yang menilai partai politik memiliki kinerja yang baik. Sisanya sebanyak 84,3 persen menilai sebaliknya.

Dukungan terhadap partai politik sangat rendah dengan alasan dari 84,3 persen menyatakan bahwa partai politik bukanlah institusi yang menjadi saluran buat aspirasi publik ke pemerintah, tetapi partai politik lebih menjadi alat buat elit-elit politik untuk mencapai kekuasaaan dan menguasai sumber daya alam, dan sumber ekonomi yang ada, dan banyak kader parpol cenderung melakukan korupsi.

Selanjutnya, diuraikan Heru Suyatno, dari hasil temuan survei parpol yang paling sukses dekat dengan masyarakat sekaligus memiliki kemampuan untuk berada mengarahkan kebijakan negara sesuai kehendak masyarakat adalah Golkar. Sebanyak 82,9 persen responden menyatakan Golkar merupakan parpol yang sukses dekat dengan masyarakat. Kemudian disusul PDI Perjuangan 74,7 persen, Nasdem 72,8 persen, PKB 68,4 persen, PPP 64,8 persen, Gerindra 50,6persen, PAN 52,9 persen, PKS 47,8 persen, Demokrat 40,3 persen.

Baca Juga: Dyah Roro Esti: Electric Vehicle Bisa Jadi Solusi ‘Over Supply’ Listrik di Indonesia

Tingkat elektabilitas parpol (top of mind) dari hasil survei tingkat preferensi pilihan responden terhadap parpol jika pemilu legislatif digelar hari dengan simulasi pertanyaan top of mind atau terbuka, maka hasilnya sebanyak 16,3 persen memilih Golkar. Kemudian disusul PDI Perjuangan 14,6 persen, Gerindra 14,2 persen, Demokrat 7,7 persen, PKB 6,8 persen, Nasdem 4,8 persen, PKS 5,9  persen, PPP 2,6 persen, PAN 2,2 persen, dan gabungan partai politik lainnya 3,8 persen. Sementara yang belum menjawab sebanyak 21,1 persen.

Tingkat Keterpilihan dengan Pertanyaan Semi Terbuka

•             Golkar 16,30%

•             PDIP 14,60%

•             Gerindra 14,20%

•             Demokrat 7,70%

•             PKB 6,80%

•             PKS 5,90%

•             Nasdem 4,80%

•             PPP 2,60%

•             PAN 2,20%

•             Gabungan Parpol Lainnya 3,80%

•             Tidak Memilih 21,10%

Selanjutnya, tingkat elektabilitas parpol dengan pertanyaan mengunakan kuisioner hasil survei tentang tingkat pilihan responden  terhadap parpol dalam simulasi  survei semi terbuka dengan menyodorkan nama parpol, maka hasilnya Partai Golkar tetap teratas dengan 17,7 persen. Kemudian disusul PDI Perjuangan 15,6 persen, Gerindra 15,3 persen, Demokrat 8,1  persen, PKB 6,4 persen, PKS 5,4 persen, Nasdem 4,9 persen, PPP 2,7 persen, PAN 2,4 persen, dan gabungan partai partai lainnya tetap di bawah 4,7  persen, dan belum memilih sebanyak 16,8 persen.

Tingkat Keterpilihan Parpol (Pertanyaan Kuisioner Terbuka):

•             Golkar 17,70%

•             PDIP 15,60%

•             Gerindra 15,30%

•             Demokrat 8,10%

•             PKB 6,40%

•             PKS 5,40%

•             Nasdem 4,90%

•             PPP 2,70%

•             PAN 2,40%

•             Gabungan Parpol Lainnya 4,70%

•             Tidak Memilih 16,80%

Hasil survei LKPI: Tokoh Bakal Capres

Penilaian masyarakat terhadap tokoh bakal capres 2024-2029 didasarkan pada beberapa faktor ketika ditanyakan pada respoden diantaranya yang diharapakan olwh publik adalah tokoh yang didasarkan memiliki  pengalaman di pemerintahan dan track record yang clean person  88,7%, didasarkan pada pengalaman di legislatif 64,9%, didasarkan kemampuan dan prestasi saat menjabat di pemerintahan 80,3%, didasarkan pada pengalaman berorganisasi dan memimpin organisasi politik 59,6%.

Kemudian, kata dia, tingkat elektabilitas tokoh didasarkan pada empat ukuran  perilaku spesifik & aspek kepemimpinan transformasional untuk bakal presiden ke-8  yang dipilih masyarakat dengan simulasi nama-nama tokoh yang disodorkan pada responden, maka hasil survei menunjukan tingkat elektabilitas tokoh yang paling banyak dipilih oleh responden adalah Airlangga Hartarto sebanyak 17,20%, selanjutnya Prabowo Subianto 16,20% responden, Ganjar Pranowo 10,70% responden, Anies Baswedan 7,40%, Puan Maharani 4,7% responden, Sri Mulyani 4,60% responden, Muldoko 3,40% responden, Gatot Nurmantyo 3,20% responden, Erick Thohir 2,20% responden, Sandiaga Uno 1,90% responden, Ridwan Kamil 1,90% responden.

Baca Juga: Menakar Peluang Airin Rachmi Diany Menangkan Pilgub Banten 2024

Kemudian ada nama Khofifah Indar Parawangsa 1,80% responden, Agus Harimurti Yudhoyono 1,70% responden, Muhaimin Iskandar 1,70% responden, dan terakhir La Nyalla Mattalitti yang dipilih oleh 3,40%. Sedangkan yang belum memilih ada 20,30% responden

Survei ini dibiayai oleh dana mandiri oleh LKPI sebagai lembaga yang peduli dengan masa depan Bangsa Indonesia. Menanggapi hasil survei LKPI, Pengamat Politik dan dosen dari Universitas Esa Unggul Syurya M Nur mengatakan, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto membuktikan dirinya masih menjadi calon presiden yang diinginkan masyarakat Indonesia.

“Survei LKPI bukti Airlangga Hartarto masih diinginkan masyarakat karena ada perubahan dan ada keinginan presiden yang terpilih nantinya memang dekat dengan masyarakat,” kata Surya kepada wartawan, Senin (12/12/2022).

Baca Juga: Dapat Modal Dagang Dari Adde Rosi Khoerunnisa, Pedagang Cuanki di Kota Serang Berlinang Air Mata

Selain itu, kata Surya, adanya survei LKPI, Airlangga harus juga menyampaikan ke publik bahwa partai politik sudah sangat lebih baik. “Airlangga harus sampaikan ke publik jika partai politik sudah lebih baik lagi,” ucap Surya.

Surya menjelaskan, dengan melihat hasil survei itu sebagai peluang Airlangga sebagai capres di Pilpres 2024 masih sangat besar. “Peluang Airlangga sangat besar menang Capres 2024,” imbuhnya.

Menurut dia, jika melihat naiknya elektabilitas Airlangga Hartarto, maka saat ini sudah waktunya Airlangga memperlihatkan ke publik bahwa dia unggul dalam menentukan kebijakan-kebijakan ekonominya yang telah membawa perubahan ekonomi saat ini.

“Airlangga harus memperlihatkan ke publik bahwa dia unggul dalam menentukan kebijakan-kebijakan ekonominya yang telah membawa perubahan ekonomi saat ini,” pungkasnya. (sumber)

 

fokus berita : #Airlangga Hartarto