10 Januari 2023

Cerita Sarwono Kusumaatmadja, Sekjen Golkar Era Soeharto Dikuntit Intel Selama 3 Tahun

Berita Golkar - Sarwono Kusumaatmadja menceritakan saat dirinya menjadi Sekretaris Jenderal Golkar era Presiden Soeharto. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan ini bahkan sampai dikuntit oleh Intel selama tiga tahun.

Segala aktivitas sehari-harinya pun sampai turut dicatat oleh para Intel. Lantas bagaimana cerita Sarwono saat menjadi Sekjen Golkar era Presiden Soeharto?

Melansir dari akun YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL, Selasa (10/1/2023), simak ulasan informasinya berikut ini:

Sarwono pernah menjadi Sekretaris Jenderal Golkar. Padahal, itu merupakan jatahnya militer. Namun, Ia sendiri pun dipilih oleh Presiden Soeharto untuk menjadi Sekjen.

"Pernah jadi Sekretaris Jenderal DPP Golkar, waktu itu Ketua Umumnya Pak Soedharmono. Bayangin loh Sekretaris Jenderal DPP Golkar pada zaman itu, berarti orang yang dipilih sama Pak Harto," kata Dedi Mulyadi.

"Betul, di intelin tiga tahun saya," ujar Sarwono.

Baca Juga: Cen Sui Lan Ajak Warga Minoritas Turut Berkontribusi Aktif Membangun Bangsa dan Kepri

"Orang jadi Sekjen Golkar pada zaman itu, karena itu jatahnya," ucap Dedi.

"Militer," ungkap Sarwono.

"Tentara, pada zaman itu loh ketat," sambung Dedi Mulyadi.

Sarwono menjelaskan bagaimana bisa dirinya ditunjuk sebagai Sekjen. Sejak saat itu, Ia pun dikenal sebagai orangnya TNI.

"Dan kok bisa dipilih?," tanya Dedi Mulyadi.

"Nah ada rahasianya," ujar Sarwono.

"Terus yang dipilih ini orang nakal loh," kata Dedi.

"Iya," jawab Sarwono langsung tertawa.

"Jadi gini, waktu Munas Golkar tahun 87 itu ada Kolonel dari Intelejen bilang ke saya, 'Pak Sarwono, Bapak diproksikan oleh Jenderal TNI sebagai Sekjen Golkar',"

"Pada waktu itu Pak Benny Moerdani Asintel Pangab," kata Dedi.

"Bukan, Panglimanya M. Yusuf," kata Sarwono.

"Dan kebetulan Pak M. Yusuf itu Panglima TNI yang sangat populer, jujur, sederhana, punya integritas yang sangat tinggi," jelas Dedi.

"Jadi sejak saat itu saya dikenal sebagai orangnya TNI," ungkap Sarwono.

Baca Juga: Jelang Pemilu 2024, Suhartina Bohari Beri Pembekalan Politik 70 Bacaleg Golkar Maros

"Jadi gini saya sih enggak ambil pusing soal ke Sekjen-an, karena kan dari dulu tentara. Tiba-tiba waktu susunan DPP Golkar dulu kan betul saya jadi Sekjen. Saya datang ke Pak Benny, 'Pak Benny, terima kasih saya sudah didukung Pak Benny. Tapi saya pengin tahu alasannya apa? Karena kita kan belum pernah bicara soal ini'," paparnya.

"Pak Benny bilang, 'kamu ditanya sama orang yang nyuruh saya jadiin kamu Sekjen? Lu bodoh bener sih, yang bisa nyuruh gue kan cuma Soeharto. Tanya saja sama Pak Harto, gue juga nggak ngerti' katanya," lanjutnya.

"Jadi saya lihat tuh laporan Intel nya, karena Pak Benny setelah saya jadi Menteri, Pak Benny bilang 'Sar, kamu punya laporan tuh ada rusak. Sehingga isinya jadi jelas sekali'. Saya bilang, 'benahin semampu saya, seingat saya'. (Pak Benny) 'Mau lihat nggak?'" ungkap Sarwono.

"Itu dari 79 sampai 83 diintip tentaranya. Isinya waduh, riwayat hidup oke lah, silsilah keluarga oke lah, kawan dekat oke. Tapi setiap statement di koran di majalah itu di analisis. Sudah gitu percakapan dicatat, ketemu siapa, jam berapa, di mana, ngapain, ada (catatannya)," jelasnya.

"Perwira yang ditugasin untuk intel saya akhirnya kenal sama saya. (Pangkat) sekarang dia Mayjen purnawirawan," tambahnya. (sumber)

fokus berita : #Sarwono Kusumaatmadja