14 Januari 2023

Dedi Mulyadi Bakal Dampingi Korban Bully di SMPN 4 Darangdan, Purwakarta Hingga Tuntas

Berita Golkar - Kasus bully di Kabupaten Purwakarta, ternyata berujung kepada adanya permintaan uang damai sebesar Rp 50 juta. Untuk itu, Anggota DPR RI Dedi Mulyadi turun tangan untuk mendampingi seorang guru di SMPN 4 Darangdan, Kabupaten Purwakarta, yang dimintai uang damai tersebut oleh orang tua siswa.

Hal tersebut bermula saat seorang siswi di SMPN 4 Darangdan dibully oleh seorang siswa karena sejak lahir mengalami disabilitas. Karena tak kuat selalu dibully siswi tersebut menangis histeris di dalam kelas.

Tak lama siswi itupun dievakuasi ke ruang guru. Sementara guru kesiswaan sekaligus pembina osis yang akrab disapa Bu Yoyos mencari siswa pembully tersebut.

Mulanya siswa tersebut mengelak telah membully dan hendak kabur. Secara reflek Yoyos pun memukul siswa tersebut menggunakan gagang sapu. Akhirnya siswa itu pun mengakui perbuatannya dan meminta maaf pada siswi yang menangis karena dibully.

“Ternyata bully kemarin itu terus menerus dan mungkin kemarin puncaknya sampai R (siswi disabilitas korban bully) menangis menjerit katanya gak kuat sampai mau bunuh diri,” ujar Yoyos saat bertemu dengan Kang Dedi Mulyadi di SMPN 4 Darangdan, kemarin.

Baca Juga: Wayan Suyasa Ajak Kader Golkar Badung Kedepankan Politik Santun Raih Kemenangan di Pemilu 2024

Yoyos mengatakan sehari berselang ia didatangi oleh orang tua siswa yang sebelumnya dipukul oleh gagang sapu. Orang tua itu mengaku tidak terima anaknya dipukul.

Setelah ditelusuri ternyata selama ini siswa tersebut tinggal bersama neneknya. Sementara ibunya bekerja di Arab Saudi dan bapaknya telah bercerai kemudian telah menikah kembali. “Ternyata yang punya inisiatif lapor ke polisi itu adik ipar bapaknya. Saya sudah di BAP satu kali, mediasi sudah dua kali,” ucapnya.

Pada mediasi terakhir, kata Yoyos, pihak keluarga siswa diwakili oleh seseorang yang mengaku wartawan. “Saya gak tau wartawan dari mana. Beliau menginginkan uang yang menurut kami tidak masuk akal, minta Rp 50 juta. Saya gak sanggup hanya ada Rp 1,5 juta dia tolak katanya terlalu jauh,” ujarnya.

Akibat hal tersebut Yoyos yang masih memiliki bayi mengaku stress karena dilaporkan ke polisi dan dimintai uang damai Rp 50 juta. “Strees, Pak. Sampai kemarin ASI seret,” katanya.

Selain bertemu Yoyos, Kang Dedi juga bertemu dengan siswi korban bully. Ia menyemangati siswi tersebut. “Semangat tidak boleh terpengaruh bully yang kemarin, Neng cantik punya harapan punya masa depan,” ucapnya.

Baca Juga: Sikap 8 Fraksi Konstitusional, Ahmad Doli Kurnia: DPR Wakili Suara Mayoritas Dalam Sidang Pleno MK

Menurut Kang Dedi seharusnya pihak orang tua siswa tidak perlu marah apalagi lapor ke polisi. Sebab ini masih dalam lingkup pendidikan bukan murni penganiayaan. Terlebih korban maupun pelaku bully keduanya adalah anak yang kurang perhatian. Sehingga perlu perhatian lebih.

“Ibu tenang saja karena yang dilakukan adalah unsur pendidikan bukan penganiayaan. Ibu tenang saja, saya dampingi sampai tuntas. Dan saya yakin polisi tidak akan proses lebih lanjut. Karena dalam pandangan saya ini unsur pendidikan. Dan dua anak ini saya pikir anak baik hanya kurang perhatian,” kata Kang Dedi.

Pria yang identik dengan iket putih ini pun meminta agar Yoyos fokus untuk mengajar dan tidak perlu memikirkan kasus apalagi uang Rp 50 juta. Sebab ia akan mendampinginya hingga kasus tersebut selesai.

“Ibu mah mengajar saja dengan baik tidak usah berpikiran yang lain-lain. Dan ibu tidak perlu memenuhi yang Rp 50 juta dan saya yakin aparat objektif,” ujarnya.

Di akhir pertemuan Kang Dedi pun bertemu dengan siswa pelaku bully. Ia pun menasehatinya agar hidup saling menyayangi dan tak boleh lagi melakukan bully.

Baca Juga:  Survei Terbaru PSI: Kebijakan Airlangga Hartarto Paling Banyak Dirasakan Masyarakat

Saat ditanya apakah ia mau memenjarakan gurunya yang memukul, siswa tersebut dengan tegas menjawab tidak. “Enggak, Pak,” ucap siswa tersebut.

Terakhir Kang Dedi Mulyadi mempertemukan siswa pelaku bully dan siswi korban bully. Keduanya diminta saling bermaafan dan berjanji untuk saling menjaga. “Hidup yang berat itu bukan minta maaf tapi yang berat itu memaafkan,” tandas Kang Dedi yang diwarnai tangis haru seisi ruangan guru. (sumber)

 

fokus berita : #Dedi Mulyadi