14 Mei 2018

Berita Golkar - Syahganda Nainggolan: Melayu Spring akan Melanda Indonesia http://www.tribunnews.com/nasional/2018/05/11/syahganda-nainggolan-melayu-spring-akan-melanda-indonesia

Kemenangan oposisi di Malaysia memberi keyakinan kubu penantang Jokowi, bahwa incumbent, sekuat apapun, bisa dikalahkan.

Bisakah kubu oposisi di Indonesia meniru sukses Mahathir? Apa saja syaratnya?
https://www. hersubenoarief.com/artikel/mahathir-effect-dan-2019gantipresiden/

Tulisan Saya di bawah ini adalah sebuah tulisan untuk membangun sebuah dialektika pemikiran terkait tulisan oleh Abangda Syaganda Nainggolan dan Kang Mas Hersubeno Arief

Membangun narasi seperti di atas untuk membangun kepercayaan diri bagi oposisi boleh-boleh saja dan sah di alam demokrasi saat ini.

Tapi harus diingat bahwa semangat menumbangkan Najib yang korup dan terlibat langsung dalam skandal M1DB sama seperti semangat reformasi 1998 di Indonesia.

Sangat berbeda antara Najib dengan Presiden Jokowi. Rakyat tahu bahwa Presiden Jokowi praktis dalam pemerintahan nya tidak ada skandal korupsi baik yang kecil sampai besar yg mengarah pada diri pribadi Presiden Jokowi. Semua Program pembangunan dalam rangka kerja...kerja...kerja berjalan dengan baik. Rakyat merasakan hasilnya.

Menyamakan INDONESIA dibawah kepemimpinan Presiden Jokowi dengan Malaysia dibawah kekuasaan Najib yang korup dan UMNO sebagai partai yg tidak mereformasi dirinya ditengah arus perubahan demokrasi adalah kegagalan pihak opisisi Indonesia membangun narasi yg cerdas.

Terjebak pada kebuntuan akal mencari titik lemah yang bisa dipakai untuk menjadi titik pijak yang bisa menggambarkan bahwa mereka adalah opisisi yang berpikir pada landasan kepintaran membangun narasi adu program dan ide serta gagasan bagaimana mengisi kekuasaan dengan hal yang produktif untuk mewujudkan cita-cita negara sebagai amanat konstitusi.

Itu yang pihak oposisi Indonesia lupa.

Jatuhnya Najib tidak bisa dijadikan harapan untuk mengalahkan Jokowi. Jatuhnya Najib adalah pengulangan sejarah atas jatuhnya Pak Harto. Ketika kemarahan rakyat memuncak karena pameran penyalahgunaan kekuasaan yang sangat telanjang.

Jokowi sangat jauh dari itu.

Paling enak dan menguntungkan adalah pemerintahan yang tidak punya lawan politik yg punya kecerdasan dengan tingkat kecerdasan yang memadai. Oposisi yang terlalu percaya pada sendiri mereka sendiri sehingga kepercayaan diri yang over valued tersebut akan menjadi anak kunci pembuka bagi pintu gerbang menuju jalan yg berujung pada kegagalan membangun narasi yg bisa merekonstruksi atau mereduksi kekuasaan penguasa.

Walaupun tidak ada yang mudah bagi kekuasaan petahana dan tetap butuh keras untuk menang kembali tapi menghadapi lawan yang miskin ide dan miskin gagasan dalam membangun narasi yg bisa membangun kepercayaan diri oposisi yang pola sejarah perjalanan hidup nya lahir dari riwayat kekalahan ke kekalahan yg lain dalam kontestasi politik akbar maka kemenangan bagi incumbent itu tinggal masalah waktu saja untuk ditasbihkan.

Pihak Presiden Jokowi sangat sadar sepenuhnya bahwa kekuasaan mereka saat ini adalah kekuasaan yg punya kelemahan dan bukan kekuasaan yang sempurna namun ada kesadaran untuk mengakui hal itu ada dengan sebagai kesadaran yang kuat.

Adanya kejujuran pada adanya kelemahan itu menjadi kekuatan kekuasaan Presiden Jokowi untuk merangkul semua kekuatan politik yang ada untuk bergabung pada satu barisan yang terkonsolidasi demi Indonesia yang lebih baik guna mewujudkan cita-cita negara kesejahteraan sesuai amanat konstitusi secara gotong royong sebagai azas kebersamaan membangun negara.

Mereka menyebut akan adanya Melayu Spring karena mereka gagal memahami bahwa pemerintahan Presiden Jokowi lahir dari proses demokrasi yang terbuka dan legitimate. Kekuasaan Presiden Jokowi bukanlah kekuasaan yang tidak tak terbatas karena ada kontrol parlemen yang juga merupakan hasil pemilu yang kontitusional dan sama legitimate nya.

Kebebasan berbicara, berorganisasi dan kebebasan pers tidak ada satupun yang dikurangi sebagai bagian dari pra syarat dasar pranata demokrasi selama kekuasaan Presiden Jokowi. Kalau Melayu Spring hendak diibaratkan seperti Arab Spring yang lahir karena belum demokratis nya jazirah Arab maka Indonesia sudah lebih dulu melakukannya dengan gerakan reformasi 1998 yang lalu.

Demokrasi berjalan dengan sangat baik selama kekuasaan Presiden Jokowi.

Kekuasaan Presiden Jokowi dipakai untuk melakukan aksi tindak yang nyata bahwa kekuasaan itu harus diisi dengan kerja. Kekuasaan itu dicatat karyanya. Berapa prasasti keberhasilan yang telah dirampungkan bukan soal cerita panjang tanpa pembuktian.

Salam Jokowi 2 Periode

Mukhamad Misbakhun, Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar (FPG)

fokus berita : #Misbakhun


Kategori Berita Golkar Lainnya