01 Agustus 2018

Berita Golkar - Mau tak mau harus debat. Itu sudah kodrat demokrasi. Karena debat itu seperti proses saintifikasi demokrasi, dalam mencerdaskan pikiran publik. Atau semacam suatu research untuk menemukan masalah dengan diskursus atau menyelami diskursus publik. Kurang lebih demikian.

Sebagai rakyat kecil yang suka selonjoran depan TV, saya memang sering sependapat dengan profesor Rocky. Tapi kadang, dalam beberapa sudut pandangnya, bikin saya agak geli-geli gimana gitu. Misalkan, tempo di twitterland, dia twitt, bahwa “perubahan itu takdir politik.”

Meski doktor Rocky dalam soal main-main logika dia jago. Bahkan untuk ukuran Indonesia jarang ada sekaliber dia, tapi twitt-nya kali ini bikin saya sewot. Karena itu saya langsung cepat-cepat me-retwitt dengan komentar. “Prof, takdir itu sesuatu yang statis, meski engga given, tapi perubahan juga sesuatu yang terus menjadi (to be; continued). Jadi perubahan dalam politik itu sesuatu yang engga finally, tapi proses yang terus menjadi. Kalau takdir itu sesuatu yang ultimate. Bagiaman cara prof mencampurkan keduanya (perubahan dan takdir)?

Itu satu-satunya protes saya pada prof Rocky. Selebihnya saya bersepakat dengannya. Memang dia banyak hatters di lini masa. Apalagi yang ananonim. Sekali dia twitt soal Jokowi, pasti bejibun hatters langsung sambar dengan umpatan.

Ia pangil hatters-hatters itu dengan sebutan Cebong. Atau sekarang populer dengan Cabi. Meski dua-duanya sama, para the Soldiers of the virtual World yang acap membela Jokowi dan juga Ahok. Bahkan untuk Ahok, para anonymous ini pernah terkuak di media asing; The Guardian. Mereka adalah buzzer sekaligus produsen Hoax yang digaji Rp.3,9 juta per bulan. Ini hasil investigasi The Guardian edisi 23 Juli dengan judul ; 'I felt disgusted': inside Indonesia's fake Twitter account factories.

Selanjutnya, saya bersepakat dengan Rocky, karena dia menjadi salah satu akademisi yang “tidak tanggung.” Dia menjadi antithesis dari mainstream akademisi yang memilih diam. Sedikit yang melawan rezim Jokowi yang pro aseng dan konglomerat.

Benturan-benturan Profesor Rocky itu selalu memecahkan kejumudan pikiran publik yang kritis. Perciknya itu menghasilkan partikel-partikel diskursus yang berserakan. Disitulah publik yang kritis, memungut satu persatu partikel kecerdasan itu dalam percakapan publik. Entah talk show di tv atau off air.

Indonesia Lowyers Club (ILC) 31 Juli 2018 cukup alot dengan pendapat prof Rocky. Bagaimana tidak jengkelnya corong PDIP dan Nasdem, di ILC Rocky bilang, “dalam penundaan itu terdapat kecemasan. Kalau Jokowi tunda mengumumkan siapa cawapres dia, itu artinya ada kecemasan dan persekongkolan."

Katanya, disitu juga ada tembok feodalisme politik yang memagari kebebasan Jokowi sebagai petugas partai. Karena Megawati, belum meralat perkataannya bahwa Jokowi adalah petugas partai. Kata Rocky, kapasitas sebagai petugas partai adalah faktor tunggal kenapa Jokowi menunda mengumumkan siapa cawapres dia.

Bahkan Rocky bilang, bila disaat yang sama, bila ada survei politik, maka kecemasan ini akan serta-merta memeloroti elektabilitas Jokowi. “Katanya kuat, kenapa takut dengan siapa cawapres Prabowo. Kalau Jokowi kuat, semestinya dia lebih berani dan cepat mengumumkan siapa cawapres dia,” demikian tembakan Rocky yang disasarkan ke partai koalisi Jokowi.

Sontak, perkataan Rocky ini bikin mendidih forum ILC. Dua corong Jokowi (PDIP dan Nasdem) dongkol setengah mati. Ade Irma Chaniago (Nasdem), sampai menuding-nuding jari syahadatnya ke arah Rocky. Tadinya saya pikir ibu Irma ini punya argument kuat mematakahkan analisis Rocky. Eh dia cuma bilang gini “sok tau anda pak Rocky.”

Kader Nasdem ini tak perang diskursus. Dia cuma menuding. Logikanya sudah dibentuk “if not with us, against with us.” Ini logika paling polos dalam bangunan diskursus yang sudah sophisticated di ILC.

Ade Irma bilang, pendapat Rocky cenderung pro SBY dan Prabowo. Eh dijawab enteng Rocky begini “kalau saya pro Jokowi baru saya bisa dibilang adil? Jawaban Rocky itu, bukan cuma mematahkan, tapi memeloroti seluruh bangunan beton logika dan kuda-kuda yang dipasang kader PDIP dan Nasdem di acara ILC (31/7/2018). Wallahu’alam.

Abdul Hafid Baso, Kader Muda Partai Golkar dan Ketua PP AMPG

fokus berita :


Kategori Berita Golkar Lainnya