14 Agustus 2018

Berita Golkar - Kalaulah Dubai Square yang dibangun di Dubai Creek Harbour, yang luasnya 100 Kali lapangan sepak bola dengan Biaya pembangunan USD 2 Miliar atau 29,26 Triliun dan diklaim sebagai Mall Terbesar di dunia selesai dibangun, maka akan menjadi tonggak sejarah baru peradaban umat manusia yang selama ini hanya percaya bahwa toleransi bisa terbangun jika kultur yang berbeda bisa dibuat harmoni.

Sebetulnya,tidak ada yang istimewa dari Dubai Mall itu, karena lazimnya pusat perbelanjaan pasti akan menampilkan toko yang menawarkan aneka produk. Tetapi karena Dubai Mall dirancang sebagai lokasi China Town terbesar di dunia, maka menjadi tidak lazim khususnya bagi Kawasan di timur tengah.

Saya jadi merenung bahwa ternyata pemahaman kita tentang toleransi selama ini perlu digali lebih dalam lagi. Bagaimana tidak, sejak di sekolah dasar dulu, ditanamkan bahwa toleransi itu hakikatnya jika kita bisa menerima perbedaan, menghormati teman yang berbeda agama, suku dan budaya. Maka itulah Toleransi. Kewajiban yang harus dijalankan sebagai Warga negara Indonesia yang heterogen dan oleh kita diperkuat dengan Simbol BHINNEKA TUNGGAL IKA, yang artinya biarpun kita berbeda-beda tapi tetap satu.

Dunia terus berkembang dan maju. TOLERANSI tidak lagi sekedar kewajiban, tapi menjadi Kebutuhan dan melebar kepada berbagai aspek kehidupan ummat manusia. Di bidang Ekonomi misalnya, bagaimana suatu negara seperti Uni Emirat Arab di Dubai yang tidak terlalu besar itu, justru melihat pentingnya membangun kawasan China Town terbesar di dunia karena kebutuhan menyambut kunjungan Wisatawan China yang memang dikenal sebagai negara dengan Wisatawan terbesar didunia.

Bagaimana dengan kita Indonesia? Bukankah kita punya China Town yang dikenal dengan Glodok itu? Kini pelan-pelan redup dan tidak lagi berkembang. Barangkali torehan sejarah kelam yang kita lalui, membuat kita trauma. Sehingga kita seakan membentengi diri dan mulai terus berpikir untuk menutup Akses ekonomi yang luas bagi saudara-saudara kita keturunan tionghoa yang memang menguasai ekonomi kita.

Seandainya kita memahami secara mendalam Pasal 33 Ayat 1 Undang-undang dasar 1945, barangkali itu tidak perlu terjadi. Bukankah pasal itu menyebutkan bahwa perekonomian nasional disusun sebagai usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan yang sebetulnya menyiratkan bahwa tiap warga negara punya hak dan kewajiban untuk ikut berpartisipasi dalam perekonomian nasional.

Founding Father kita memang luar biasa. Menggunakan Frasa DISUSUN (bukan diatur atau ditata), yang menyiratkan bahwa para pendiri bangsa ini, memahami betul bahwa dalam hal ekonomi, maka ada Hirarki yang berarti ada kesempatan bagi usaha Kecil, menengah dan besar untuk berpartisipasi dalam membangun ekonomi nasional yang pada akhirnya menjadi usaha bersama dalam Indonesia in Corporated.

Pada Akhirnya.Jika Bangsa ini dibangun atas Dasar Toleransi yang tidak sekedar diartikan sempit, maka bangsa besar ini akan menjadi kekuatan ekonomi yang akan disegani didunia.

Ditulis oleh:
Anggota Fraksi Partai Golkar (FPG) DPR RI dari dapil Riau
HM. Idris Laena
Dalam rangka menyongsong 73 tahun Indonesia Merdeka.

fokus berita : #Idris Laena


Kategori Berita Golkar Lainnya