13 Agustus 2018

Berita Golkar - Indonesia mencatatkan sejarah untuk pertama kali merebut gelar juara Piala AFF U-16. Pada babak Final, Garuda Muda berjuang hingga drama adu penalti untuk mengalahkan Thailand di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Sabtu (11/8). Kemenangan Timnas U-16 mendapat apresiasi dari mantan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi.

Pria yang akrab disapa Kang Dedi itu pun terharu. Pasalnya, di dalam skuat besutan Fachri Husaini, terdapat lima pemain lulusan ASAD Jaya Perkasa yang dibina Dedi sejak 2013. Lima pemain jebolan ASAD Jaya Perkasa itu adalah Yadi Mulyadi, Hamsa Medari Lestahulu, Muhammad Fajar Faturrahma, Ahludz Dzikri, dan Muhammad Talaohu. Bahkan, Fajar Faturahman menjadi satu-satunya pencetak gol ke gawang Thailand pada waktu normal.

Kang Dedi berterima kasih atas dedikasi anak-anak ASAD selama turnamen. Latihan keras penuh disiplin disertai doa menjadi faktor penentu kemenangan Timnas U-16 dan memberikan kado bagi Indonesia menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke-73. “Saya terharu dan bahagia. Anak-anak dari desa mampu membuktikan diri. Apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak. Ini kado untuk peringatan kemerdekaan kita,” kata Dedi, Senin (13/8/2018).

Proses panjang ASAD Jaya Perkasa hingga berkontribusi bagi Timnas diceritakan manajernya Habib Alwi Hasan Syua’aib. Diakui, pemikiran kultural Ketua DPD I Partai Golkar Jabar itu diadopsi untuk menggembleng mental dan kualitas para pemain ASAD. Beberapa di antaranya, anak SSB ASAD Jaya Perkasa diharuskan bangun tidur sebelum ayam berkokok. Dengan demikian, mereka harus bangun saat subuh dan melaksanakan shalat subuh berjamaah.

Setelah itu, siswa diharuskan mengaji sebelum melahap berbagai menu latihan. “Anak ASAD yang Muslim shalat subuh berjamaah kemudian mengaji. Teman-temannya yang non-Muslim menyesuaikan mempelajari kitab agamanya. Intinya, bangun pagi menjadi kewajiban. Ini belajar karakter,” kata Alwi menirukan gaya bicara Kang Dedi.

ASAD adalah akronim dari Asli Sepak Bola Anak Desa, lantaran para pemain ASAD Jaya Perkasa dipilih dari anak-anak desa. Alwi menuturkan, dipilihnya anak desa menjadi siswa ASAD lantaran kultur anak desa cenderung kuat dan tidak cengeng. Meskipun, Alwi mengakui kultur tersebut ada pada diri anak-anak kota dalam frekuensi tidak massif. Alasan kultur ini yang membuat Alwi dan Dedi berkeliling dari desa ke desa mencari bibit pemain sepakbola.

“Kuat dalam berbagai hal dan mudah diarahkan, tidak cengeng. Ini terus terang saja melatarbelakangi saya dan Kang Dedi untuk terus apruk-aprukan (menjelajahi) desa. Kita konsisten mencari bibit pemain sepakbola,” katanya. Saat dikonfirmasi, Kang Dedi mengamini keterangan koleganya tersebut. Fans fanatik klub Liga Primer Inggris, Chelsea, itu mengaku saat ini sedang melanjutkan tren positif pembinaan.

Momen Agustusan dimanfaatkan Dedi untuk menggelar turnamen sepakbola bagi anak-anak usia di bawah 15 tahun di empat kabupaten. Dedi menjelaskan, batas usia di bawah 15 tahun ditentukan agar dapat diarahkan menjadi pemain sepakbola profesional.

Selain itu, para orangtua diwajibkan menonton pertandingan mereka untuk memberikan dukungan moral. “Nanti masuk seleksi kita, ada kontrak sampai umur 18 tahun kita bina menjadi pemain sepakbola modern. Kalau berprestasi tidak boleh dulu menjadi model iklan, harus fokus. Kita sekarang ada turnamen sampai Desember, empat kabupaten kita libatkan,” katanya. [beritasatu]

fokus berita : #Dedi Mulyadi


Kategori Berita Golkar Lainnya