15 Agustus 2018

Berita Golkar - Mantan Sekjen DPP Partai Golkar Idrus Marham tidak membantah kecipratan uang hasil skandal suap proyek PLTU Riau-I. Hal itu disampaikan Idrus setelah menjalani pemeriksaan penyidik KPK selama kurang lebih 12 jam lamanya. Idrus menolak menjelaskan secara detail terkait aliran suap proyek PLTU tersebut. Ia berdalih, aliran skandal suap PLTU Riau menjadi ranah penyidik KPK.

"Saya lagi-lagi tidak dalam posisi menjelaskan substansinya, tetapi yang saya jelaskan tadi bahwa saya cukup lama karena saya minta supaya diselesaikan," kata Idrus, usai menjalani pemeriksaan, Rabu (15/8/2018). Pun demikian, Idrus tidak membantah penyelidikan baru dalam pemeriksaannya. Idrus diduga ikut dalam pemulusan Blackgold Natural Resources Limited sebagai konsorsium penggarap proyek perusahaan bernilai USD900 juta tersebut.

"Saya ngga tahu penyelidikan itukan KPK, masa saya tahu bahwa begini-begini. Penyidik lebih paham bagaimana penyelidikan," kilahnya. Idrus mengakui terlibat pembahasan proyek PLTU Riau-I. Menurutnya sepanjang pemeriksaan penyidik lebih banyak mencecar pertemuannya bersama Dirut PLN Sofyan Basir dengan kedua tersangka, yakni Wakil Ketua Komisi VII Eni Maulani Saragih dan bos Blackgold Natural Resources Limited Johannes Budisutrisno Kotjo (JBK).

"Pokoknya saya katakan semua yang terkait yang saya ketahui sudah saya jelaskan semuanya," kata Idrus. Ini ketiga kalinya Idrus diperiksa KPK sebagai saksi dalam kasus dugaan suap PLTU Riau-I. KPK beberapa waktu lalu sudah memastikan keterlibatan Idrus dan Sofyan dalam kasus ini. Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, dugaan keterlibatan Idrus dalam kasus itu berdasarkan CCTV yang disita penyidik KPK dari sejumlah tempat.

"Baik CCTV yang ditemukan di rumah direktur utama PLN atau pun kantor yang dilakukan penggeledahan beberapa waktu yang lalu, itu sudah dilihat oleh penyidik," kata Febri, di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (2/8/2018). Dalam CCTV yang disita KPK dari sejumlah lokasi, Idrus dan Sofyan terekam beberapa kali melakukan pertemuan dengan kedua tersangka, yakni Eni Maulani Saragih (EMS) dan Johannes Budisutrisno Kotjo (JBK).

"Proses ini akan terus berjalan untuk menemukan bukti-bukti dan bila ada petunjuk lain maka akan dikembangkan. Sebagian sudah kami dalami dalam pemeriksaan sebagai saksi dua kali, beberapa pertemuan dan pembahasan terkait dengan PLTU Riau 1. Tetapi apa saja yang ditanya atau disampaikan saksi saat itu, belum bisa disampaikan," kata Febri. [jurnas]

fokus berita : #Idrus Marham


Kategori Berita Golkar Lainnya