19 Agustus 2018

Berita Golkar - Pemerintah bertekad memacu sektor industri manufaktur agar terus meningkatkan nilai tambah, terutama melalui penerapan revolusi industri 4.0. Hal ini sejalan dengan upaya mentransformasi ekonomi menuju negara yang berbasis industri. Menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, aktivitas industri konsisten memberikan multiplier effect bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

"Di antaranya penerimaan devisa dari ekspor, pajak, dan cukai serta penyerapan tenaga kerja yang cukup banyak," kata Airlangga, Jumat (17/8/2018) Pada triwulan II-2018, industri pengolahan menjadi kontributor terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan nilai mencapai 19,83%. Sementara pertumbuhan industri pengolahan nonmigas, berada di angka 4,41%, lebih tinggi dibandingkan capaian di periode serupa tahun lalu sebesar 3,93%.

Adapun sektor-sektor yang menjadi penopang pertumbuhan industri pengolahan nonmigas, antara lain industri karet, barang dari karet, dan plastik yang tumbuh sebesar 11,85%. Kemudian diikuti industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki sebesar 11,38%. Selanjutnya, pertumbuhan industri makanan dan minuman yang tumbuh 8,67%, serta industri tekstil dan pakaian mencapai 6,39%.

"Kinerja dari sektor-sektor manufaktur tersebut mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Ketua Umum Partai Golkar itu. Airlangga menegaskan bahwa sektor manufaktur menjadi salah satu ujung tombak perekonomian Indonesia karena kontribusinya mencapai 18-20%. "Jadi, kami tetap fokus untuk memperkuat sektor riil di dalam negeri," paparnya.

Dilihat dari neraca perdagangan, sektor industri berbasis sumber daya alam masih menunjukkan kinerja positif. Pada Mei 2018, sektor manufaktur yang mengalami surplus adalah industri kayu, barang dari kayu, dan gabus sebesar US$387,32 juta; industri kertas dan barang dari kertas sebesar US$310,71 juta; serta industri furnitur US$101,90 juta. Selain itu, sub sektor lain, industri pakaian jadi juga menunjukkan surplus perdagangan senilai US$696,29 juta.

Selanjutnya, sepanjang 2017, industri menjadi penyumbang tertinggi hingga 74,10% dalam struktur ekspor Indonesia dengan nilai mencapai US$125,02 miliar. "Rasio ekspor kita pada periode 2015-2017, produk hilir mendominasi sebesar 78%, sisanya produk hulu. Ini berkat peran dari sektor manufaktur," ungkap Airlangga.

Bahkan, nilai ekspor sektor industri terus mengalami peningkatan, dari US$110,50 miliar pada 2016 dan diperkirakan menjadi US$143,22 miliar pada 2019. Periode Januari-Juni 2018, total ekspor nasional mencapai US$63,01 miliar, naik 5,35% dibanding periode yang sama 2017 yang sebesar USD59,81 miliar.

Peningkatan itu pun didorong kontribusi yang mayoritas dari ekspor industri manufaktur hingga 71,59%. "Dengan menerapkan industri 4.0, aspirasi besar nasional yang akan dicapai adalah membawa Indonesia menjadi 10 besar ekonomi pada 2030 dan mengembalikan angka net export industri 10% dari total PDB," tutur Airlangga.

Kontribusi besar lain dari sektor manufaktur, yakni penerimaan negara dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) industri pengolahan hingga Juli 2018 mencapai 29,9% atau senilai Rp194,36 triliun yang mampu melampaui sektor perdagangan, jasa keuangan, dan pertambangan.

Bahkan, penerimaan tersebut meningkat 12,48% dibandingkan periode yang sama pada 2017. Tiga sektor industri dengan pertumbuhan PPN terbesar, yaitu industri tekstil sebesar 223,46%, industri pakaian jadi sebesar 80,41%, dan industri makanan sebesar 25,81%.

Lebih lanjut, kontribusi signifikan sektor manufakur juga terlihat dari penerimaan cukai nasional yang 90% dari industri hasil tembakau (IHT) senilai Rp149,9 triliun. "Penerimaan cukai rokok itu setara 10% dari target pendapatan pajak 2017 sebesar Rp1.498 triliun. Penerimaan cukai rokok mengalami kenaikan 6% dari APBNP 2016," pungkasnya. [wartaekonomi]

fokus berita : #Airlangga Hartarto


Kategori Berita Golkar Lainnya