27 Agustus 2018

Berita Golkar - Mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Eni Maulani Saragih, menyampaikan, uang suap yang diterimanya terkait proyek PLTU Riau 1, di antaranya Rp 2 miliar digunakan untuk Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar. Eni menyampaikan tersebut kepada wartawan usai pemeriksaan di KPK, Jakarta, Senin (27/8). Adapun Munaslub terakhir Golkar pada 2017 kemarin saat mencari pengganti Setya Novanto sebagai Ketum.

"Yang pasti tadi memang ada yang mungkin saya terima Rp 2 miliar itu sebagian memang saya inikan, gunakan untuk munaslub," ujar Eni. Tersangka Eni diduga kebagian jatah sejumlah Rp 6,2 milyar dari pemegang saham Blackgold Natural Recourses Limited, Johannes B Kotjo. Ia menerimanya bertahap yakni Rp 4 miliar sekitar November-Desember 2017 dan Rp 2,25 milyar pada Maret-Juni 2018.

Eni menjalani pemeriksaan sebagai saksi untuk tersangka Idrus Marham yang sudah dikenalnya sejak di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) hingga Partai Golkar. Ia mengaku telah menyampaikannya kepada penyidik. "Saya katakan, ya saya kenal dari sejak zaman KNPI sampai LPM sampai Golkar dan sebagainya, saya menceritakan semua hal itu," katanya.

Namun, Eni membantah adanya janji sejumlah uang untuk Idrus terkait PLTU Riau 1. Sementara KPK menduga Idrus menerima janji akan mendapat US$ 1,5 juta seperti Eni. Uang tersebut diJanjikan Kotjo bila Idrus dan kawan-kawan berhasil menggolkan proyek PLTU Riau 1 senilai US$ 900 juta. "Enggak-enggak. Kalau itu enggak sampai ke sana, saya sampaikan juga di sini," ujar Eni.

Sementara itu, mantan Ketua DPR RI juga mantan Ketum Partai Golkar, Setya Novanto usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi untuk tersangka Kotjo tak menampik sempet mendengar adanya aliran dana untuk Munaslub Golkar. Namun ia mengaku tak mengetahui proses dan jumlahnya. "Ya saya dengar begitu," ujarnya. [gatra]

fokus berita : #Eni Saragih


Kategori Berita Golkar Lainnya