02 September 2018

Berita Golkar - Kita tidak punya kemewahan di Koalisi pemilihan presiden (pilpres) 2019, itu panggung ramai, panggung kolosal yang semua warna dan segala macam orang ada, dan kita bukan pemimpinnya, sehingga otoritas untuk mewarnainya berat sekali di tengah kumpulan segala macam ormas, partai, dll

Bagaimana memunculkan identitas kegolkaran disitu dan bisa jadi jualan untuk elektoral Golkar? Sementara publik semakin terlatih menyukai hal hal yang spesifik, kalau hanya ikut berdiri-berdiri, ikut rapat di koalisi, hanya jadi jubir dan jadi pengumpul massa, identitas Golkar tidak muncul ke permukaan.

Ini bukan soal suka-tidak suka tapi memang Golkar harus memilih cara sendiri mempromosikan Jokowi dengan cara Golkar. Panggung kolosal koalisi itu bukan tempat menguntungkan bagi elektoral Golkar. Pilihan mendukung Jokowi memang tidak bisa diubah, tapi orang-orang pintar tentu bisa mencari cara menyelam sambil minum air. Bukan malah kita yang dsedot terus

Ingat bukan hanya mendapatkan jabatan, tapi mendukung Jokowi harus bisa dimanfaatkan untuk peningkatan elektoral. Lempar jauh-jauh klo ada kebiasaan di Golkar itu hanya jabatan saja yang ada di kepala. Sekarang ini silahkan saja mendukung Jokowi tapi bagaimana caranya elektoral Golkar naik dan menang pileg.

Bagian apanya Jokowi yang bisa dikapitalisasi Golkar? Kita pergunakan otak pragmatisme kita agar tidak hanya dipakai untuk diri sendiri, tapi dipakai untuk kebesaran partai. Singkirkan Kebiasaan otak pragmatis dan otak ngolah2 hanya untuk diri sendiri dengan kelompok. Partai harus diutamakan agar tidak nyungsep.

Karena itu saya tantang berfikir dan menyusup kepada metodologi pragmatisme yang mengguntungkan bagi kedua duanya bila tak bisa enyahkan pragmatisme. Mari Bung Rebut Kembali!

Samsul Hidayat, Wasekjen DPP Partai Golkar

fokus berita : #Samsul Hidayat


Kategori Berita Golkar Lainnya