04 September 2018

Berita Golkar - Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin diingatkan Ombudsman agar tidak terlalu frontal membela Presiden Joko Widodo (Jokowi). Terkait hal itu, Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai Ali Mochtar Ngabalin perlu memperbaiki gaya komunikasinya. Menurut Dedi, Ali Mochtar seharusnya menggunakan pola komunikasi yang bisa membuat suasana sejuk semua pihak.

Apalagi disaat memasuki tahun politik, dirinya berharap Ali Mochtar Ngabalin bisa lebih santun dalam melemparkan pernyataan-pernyataan. “Mungkin saja dalam kultur Pak Ngabalin pola itu terbilang biasa. Tetapi ini pilpres, seluruh masyarakat bukan hanya kultur masyarakat tempat Pak Ngabalin terlahir. Kita bicara seluruh kultur di Indonesia,” ujar Dedi Mulyadi, Selasa, (4/9/2018).

Dirinya pun mencontohkan bagaimana kultur masyarakat di Pulau Jawa yang tak menyukai komunikasi yang frontal. Menurut Dedi Mulyadi, masyarakat lebih menyukai komunikasi yang tenang tapi argumentasinya kuat. “Publik tidak menyukai karakter frontal. Mereka lebih menyukai karakter penuh ketenangan tetapi dengan argumentasi yang kuat dan tidak terkalahkan,” terangnya.

Selain itu, gaya komunikasi Ali Mochtar juga dinilai dapat mempengaruhi posisi Jokowi di Pilpres 2019. Dikhawatirkan masyarakat bisa beralih tidak menyukai Jokowi karena tidak suka dengan sikap Ali Mochtar Ngabalin. “Kalau gaya komunikasi Pak Ngabalin tetap seperti itu, saya khawatir berdampak terhadap Pak Jokowi. Orang yang tidak suka gaya Pak Ngabalin menjadi tidak suka kepada Pak Jokowi. Ini nanti arahnya soal elektabilitas beliau,” kata Dedi.

Dirinya lantas membeberkan kriteria juru bicara ideal. Menurut Dedi Mulyadi, juru bicara tak harus pintar, namun memiliki pembawaan yang tenang dan santun. Karakter seperti ini, kata dia, sangat disukai calon pemilih. “Banyak orang cerdas tetapi karakternya frontal. Ini publik tidak suka. Tetapi banyak orang yang tidak begitu cerdas tetapi tenang, kalem dan santun. Tokoh seperti ini disukai pemilih,” jelasnya.

Dedi Mulyadi meminta semua pihak dalam tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin untuk sadar bahwa kebutuhan Jokowi saat ini bukanlah popularitas. Tetapi, mencari cara bagaimana mempertahankan agar elektabilitas  tidak tergerus. “Problemnya bukan di popularitas, tetapi bagaimana caranya agar elektabilitas tidak tergerus. Ceruk suara harus dijaga dengan pola komunikasi yang disukai seluruh ceruk suara,” tandasnya. [harianpijar]

fokus berita : #Dedi Mulyadi #Ali Mochtar Ngabalin


Kategori Berita Golkar Lainnya