18 September 2018

Berita Golkar - Wakil Ketua MPR RI, Mahyudin menjelaskan, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) turut mengubah arah Piagam Jakarta. Pemikiran para ulama ini lalu masuk dalam Pancasila dan UUD 1945. “Para Kyai harus sholat istikharah hingga 9 kali, sampai akhirnya sila pertama menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi gak gampang itu,” ujarnya saat sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Pondok Pesantren Miftahul Huda di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Senin (17/9/2018).

Berbeda dengan sekarang. Menurut Mahyudin, undang-undang dibuat di hotel. “Maka itu banyak undang-undang di judicial review. Gimana lah wong bikin di hotel,” kata Mahyudin. Indonesia beruntung memiliki NU karena turut menjaga keutuhan keberagaman. Banyak organisasi menyerukan jihad dengan cara yang salah. “Dalam Islam, jihad itu pertama-tama dengan sumbangan harta seperti Siti Khadijah.” kata mantan Bupati Kutai Timur ini.

Banyak orang salah mengartikan jihad. Mahyudin menuturkan, radikalisme agama bisa mencederai demokrasi. Karena perbedaan bagi Indonesia adalah berkah tersendiri. “Dakwah baik saja, gak perlu suruh orang ngebom. Salah kaprah kalau ngebom lalu masuk surga,” kata dia. Sedangkang, definisi Kafir, menurutnya, bukan berarti tidak beragama. Tapi orang dengan pintu hati masih tertutup. “Semua wajib mendoakan agar hati mereka terbuka.”

Dia memprediksi, sebutan kafir bermuara pada politik identitas. Pilpres mendatang pun jangan sampai membawa agama dalam pertarungan politik. “Santai saja, jangan sampai berbeda pilihan. Jangan sampai suami istri bercerai hanya gara-gara berbeda pilihan dalam Pilpres,” seloroh Mahyudin.

Dalam politik nasional, kata Mahyudin, perlu kesabaran tinggi. Masyarakat harus menyikapi dengan tenang dan cerdas dinamika politik. “Jangan terlalu seriuslah. Ngapain berantem di jalanan hanya gara-gara Pilpres ini. Berdoa saja sama-sama agar Indonesia mendapatkan Presiden terbaik,” pungkas politisi muda Golkar ini. [indopos]

fokus berita : #Mahyudin


Kategori Berita Golkar Lainnya