15 Oktober 2018

Berita Golkar - Ketua Tim Pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin Jawa Barat, Dedi Mulyadi bernazar merobohkan dan membangun kembali seribu rumah janda tua di Jawa Barat jika Jokowi-Ma’ruf Amin terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden di Pilpres 2019. Syaratnya, kata Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Barat itu, seribu rumah tersebut harus memenuhi kriteria tidak layak huni.

Selama ini, mantan Bupati Purwakarta dua periode itu kerap menerima keluhan tentang rumah tidak layak huni (rutilahu) melalui kanal sosial media miliknya. Keluhan itu berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat. “Sok saya mah, Jokowi-Ma’ruf menang, saya robohkan seribu rumah tidak layak huni milik janda tua. Tentu, kita bangun lagi. Ini bentuk keberpihakan kita kepada yang membutuhkan,” kata Dedi, Senin (15/10/2018).

Kesiapan Dedi berasal dari pengalaman dan kebiasaannya yang sudah beberapa kali membangun rutilahu milik janda tua sejak tahun 2003 silam. Dedi berpandangan bahwa membantu sesama tidak boleh berhenti karena tidak memegang jabatan publik. “Tanpa kaum ibu, kita ini tidak akan menjadi apa-apa. Jadi, sudah seharusnya sebagai bentuk rasa syukur kita nanti, emak-emak ini kita perhatikan,” jelasnya.

Selain itu, Dedi mengatakan, Untuk memenangkan Jokowi-Ma’ruf di Jawa Barat, dia sudah menyiapkan sejumlah strategi. Seluruh strategi tersebut akan fokus pada penguatan basis teritorial pemilih. Meskipun, dia tidak memungkiri, perang di media sosial akan tetap dijalankan untuk melawan hoaks.

Basis teritorial yang dimaksud Dedi adalah pembagian wilayah berdasarkan jumlah tempat pemungutan suara (TPS). Setiap TPS akan dihuni tim yang profesional menjaring suara sampai unit sosial terkecil dalam komunitas. “Sering kita temui ada orang saat ditanya apakah bisa memenangkan di TPS sendiri, mereka enggak jawab. Nah, yang seperti ini kita alihkan untuk fungsi lain. Intinya, kita fokus sampai tingkat TPS. Ada 136 ribu TPS di Jawa Barat ini,” jelasnya.

Selain itu, tim Jokowi-Ma’ruf Jawa Barat juga berkomitmen menghilangkan varian acara seremonial. Acara jenis ini, menurut Dedi, sama sekali tidak melahirkan dampak elektoral terhadap kandidat. Sebagai gantinya, ke depan masyarakat dari pintu ke pintu menjadi strategi andalan.

Tim melakukan persuasi secara langsung sehingga tercipta kedekatan personal antara kandidat, tim dan calon pemilih. “Tinggal kita petakan ada jalur merah, kuning dan hijau. Masing-masing kader partai koalisi memiliki cara tersendiri untuk mengolah basisnya secara langsung. Saat masuk ke suatu ceruk, ada caranya,” pungkasnya. [kompas]

fokus berita : #Dedi Mulyadi


Kategori Berita Golkar Lainnya