21 Oktober 2018

Berita Golkar - Survei internal dari PDI Perjuangan mengungkap partai pimpinan Megawati Soekarnoputri ini masih menjadi nomor satu untuk di pemilu legislatif 2019 nanti. Sementara, Partai Gerindra menggerus suara Partai Golkar dan Partai Demokrat.

Hal ini menurut pihak PDI Perjuangan tidak jauh berbeda dengan hasil dari beberapa lembaga survei baru-baru ini yang menunjukkan posisi PDI Perjuangan yang sangat kuat sebagai satu-satunya partai pewaris pemikiran Bung Karno. Persepsi ini merata di seluruh Indonesia dan menjadi magnet yang menyedot Banteng Nasionalis-Soekarnois kembali berlabuh di kandang banteng.

Demikian disampaikan Deddy  Sitorus dari Badan Pemenangan Pemilu DPP PDI Perjuangan, Minggu (21/10/2018). "Dalam pemilu-pemilu sebelumnya, di era reformasi, masih diikuti banyak Partai Soekarnois seperti PDP, PNI Marhaenisme, PNBK, Partai Pelopor dan lainnya,” kata Deddy. Menurut Deddy survei itu menunjukkan bahwa posisi PDI Perjuangan masih tetap teratas dengan elektabilitas di kisaran 24,6% diikuti Partai Gerindra dan Partai Golkar.

Temuan lain yang cukup signifikan menurut Deddy adalah migrasi pemilih dan coat-tail effect dari capres terhadap partai-partai. “Survei menunjukkan bahwa Gerindra mendapatkan keuntungan terbesar dari coat-tail effect itu (pencapresan Prabowo Subianto), sementara partai-partai koalisinya sama sekali tidak mendapatkan dampak yang signifikan dari efek capres” kata Deddy.

Lanjut Deddy, terlihat Gerindra mampu menggerogoti Demokrat dan menarik dukungan dari Golkar mengingat kentalnya Prabowo dengan Orde Baru. Sementara di kubu koalisi Jokowi-Kyai Ma’ruf, PDI Perjuangan memang paling mendapatkan persepsi positif (coat-tail effect) dari Jokowi mengingat kepemimpinan Jokowi sejak Walikota Surakarta, Gubernur DKI Jakarta, dan kini Presiden Indonesia memang teridentifikasi dengan PDI Perjuangan.

Tetapi, lanjutnya, PDI Perjuangan tidak menggerus suara partai-partai dalam koalisi sebagaimana terjadi di koalisi pendungung Capres Prabowo. "PDI Perjuangan menurut hasil survei lebih diuntungkan oleh merapatnya kembali pemilih Soekarno dan tambahan dukungan dari kelompok pemilih pemula atau yang sering disebut dengan kaum milenial dengan angka sekitar 34,8%," terang Deddy.

Hal lain yang menjadi temuan survei internal tersebut adalah migrasi pemilih PKS ke PAN dan tidak signifikannya partai-partai Cendana merebut kursi karena kalah efektif dengan Gerindra yang dinilai hadir sebagai Neo-Orde Baru. Ketika dikonfirmasi terkait hasil survei Demokrat dan Golkar yang suaranya digerus Gerindra, Deddy menjawab dari variabel-variabel yang muncul ada kaitan kuat bahwa ketika Gerindra naik maka Demokrat dan Golkar menurun.

"Sebaliknya, kalau suara Gerindra turun, maka Golkar dan Demokrat yang naik. Jadi dalam konteks ceruk suara yang diperebutkan, memang basisnya sama. Maka kalau Golkar dan Demokrat mau naik, kuncinya adalah bagaimana menurunkan elektabilitas Gerindra," jawab Deddy Sitorus. [gatra]

fokus berita :


Kategori Berita Golkar Lainnya