28 Oktober 2018

Berita Golkar - Penggagas Maumere Jazz Fiesta Flores (MJFF) Melchias Markus Mekeng ‎mengaku mendapat inspirasi dari kota Montreux dan Rotterdam. Kedua kota itu terletak di Eropa. Montreux adalah sebuah kota kecil di Swiss. Sementara Rotterdam terletak di provinsi Holland Selatan‎, Belanda. Mekeng ingin menjadikan kota Maumere sebagai kota jazz dunia seperti Montreux dan Rotterdam.

"Kalau mereka berhasil, kenapa kita tidak. Maumere punya alam yang indah, lingkungan yang bersih, budaya yang masih orisinal. Montreux saja bisa dikenal seluruh dunia, padahal kota kecil di pegunungan. Maumere juga bisa seperti itu. Alam Maumere tidak kalah dengan Montreux dan Rotterdam," kata Mekeng di sela-sela konser MJFF di Grass Track Wairita, Maumere, Minggu (28/10/2018) malam.

Konser Maumere Jazz telah dilakukan dalam tiga tahun berturut-turut. Puluhan ribu penonton menyaksikan konser yang dilakukan di bukit berlatar sunset, laut, dan hamparan pulau yang mengelilingi kota Maumere. Ketua Fraksi Partai Golkar (FPG) DPR ini, menjelaskan kunci Maumere bisa seperti Montreux dan Rotterdam adalah menggelar MJFF secara rutin, tidak boleh muncul-hilang karena akan kehilangan momen dikenang sebagai kota Jazz.

Dia sendiri sudah memulai MJFF sejak tiga tahun lalu. Sejumlah musisi nasional didatangkannya tiap tahun. Dia bermimpi suatu waktu nanti, musisi luar negeri juga bisa terlibat dalam MJFF. "Ini tidak bisa kerja sendiri. Semua pihak harus terlibat, mulai Pemerintah ‎Daerah (Pemda) Kabupaten Sikka, Pemprov hingga Pemerintah Pusat. Pihak swasta juga terlibat. Apa yang saya lakukan hanya pemicu saja," ujar Mekeng.

Dalam pengamatannya, ‎masih banyak hal yang harus dilakukan agar kota Maumere berproses bisa seperti Montreux dan Rotterdam. Persoalan utama adalah penerbangan yang masih sulit dan mahal. Hingga saat ini, belum ada penerangan langsung dari Jakarta ke Maumere. Semua masih transit di Bali maupun Kupang.

"Tiket juga masih sangat mahal. Pulang-pergi Jakarta-Maumere, misalnya, harus keluarkan uang Rp 4-5 juta. Itu baru sendiri. Gimana kalau bawa keluarga, sudah pasti sangat mahal. Ini yang harus diatasi oleh segenap pihak terkait," tutur putra asli kota Maumere ini.

Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah pembangunan infrastruktur jalan, hotel dan restoran. Wisatawan tidak akan datang ke Maumere jika jalan-jalan menuju tempat wisata rusak dan hotel tidak tersedia. Transportasi juga mahal dan sulit dicari.

"Yang tidak kalah pentingnya setiap tempat wisata harus ada tempat Mandi, Cuci, Kakus (MCK) yang bersih. Penginapan dan kuliner juga harus diperbanyak. Toko souvenir perlu dibangun. Itu semua harus disiapkan agar orang berwisata ke Maumere, ada cerita ketika pulang," tutur Ketua Komisi XI DPR ini.

Dia menegaskan MJFF yang digagasnya hanya pendorong saja. Langkah selanjutnya, Pemda dan Pemerintah Pusat serta pihak swasta bisa bersinergi untuk membangun Maumere. "Semakin banyak wisatawan masuk, pendapatan daerah akan meningkat. Kesejahteraan rakyat juga meningkat," tutur Mekeng.

Salah satu musisi pengisi acara itu, Glenn Fredly mendukung ide Maumere sebagai Kota Jazz Internasional dan mendukung MJFF digelar tiap tahun. Namun dia berharap tidak hanya seremonial, tetapi benar-benar bisa membawa perubahan ekonomi masyarakat. "Ide menjadikan Maumere sebagai kota jazz internasional sangat luar biasa. Bagaimana even seperti ini bisa meningkatkan kehidupan masyarakat agar tidak sekedar seremonial," ujar Glenn.

Ketua Penyelenggara MJFF Januarius G Goleng mengemukakan, sejumlah artis nasional meramaikan konser tersebut. Di antaranya Glenn Fredly, Gilang Ramadhan, Reza Artamevia, dan Andien. Lalu, kelompok unik representasi musisi dari Timur Indonesia yaitu Papua Orginal. Ada lagi para musisi yang aktif menggali kekuatan tradisonal yang tergabung dalam Komodo Project yaitu Ivan Nestorman, Adi Darmawan, dan Krisna Prameswara. [tribunnews]

fokus berita : #Melchias Markus Mekeng


Kategori Berita Golkar Lainnya