29 Oktober 2018

Berita Golkar - Wakil Ketua MPR RI, Mahyudin mengatakan, pada jaman dulu bila orang mau naik haji dia harus naik kapal laut. Perjalanan ke Mekkah memerlukan waktu 40 hari. "Lama perjalanan pulang pergi dan saat ibadah membuat para jamaah saat diantar keluarga diiringi tangisan. Karena mereka akan berpisah dalam waktu yang lama," ujar Mahyudin di hadapan anggota Majelis Taklim Husnul Khotimah, Bontang, Kalimantan Timur, Senin (29/10/2018).

Adanya kemajuan teknologi dengan terciptanya pesawat terbang membuat jarak antara Indonesia dan Arab Saudi bisa ditempuh dengan singkat. Ditambah sistem ibadah haji khusus yang menjadikan ibadah lebih singkat tak lebih dari dua minggu. Ringkasnya perjalanan disebut Mahyudin sebagai efek positif kemajuan teknologi. Dicontohkan lagi, adanya alat komunikasi, telepon, membuat jarak bukan halangan.

Siapa saja bisa berkomunikasi dengan yang lain dimanapun dengan cepat. "Dulu yang bisa berkomunikasi jarak jauh hanya wali saja," ungkapnya. Meski ilmu pengetahuan dan teknologi membawa efek positif dan kemajuan namun penggunaan teknologi ini juga mempunyai dampak negatif. Diungkapkan dalam survei di sebuah daerah terbukti 40 persen angka perceraian diakibatkan media sosial. "Media sosial memunculkan hubungan yang lain," paparnya.

Dampak buruk media sosial tidak hanya itu, sekarang juga sering tersebar hoax alias berita bohong. Hoax dibuat oleh orang-orang yang tidak suka dengan keberhasilan orang lain, haters. "Haters adalah orang yang susah melihat orang senang, senang melihat orang susah," tuturnya. Dampak buruk kemajuan teknologi dan globalisasi, menurut Mahyudin adalah salah satu tantangan kebangsaan.

Untuk menangkal yang demikian, MPR melakukan Sosialisasi Empat Pilar. Empat Pilar menurut pria asal Kalimantan itu merupakan alat pemersatu. Indonesia dikatakan memiliki beragam suku, agama, bahasa, dan perbedaan lainnya. "Sama dengan Bontang, di kota ini berbagai suku dan agama ada," ungkapnya.

Sebagai negara yang majemuk, Indonesia perlu bersyukur sebab kita memiliki Pancasila. Dia membandingkan dengan Arab Saudi yang suku dan bahasanya tidak banyak namun mereka selalu didera konflik. "Inilah berkah kedamaian di Indonesia yang patut disyukuri," tuturnya.

Mahyudin mengatakan, dulu ibu-ibu saat sekolah mendapat pelajaran PMP. Namun dalam era reformasi mata pelajaran itu dihapus dan selanjutnya diganti PPKN. "Dulu pelajaran PMP penting, meski matematika dapat nilai 8 kalau PMP dapat 5, ia tidak naik kelas," ungkapnya. Selain PMP, pelajar dan element masyarakat lainnya juga dapat Penataran P4.

Setelah era reformasi, untuk lebih menggiatkan dan menanamkan kembali Pancasila, MPR melakukan sosialisasi. "Ini merupakan amanat UU MD3," tegasnya. Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, perlu disosialisasikan sebab menurut Mahyudin untuk menjawab tantangan seperti di atas. Sosialisasi Empat Pilar ditujukan kepada seluruh masyarakat. [rmol]

fokus berita : #Mahyudin


Kategori Berita Golkar Lainnya