01 November 2018

Berita Golkar - Tuti Tursilawati, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Majalengka menjadi PMI kelima yang dieksekusi mati Arab Saudi, selama 2011-2018. Catatan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), sepanjang periode itu pemerintah Indonesia berhasil membebaskan 85 dari 103 PMI yang terancam hukuman mati. Dari 18 yang masih terancam hukuman mati, lima di antaranya termasuk Tuti, sudah dieksekusi.

Sehingga, sampai hari ini masih ada 13 PMI yang terancam hukuman mati. Menanggapi hal itu, Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid mengatakan, sampai saat ini pemerintah masih berupaya, salah satunya melakukan pembicaraan dengan keluarga korban (tindak pidana para PMI). Pemerintah Indonesia berharap dengan cara itu hukuman bagi para PMI ini bisa lebih ringan.

“Satu-satunya jalan hanya dengan cara minta pengampunan kepada pihak keluarga yang ditinggal,” ujar Nusron, Kamis (1/11/2018). Politisi Partai Golkar ini menjelaskan, hukuman mati di Arab Saudi terbagi dua jenis. Pertama, hukuman mati akibat pidana aammah atau merugikan umum. Kedua, hukuman mati akibat pidana khassah, seperti membunuh individu.

Bila PMI terkena hukuman mati pidana aammah pemerintah bisa melobi Arab Saudi. Tapi kalau PMI melakukan pidana khusus dan dikenai hukuman mati, satu-satunya jalan hanya minta pengampunan pihak keluarga yang ditinggal (yang dibunuh). “Kalau belum berketetapan, langkah pemerintah memberikan pendampingan hukum, dengan mencarikan novum baru yang menyakinkan agar membantu pihak korban,” pungkasnya.

Sebelumnya, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhamad Iqbal menuturkan, masih ada 13 warga negara Indonesia (WNI) terancam hukuman mati di Arab Saudi.  Dari jumlah tersebut, pemerintah berhasil membebaskan 85 WNI. Lalu, sebanyak 5 WNI telah dieksekusi salah satunya Tuti Tursilawati pada Senin (29/10/2018).

Adapun 13 WNI lainnya masih terancam. Menurut Iqbal, dari 13 WNI tersebut, yang mendapat hukuman berat adalah Eti binti Toyib, PMI asal Majalengka, Jawa Barat. Eti mendapat hukuman mati qisas yang satu tingkat lebih berat dari ta’zir. Artinya, kata Iqbal, yang bisa memaafkan adalah ahli waris korban. [fajar]

fokus berita : #Nusron Wahid


Kategori Berita Golkar Lainnya