10 November 2018

Berita Golkar - Ketua Tim Pemenangan Jokowi-Ma'ruf Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi menerapkan skema operasi semut untuk memenangkan pasangan capres-cawapres nomor urut 01 tersebut. Skema ini diterapkan di seluruh Jawa Barat, provinsi dengan pemilih terbanyak di Indonesia. Diketahui pada Pilpres 2014 lalu, Jokowi harus mengakui keunggulan Prabowo di Jawa Barat yang menjadi lumbung suara nasional.

Skema operasi semut ini dibeberkan Kang Dedi, sapaan Dedi Mulyadi saat bertemu Jokowi dan simpatisan serta seluruh calon anggota legislatif (caleg) dari partai pengusung pasangan Jokowi-Ma'ruf di Hotel Asrilia, Bandung, Sabtu (10/10/2018). Dengan skema operasi semut, relawan dan caleg partai pendukung bergotong-royong mendatangi masyarakat dari pintu ke pintu.

“Fokus tim, relawan dan caleg partai pengusung adalah mendatangi warga Jawa Barat door to door. Gotong-royong, operasi semut untuk kemenangan Jokowi-Ma’ruf, ini kita lakukan. Semut mah kan gak perlu berton-ton gula, cukup sesuai kebutuhan,” kata Dedi, Minggu (11/11/2018). Dedi menjelaskan, gula yang dimaksud adalah menyampaikan program secara mikro sesuai kebutuhan rakyat di daerah pemilihan.

Hal ini sangat penting karena berkaitan dengan keseharian rakyat sendiri. “Perumahannya diperhatikan, bahan pokok, Sarjana PKH (program keluarga harapan) diperbanyak dan pembangunan infrastruktur. Kemudian, pelayanan kesehatan dan administrasi negara yang mampu menjangkau pelosok. Ini lebih penting dibandingkan bahasan yang tinggi-tinggi itu,” jelasnya.

Dikatakan semangat gotong-royong masyarakat Jawa Barat sudah menjelma di keseharian. Tim kampanye tidak perlu menyodorkan konsep dan gagasan yang tidak dimengerti. Program yang mudah dicerna harus menjadi orientasi tim di lapangan untuk disampaikan. “Saya akan menyematkan iket sunda kepada Pak Jokowi. Ini simbol agar pikiran dan hati bersatu. Sehingga, kampanye kita kepada masyarakat murni berdasarkan data, bukan asal ngomong,” tegas Dedi.

Analogi semut kembali diungkapkan Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Barat tersebut. Perumpamaan itu ternyata senada dengan kemeja yang dikenakan Dedi yang bermotif semut. “Mengurus gajah itu cukup sekali karena yang terpenting adalah ngurus jutaan semut di Jawa Barat. Sarang semut tidak boleh ditutupi beton karena nanti semutnya akan meninggalkan kita semua,” katanya.

Untuk memenangkan Jokowi-Ma'ruf ini, Dedi berkolaborasi dengan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Duet ini sudah bersepakat membagi segmentasi pemilih untuk digarap. “Saya fokus di pedesaan, kultur, budaya dan lain-lain. Kalau Pak Ridwan Kamil fokus di wilayah perkotaan dengan isu milenial,” ucapnya.

Dengan skema operasi semut dan duetnya dengan Kang Emil, sapaan Ridwan Kamil, Dedi optimistis pasangan Jokowi-Ma'ruf bakal menang besar di Tatar Sunda. “Hasil survei terbaru kan Jokowi-Ma’ruf menang tipis. Nah, lima bulan ke depan pasti kita menang tebal, bukan hanya di Jawa Barat tetapi di nasional,” kata Dedi optimistis.

Optimististis mantan Bupati Purwakarta tersebut bukan tanpa dasar. Dedi bersama tim pemenangan Jokowi-Ma'ruf di Jawa Barat sudah membuat perhitungan kualitatif maupun kuantitatif. Secara angka, Jokowi berangkat dari persentase suara di bawah Prabowo pada Pilpres 2014 lalu. Sementara secara kualitatif, saat itu kiprah Jokowi di Jawa Barat relatif belum terpublikasi secara massif.

Iklim pada pilpres lalu itu kini berbanding terbalik. Sosialisasi tim dan relawan berhasil melebarkan ruang kesadaran publik Jawa Barat tentang kinerja mantan Gubernur DKI Jakarta itu. Hal ini berdampak pada elektoral Jokowi-Ma’ruf yang untuk sementara unggul dari pasangan Prabowo-Sandi.

“Masalahnya tinggal meredam gerakan kampanye hitam saja. Jawa Barat ini termasuk rentan disusupi konten isu sejenis itu. Caranya, kita lawan dengan isu berisi konten positif. Kinerja Pak Jokowi terus menerus kita sosialisasikan. Jadi, tidak boleh ada kampanye hitam terhadap kompetitor,” paparnya. [beritasatu]

fokus berita : #Dedi Mulyadi


Kategori Berita Golkar Lainnya