17 November 2018

Berita Golkar - Tersangka dugaan pelecehan topi adat Lampung Saibatin, Seno Aji, akhirnya buka suara terkait kasus yang menimpanya. Ia kembali menyampaikan permohonan maaf dan akan menjadikan kasus ini pembelajaran. "Ada hikmah yang baik untuk pribadi saya ketika masalah ini muncul. Saya hanya manusia biasa. Sekali lagi, dari hati yang paling dalam, saya minta maaf," kata Seno, Sabtu (17/11/2018) pagi.

Seno pun berharap masalah ini bisa selesai secara kekeluargaan. Bahkan, ia ingin semakin mendekatkan diri dan menjadi bagian dari keluarga besar adat Lampung, khususnya Saibatin. "Saya juga cinta dengan adat dan budaya Lampung. Dengan adanya masalah ini, justru memunculkan hasrat saya jadi bagian dari keluarga besar adat Lampung, khususnya Saibatin," ujarnya.

"Saya akan menemui lagi tokoh-tokoh adat. Harapannya, masalah ini segera selesai secara kekeluargaan dan tercapai perdamaian," kata calon anggota legislatif DPRD Bandar Lampung dari Partai Golkar itu. Sementara Amir Faizal Sanjaya, pelapor kasus dugaan pelecehan topi adat Saibatin, mengungkap akan ada pertemuan Rabu (21/11/2018) pekan ini. Agendanya, jelas dia, membicarakan mengenai antak (pengakuan) salah dari Seno Aji.

"Rencananya, Rabu ada pertemuan adat di Lampung Selatan membicarakan soal antak SA (Seno Aji) dalam konteks adat. Akan hadir kurang lebih 300-500 orang," katanya, Minggu (18/11/2018). Pertemuan itu, menurut Amir, atas keinginan Seno. Tokoh-tokoh adat pun, akan menerima sowan itu. Namun, ia menyatakan pertemuan tersebut hanya terkait adat, bukan hukum. "Pertemuan Rabu nanti bicara adat. Pengakuan salah dari SA secara adat," ujarnya.

"Tapi, bukan bicara hukum. Untuk proses hukum, kami hargai prosesnya," sambung Amir. Ia pun berharap pertemuan adat nanti berjalan sesuai koridor adat yang ada. "Dan mudahan-mudahan ini menjadi pembelajaran bagi semua masyarakat untuk tidak bermain-main dengan urusan adat," imbuhnya.

Panglima Alif Jaya dari Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong Wilayah Selatan atau Way Handak mengungkap adanya pertemuan antara Seno Aji dengan keluarga Kerajaan Sekala Brak di Gedung Dalom, Bandar Lampung, Kamis (15/11) lalu. Dalam pertemuan itu, jelas dia, Seno menyampaikan permintaan maaf.

"Intinya begini. Saudara Seno Aji datang ke keluarga besar kami. Beliau menyampaikan niat baik, permintaan maaf," kata Panglima Alif Jaya, Jumat (16/11/2018). Meski demikian, ungkap Panglima Alif Jaya, pihak adat yang mengikuti pertemuan itu belum mengambil keputusan. 

"Karena ini menyangkut keluarga besar, masih akan ada musyawarah bersama para pangeran," ujarnya. "Saran paduka, kalau yang bersangkutan minta maaf, harus kami maafkan. Tapi, bukan berarti menghentikan proses hukum. Permintaan maaf pun ada prosesi adat dan ada tahapannya," imbuh Panglima Alif Jaya. 

Kejaksaan Tinggi Lampung telah menerima pelimpahan berkas dari Polda Lampung terkait kasus dugaan pelecehan topi adat Lampung. Namun, kejati mengembalikan berkas itu karena belum lengkap. "Polda sudah mengirim berkas atas nama Seno Aji ke kejati. Jaksa memiliki waktu 14 hari meneliti berkas," kata Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Lampung Agus Ari Wibowo, Jumat (16/11/2018). "Tapi, jaksa mengembalikan berkas ke polda," sambungnya.

Terkait apa yang belum lengkap dari berkas perkara tersebut, Ari tidak menjelaskan secara rinci. "Petunjuk selengkapnya, di penyidik. Jaksa masih punya waktu dalam tujuh hari," ujarnya. Pengamat Tony Wijaya mengingatkan agar masyarakat harus cerdas menggunakan media sosial maupun aplikasi percakapan. Perhatikan secara seksama apa yang menjadi konteks dari unggahan di medsos maupun grup-grup aplikasi percakapan.

Jangan sampai melakukan tindakan spontan yang akhirnya merugikan diri sendiri. Apalagi bagi pejabat publik ataupun calon pejabat publik. Secara tidak sadar, pejabat publik ataupun calon pejabat publik akan menjadi sorotan.
Kalaupun ingin membicarakan tentang SARA (suku, agama, ras, antargolongan), hati- hati dan harus ada etika. Cermati tulisan ataupun gambar. Sebab, walaupun bercanda, bisa saja bermasalah.

Etika itu sama halnya dengan moralitas. Selain itu, juga ada hukum legal dalam Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Kalau sudah melanggar etika ketika mengunggah tulisan ataupun gambar, maka pasti akan dekat dengan hukum. Makanya, dalam literasi bermedia sosial itu, ada juga etika hukum. [tribunnews]

fokus berita : #Seno Aji


Kategori Berita Golkar Lainnya