08 Desember 2018

Berita Golkar - Golkar diprediksi masih tetap akan berkutat sebagai partai papan atas di Pemilu Legislatif 2019. Pengalaman sebagai partai besar menjadi tolak ukur meski sejumlah hasil lembaga survei meramalkan Golkar akan terlempar dari dua besar. Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno mengatakan, Golkar tetap sebagai partai modern dengan kekuatan mesin politiknya sudah teruji.

"Golkar itu partai besar, modern. Mesin politiknya solid dan tak pernah tergantung pada tokoh tertentu. Karenanya setiap pemilu Golkar pasti masuk 2 besar," katanya, Sabtu (8/12/2018). Dia menambahkan, dengan mesin kader yang teruji, Golkar dinilainya mampu menghadapi turbulensi politik. Faktor basis pemilih yang loyal juga menjadi kelebihan lain Golkar.

"Golkar terbiasa menghadapi turbulensi politik yang dahsyat. Karenanya meski misalnya ada kadernya bermasalah dalam hukum, Golkar tetaplah Golkar yang berdiri kokoh dalam pusaran demokrasi elektoral," jelasnya. Golkar punya kedekatan dengan masyarakat pemilihnya. Kata Adi, tak ada masalah meski Golkar tak kecipratan coattail effect atau efek ekor jas di Pilpres 2019. Sebab, Golkar tak punya kader yang menjadi capres atau cawapres.

"Sekalipun tak punya jagoan pilpres, mesin politik Golkar tetap kuat karena nilai-nilai perjuangannya terinternalisasi dengan baik," ujarnya. Di era Reformasi, Partai Golkar masih stabil nangkring di posisi atas di setiap penyelenggaraan pemilu. Bahkan, di Pileg 2004, Golkar meraih suara terbanyak dengan 24,4 juta atau 21,58 persen. Di Pileg 2014, Golkar stabil di posisi atas menempati dua besar dengan perolehan suara 18,4 juta atau 14,75 persen. [merdeka]

fokus berita :


Kategori Berita Golkar Lainnya